Sektor Manufaktur Kunci Untuk Membantu Pertumbuhan Ekonomi
Jakarta (23/11): Menteri Keuangan Bambang P.S Brodjonegoro memberikan update perkembangan perekonomian terkini pada acara Analyst Meeting yang di selenggarakan di Aula Mezzanine Gedung Djuanda I Jakarta (20/11). Acara ini dihadiri oleh para Analyst dan Economist, serta dihadiri oleh perwakilan World Bank, ADB, IMF dan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan.
Dalam paparannya Menteri Keuangan menyampaikan bahwa Pemerintah mempunyai dasar yang kuat kenapa banyak paket kebijakan ekonomi diterbitkan. Saat ini sudah ada VI paket kebijakan ekonomi yang diterbitkan oleh pemerintah dengan tujuan untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkesinambungan. Menkeu mengatakan bahwa pemerintah saat ini menginginkan kegiatan ekonomi berjalan dengan baik dan stabil.
“Kenapa paket ini harus dikeluarkan, karena ada alasan jangka pendek dan jangka menengah panjang. Jangka pendek kita berhadapan dengan perlambatan pertumbuhan global. Sudah clear perkiraan pertumbuhan dunia tahun ini adalah 3,1%, di bawah tahun lalu yang mencapai 3,4%. Sedangkan di 2106 diproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,6%. Tentunya masih akan ada perbaikan, karena ini sifatnya masih prelimenary harapan dari IMF, dan tentunya ini perlu ada review dari waktu ke waktu” tegas Menkeu.
“Sedangkan tujuan jangka menengah panjang dari kebijakan itu adalah kita memahami perlambatan ekonomi ini salah satunya karena adanya ketergantungan Negara kita yang luar biasa terhadap komoditas. Ekspor kita pada 2013-2014 prestasinya dibilang bagus, ini karena harga komoditas pada periode itu sangat tinggi. Jadi prestasi ini sangat di-drive dengan harga komoditas yang lagi bagus-bagusnya di pasar internasioanal seperti tambang dan perkebunan” lanjut Menkeu.
Menkeu juga menyampaikan berbagai tekanan yang dihadapi Indonesia tidak terlepas dari faktor terjadinya berbagai pergeseran fundamental dalam perekonomian dunia. Jika Indonesia tetap mengandalkan perekonomian pada sektor produk komoditas untuk menjadi tulang punggung perekonomian. Maka akan sangat mudah untuk terkena goncangan dimana harga komoditas tidak stabil dan sangat volatile dan fluktuatif.
“Ada sesuatu yang harus diubah pada struktur ekonomi kita, supaya bisa terus maju. Jawabannya adalah pada sektor manufaktur atau melakukan reindustrialisasi seperti pada periode 90-an supaya ada nilai tambah dari produk ekspor. Kita berupaya membuat paket kebijakan ekonomi ini dalam beberapa term, short term and long term. Supaya bisa merubah struktur yang ada saat ini. Selama kita tidak menemukan pengganti komoditas akan sulit untuk perekonomian kita bersaing”.
Selanjutnya Menkeu menambahkan, salah satu negara utama tujuan ekspor Indonesia adalah China. Dimana China saat ini mengalami over investment, karena hampir semuanya sudah bisa dipenuhi di dalam negeri dimana infrastrukturnya sudah baik, masyarakat tabungannya cukup tinggi. Untuk itu China ingin merubah struktur ekonominya dari Investment base menjadi Consumption base, untuk bisa menggerakkan perekonomian mereka.
Lebih lanjut Menkeu menyampaikan “Perlambatan ekonomi China saat ini bukan karena besaran pertumbuhan ekonominya, tetapi karena ada perubahan struktur tadi. Ekspor kita berupa komoditas sedangkan negara yang mengubah Investment base menjadi Consumption base, tidak butuh barang-barang komoditas tetapi justru lebih final produk atau konsumsi, untuk mendorong konsumsi dalam negeri sebagai penggerak pertumbuhan ekonominya. Kita bisa bandingkan ekspor negara lain ke China misalnya, lihat Malaysia dan Thailand ekspor mereka justru naik, karena mereka ekspornya berupa final produk bukan komoditas” tutup Menkeu. (gh/pgs)





