Consumer Confidence yang Dibutuhkan Indonesia Saat Ini

Jakarta (9/7): World Bank mengadakan acara peluncuran buku Laporan Triwulanan Perkembangan Perekonomian Indonesia pada Juli 2015 ini. Dengan judul “Indonesia Economic Quarterly (IEQ) Juli 2015: Slower gains”, acara ini bertempat di Soehanna Hall, Enegery Building lantai 2 SCBD Jakarta, hari Rabu (8/7) kemarin. Dalam peluncuran buku ini juga diadakan presentasi data dan analisa terkini mengenai perkembangan makro ekonomi termasuk juga perkembangan infrastruktur dan Investasi di Indonesia serta diskusi panel.

Opening remarks dibacakan oleh Rodrigo Chaves, Country Director for Indonesia, World Bank. Beliau menyampaikan saat ini Perekonomian Indonesia mengalami beberapa hambatan yang membuat kemajuan berjalan perlahan, tetapi belanja lebih besar untuk infrastruktur yang menjadi prioritas serta berlanjutnya reformasi pendapatan dan iklim usaha bisa mempercepat pertumbuhan.

Sedangkan dalam sesi Presentasi Ndiame Diop, Lead Economist, World Bank menyampaikan sejak dari hari pertama pemerintahan baru telah mengumumkan beberapa lengkah kebijakan penting dan besar terkait reformasi ekonomi. Namun sejauh ini hasil dari reformasi ekonomi tersebut belum sebesar dari yang diharapkan dan ekonomi Indonesia masih mengalami perlambatan. Dan World Bank untuk tahun 2015 memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia menjadi sekitar 4,7%. Dengan asumsi investasi swasta di quartal 2 akan melemah tapi sebaliknya investasi pemerintah akan naik pada paruh kedua tahun ini.

Ndiame juga menyampaikan secara umum perkembangan perekonomian negara-negara berpenghasilan menengah tumbuh dibawah rata-rata pertumbuhan selama 10 tahun terakhir. Indonesia bisa dibandingkan dengan Brasil, Afrika Selatan dan Rusia yang juga mengalami perlambatan karena terkena dampak dari turunnya harga komoditas dan permintaan dari Cina. Menurut Ndiame, Indonesia sangat berhasil dalam merespon dan mengantisipasi terjadinya guncangan ini dengan baik, sehingga tetap tumbuh dan berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan negara-negara eksportir komoditas pada umumnya. Agar Indonesia kembali tumbuh di atas 5% dan bisa lebih tinggi yang dibutuhkan saat ini adalah mengembalikan kepercayaan konsumen, kemudian implementasi proyek-proyek prioritas tinggi pemerintah dan juga komunikasi yang konsisten mengenai kebijakan pemerintah untuk membantu menjaga ekspektasi masyarakat, reformasi fiskal untuk meningkatkan penerimaan negara, belanja infrastruktur serta konsistensi peraturan yang terkait persaingan usaha investasi perdagangan akan membantu proses peningkatan ini.

Acara dilanjutkan dengan diskusi panel yang di isi oleh 3 pembicara yaitu Suahasil Nazara, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI, Bernadus Djonoputro Ketua Asosiasi Perencanaan Indonesia, Ari Kuncoro Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Suahazil menyampaikan bahwa pemerintah tetap Optimis dengan melihat Outlook ekonomi di tahun 2015 dibandingkan tahun 2014 walaupun proyeksi terbaru tidak seterang itu sebelum menghadapi ketidakpastian, Perlambatan Pertumbuhan sudah menjadi fenomena umum namun Indonesia punya kesempatan yang lebih bagus untuk kembali ke arah pertumbuhan yang semula. Hal ini karena kita bisa memanajemen ekonominya dengan baik, ini dibuktikan dengan adanya peningkatan diperingkat kredit untuk Indonesia meskipun dalam ketidakpastian global dimana kita juga mengalami harga komoditas yang rendah. Meskipun menghadapi tantangan global, Indonesia masih dianggap sebagai negara yang mempunyai prospek ekonomi yang sangat bagus. Kemudian penerbitan Obligasi Pemerintah selalu diterima dengan baik oleh investor, ini akan membantu mengamankan dukungan positif bagi anggaran dengan kepercayaan investor tetap tinggi di Indonesia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini telah diperkirakan, tetapi hanya sementara, sehingga pemerintah lebih optimis prospek untuk sisa tahun 2015 dengan didukung oleh kebijakan fiskal yang kuat dan meningkatkan pencairan anggaran. Dengan berbagai terobosan kebijakan ekonomi diharapkan pertumbuhan PDB triwulan pada 2015 akan berbeda. Pertumbuhan diproyeksikan lebih tinggi dari realisasi kuartal pertama. Dengan adanya Poin penting dalam revisi anggaran 2015 terutama di bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan untuk tetap menjaga tingkat defisit yang aman dan Pemerintah bersama otoritas fiskal memperkenalkan berbagai stimulus untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dalam mempertahankan dan mempercepat momentum pertumbuhan. Indonesia juga dibantu dengan adanya kepercayaan pasar domestik yang kuat ditunjukkan dengan harapan masa depan yang positif. Dan yang kita butuhkan saat ini salah satunya adalah Consumer Confidence dan Pemberitaan yang positif di seluruh media nasional.

Ari Kuncoro menyampaikan bahwa saat ini adalah waktu yang sangat tepat untuk melakukan deep reform secara struktural dari ekonomi Indonesia. Ari juga menyampaikan bahwa salah satu hal yang potensial untuk membantu pertumbuhan Indonesia ada di sektor jasa terutama Pariwisata, Pertanian dan Perdagangan. Pariwisata dianggap belum digarap secara maksimal karena masih kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia, padahal ini sangat potensial. Bernadus Djonoputro menyampaikan saat ini perkembangan ekonomi Indonesia jangan hanya dilihat terpusat di pulau jawa karena berdasarkan data yang dipaparkan bahwa banyak pulau-pulau lain di Indonesia mulai menunjukan tren pertumbuhan yang sangat bagus seperti Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan, hal ini bisa di lihat dari inflasi per daerah dimana daerah yang menghasilkan komoditas andalan yang saat ini harganya volatile sangat erat dengan inflasi. Setelah semua pembicara menyampaikan pandangannya, acara kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab oleh peserta.(gh/as)