Indonesia Sharia Economic Festival 2015
Jakarta (10/11): Dalam rangka mendorong peran Indonesia untuk menjadi pusat pengembangan perekonomian syariah dunia, Bank Indonesia kembali menggelar Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang pada tahun ini mengusung tema empowering Islamic economic and finance for prosperity of the nation di Surabaya pada tanggal 27 Oktober s.d. 1 November 2015. Acara tersebut diikuti oleh berbagai lembaga pemerintah, akademisi, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha yang terkait dengan ekonomi shariah di Indonesia di mana Bank Indonesia berperan sebagai penyelenggara kegiatan.
ISEF 2015 terbagi menjadi dua agenda besar, yaitu Sharia Economic Forum dan Sharia Fair. Sharia Economic Forum merupakan rangkaian kegiatan yang diselengggarakan dalam rangka mengedukasi dan meningkatkan kapasitas pemahaman peserta terkait dengan keuangan syariah. Kegiatan berlangsung selama empat hari (27 s.d. 30 Oktober 2015) bertempat di Hotel JW Marriott. Hari pertama dibuka dengan seminar tentang Kebijakan Strategis Pemerintah Daerah dalam Mengakselerasi Perkembangan Ekonomi Syariah. Kemudian di hari kedua, terdapat dua kegiatan yaitu Edukasi Keuangan Syariah untuk Pengusaha dan High Level Panel Discussion.
Pada sesi High Level Panel Discussion, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional, Andin Hadiyanto, memaparkan tentang Sukuk negara untuk Pembiayaan Proyek. Dalam paparannya, Andin Hadiyanto menyampaikan perkembangan penerbitan sukuk negara yang mencapai lebih dari Rp370 triliun. Selain itu, outstanding sukuk negara yang berdenominasi dollar Amerika merupakan yang terbesar di dunia dengan nilai USD7000 miliar. Andin Hadiyanto menyampaikan bahwa terdapat dua hal yang perlu diperhatikan untuk project financing dengan menggunakan sukuk. Pertama, komitmen pemerintah untuk mengembangkan project financing sukuk yang didukung oleh stakeholders yang terkait, termasuk DPR dan Dewan Syariah Nasional. Kedua, penyiapan proyek yang baik dan pelaksanaan proyek yang disiplin, taat aturan dan tepat waktu.
Pada hari kedua pukul 18.00, rangkaian kegiatan ISEF 2015 secara resmi dibuka oleh Menteri Keuangan, Bambang P.S. Brodjonegoro, bertempat di lapangan Makodam V Brawijaya. Pembukaan tersebut secara simbolis dilakukan dengan pemukulan beduk oleh Menteri Keuangan bersama dengan Gubernur Jawa Timur dan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia. Acara pembukaan dilanjutkan dengan Shalawatan yang diikuti oleh para ulama/syekh dan kurang lebih 2000 santri dari berbagai Pondok Pesantren yang ada di Provinsi Jawa Timur. Dalam sambutannya, Menteri Keuangan menyampaikan bahwa perkembangan ekonomi syariah di Indonesia telah memasuki dekade ketiga ditandai dengan peran sukuk negara yang menguat. Hal tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara penerbit sukuk terbesar di dunia.
Selanjutnya di hari ketiga dan hari keempat, kegiatan Sharia Economic Fair diisi dengan agenda-agenda menarik lainnya seperti International JIMF Call for Paper, FGD Pemberdayaan Ekonomi Pesantren dengan tema Kunci Sukses Pengembangan Ekonomi Nasional, Seminar Layanan Non Tunai untuk Pembayaran wakaf infak & sadaqah PEKI, dan Seminar on Regulatory Framework for Islamic Social Finance.
Di tempat yang berbeda, juga diselenggarakan Sharia Fair yang dimulai pada tanggal 29 Oktober s.d. 1 November 2015 di Empire Palace. Kegiatan tersebut melibatkan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Pemda, BUMN, Perbankan dan Lembaga Keuangan Syariah, IKNB Syariah, Pondok Pesantren dan UMKM. Adapun produk-produk yang dipamerkan dan dipromosikan pada kegiatan tersebut meliputi produk finance, fashion, makanan, fantrepreneur, dan fundutaiment. Selain pameran-pameran berbagai macam produk, pada Sharia Fair tersebut juga diadakan berbagai seminar dan talkshow dengan tema-tema yang berkaitan dengan perniagaan berbasis syariah, seperti Seminar Nasional Potensi Wisata Berbasis Syariah di Indonesia, Talkshow Wirausaha Mandiri dan Kreatif dari Pesantren, Seminar Pengembangan Inkubator Bisnis untuk Pesantren, dan Talkshow Strategi Pemasaran Produk Makanan Halal.
Memanfaatkan momentum tersebut, Kementerian Keuangan diwakili oleh Badan Kebijakan Fiskal mensosialisasikan penyelenggaraan perhelatan internasional Sidang Tahunan Islamic Development Bank ke-41 yang akan diselenggarakan pada tahun 2016 di Indonesia. Sosialisasi tersebut diperlukan untuk membangun sinergi dari semua pihak untuk menyukseskan Sidang Tahunan IDB ke-41 tahun 2016 agar manfaat yang diperoleh dapat optimal bagi negara-negara anggota IDB pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Dari daftar buku tamu dapat dilihat pengunjung booth Sidang Tahunan IDB ke-41 tersebut cukup antusias, baik para mahasiswa, masyarakat umum, bahkan para ulama yang tertarik untuk mengetahui Sidang Tahunan IDB ke-41, seperti KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. (wk)



