Fiscal Reform to Support Strong and Equitable Growth: Striking The Right Balance

Bali, (10/12): Setelah melalui rangkaian pre-heating sejak bulan November 2015, seminar internasional kebijakan fiskal yang ke-3 akhirnya digelar. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tema yang diangkat tahun ini yaitu “Fiscal Reform to Support Strong and Equitable Growth: Striking The Right Balance” dirancang lebih spesifik untuk mengatasi isu ketimpangan ekonomi yang tidak hanya melanda Indonesia tetapi juga negara-negara berkembang lainnya.

Seminar diadakan sebagai forum untuk para akademisi, sektor swasta, dan pembuat kebijakan untuk mengidentifikasi kebijakan terkait penerimaan, belanja dan pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Indonesia sehingga Indonesia dapat terhindar dari middle income trap. Seminar yang bertempat di Nusa Dua Bali ini dibuka oleh Mardiasmo, Wakil Menteri Keuangan. Dalam sambutannya, Mardiasmo mengatakan bahwa untuk keluar dari middle income trap, sebuah negara harus dapat menentukan strategi untuk membuat proses baru dan menemukan pasar baru agar pertumbuhan ekspor tetap terjaga. Selain itu, negara tersebut juga harus menjadi negara yang lebih produktif dan dapat berkompetisi dengan negara lain. Ia mengungkapkan untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, infrastruktur dan teknologi yang memadai serta kelembagaan yang baik. Tentu saja harapan tersebut sangat bergantung pada dasar kebijakan fiskal yang dibuat.

“To become more productive and competitive, a country should improve its skills and human capital formation, infrastructure, technology, and institutional development. Of course, all of these are dependent on sound fiscal policy foundations” terang Mardiasmo. Lebih lanjut ia menjelaskan Indonesia memperoleh kembali status middle income pada tahun 2003 dan tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia pun moderat. Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan, salah satunya dengan mengeluarkan paket kebijakan. Di samping itu, Pemerintah juga terus berupaya memperbesar ruang fiskal dengan meningkatkan penerimaan negara melalui penguatan kepatuhan pajak, mengalokasikan belanja ke sektor produktif seperti infrastruktur, transfer daerah, bantuan sosial, serta membuat strategi pembiayaan yang efektif.

Mardiasmo berharap hasil akhir seminar yang berupa strategi dan rekomendasi kebijakan, dapat diimplementasikan dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. “At the end of this forum hopefully we will have various strategic options and policy agenda which might be useful to be implemented in the next few years” ungkap Mardiasmo.

Seminar digelar atas kerjasama antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia dan Bappenas serta didukung oleh Australia Aid dan Asian Development Bank. Sebelum sesi dimulai, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Suahasil Nazara memberikan opening presentation bertajuk Fiscal Reform to Support Strong and Equitable Growth: Striking The Right Balance, sesuai dengan topik seminar.
Pada hari pertama, berlangsung empat sesi bertemakan “Delivering Growth, Stability and Equity” yang membahas kebijakan fiskal yang sesuai untuk pembangunan Indonesia pasca krisis ekonomi global, “Paying the Bills” dengan fokus pada cara untuk meningkatkan penerimaan negara dengan tetap menjaga iklim investasi di Indonesia, “Delivering on Priorities” untuk menemukan pendekatan yang tepat dalam mencapai tujuan pembangunan melalui belanja infrastruktur, bantuan sosial dan transfer daerah, serta “Financing Constraints” yang menitikberatkan pada tantangan Indonesia dalam menghadapi pembiayaan defisit dan mengembangkan pasar keuangan di Indonesia.

Pada sesi pertama seminar, Juda Agung dari Bank Indonesia memandu acara sebagai moderator. Hadir sebagai narasumber Annabelle Mourougane, OECD dengan membawakan topik “Shifts in International Thinking On Fiscal Policy”; Juzhong Zhuang, ADB dengan topik berjudul “Delivering Growth and Equity: The Role of Fiscal Policy”; dan Reza Yamora Siregar, Goldman, Sachs & Co yang memaparkan tentang “Fiscal Policy: Aiming at Growth & Stability in Indonesia”.

Sesi kedua seminar dipandu oleh Andin Hadiyanto, Staf Ahli Menteri Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional Kementerian Keuangan. Narasumber pertama Jay K. Rosengard, Harvard Kennedy School Indonesia Program dengan memaparkan “Paying The Bills: Comparative Tax Reform”, dan Michael J. Keen, IMF yang menjelaskan topik “Tax Incentives”.

Sonny Harry B. Harmadi dari Bappenas bertindak sebagai moderator pada sesi ketiga. Hadir sebagai narasumber yaitu, Marwanto, Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan dengan paparan “Spending Review”, selanjutnya Steven R. Tabor, ADB memaparkan tentang “Delivering Infrastructure”, narasumber ketiga Mukul Asher, Lee Kuan Yew School of Public Policy at the National University of Singapore dengan tema “Delivering Social Protection Effectively and Sustainably” serta Scott Guggenheim, Australian Government Department of Foreign Affairs and Trade yang memaparkan “Inclusive Development: Can We improve Service Delivery to the Poor?”.

Sesi terakhir menghadirkan Robert Pakpahan, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan sebagai moderator. Narasumber pada sesi ini yaitu Axel Peuker, World Bank yang memaparkan “Overcoming Financing Constraints: Domestic Capital Market Development” dan Mohamed Azmi Omar, IDB dengan topik “The Role of Islamic/Shariah Finance to Support Indonesia’s Economic Growth”. (IS/SU)