Diskusi Proyeksi Stabilitas Sektor Keuangan

Jakarta (02/10): Krisis Yunani, pelemahan perekonomian dan rezim baru nilai tukar Tiongkok, dan penundaan kenaikan suku bunga The Fed merupakan beberapa hal besar yang terjadi pada tahun ini yang membuat pasar semakin diliputi oleh ketidakpastian. Pengaruh ketiganya terhadap situasi global pun diyakini tidak akan berhenti di tahun 2015 saja. Sehubungan dengan hal tersebut, Badan Kebijakan Fiskal mengadakan Diskusi Proyeksi Stabilitas Sektor Keuangan. Bertempat di Ruang Rapat Gazebo Besar, Gedung R.M. Notohamiprodjo, Badan Kebijakan Fiskal, diskusi ini menghadirkan narasumber Destry Damayanti, ekonom yang juga anggota Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan dan dimoderatori oleh Anton H. Gunawan, ekonom yang juga menjadi advisor pada Australia Indonesia Partnership for Economic Governance (AIPEG).

Dalam paparannya Destri Damayanti mengatakan bahwa saat ini pasar sedang dalam kondisi jittery atau gugup karena banyaknya faktor yang sulit diprediksi. Saat ini faktor utama  yang menyebabkan kondisi ini adalah kondisi China yang sedang menurun. Tetapi ada kesempatan dibalik situasi ini, Cina yang  menurun kondisi perekonomian dalam negerinya, mulai berusaha menginvestasikan modal yang dimilikinya di negara-negara lainnya. Bila Indonesia mampu menerapkan kebijakan yang tepat maka dana segar dari China dapat dibawa masuk ke Indonesia dan hal ini akan membawa keuntungan yang sangat besar bagi Indonesia. Terlebih lagi  kondisi perekonomian Indonesia yang secara garis besar lebih baik ketimbang rata-rata negara berkembang lainnya. Sebagai perbandingan, Brazil dan Rusia saat ini sedang mengalami resesi ekonomi dan Malaysia mengalami ketidakstabilan politik.

Lebih lanjut Destri menambahkan saat ini Pemerintah bekerja sama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan harus berhati-hati mengeluarkan kebijakan. Kebijakan yang diambil haruslah kebijakan yang mampu meyakinkan dan menenangkan pasar. Jangan sampai kondisi Indonesia yang sebenarnya bagus malah turun karena sentimen negatif yang berkembang di pasar. (PS)