Kolaborasi Pembiayaan Keanekaragaman Hayati
Jakarta, (26/04): Pembiayaan atas berbagai kegiatan yang terkait dengan keanekaragaman hayati (kehati) memerlukan dukungan dari semua pihak, tidak hanya pemerintah namun juga pihak swasta, organisasi non pemerintah, maupun individu yang memiliki komitmen tinggi pada kehati. Demikian salah satu hasil penting dari The 2nd BIOFIN Global Workshop yang dilaksanakan di Los Cabos, Mexico, tanggal 12-14 April 2016.
Pengalaman negara-negara yang menjadi anggota inisiatif BIOFIN (Biodiversity Finance Initiative) menunjukkan bahwa anggaran pemerintah tidak mencukupi untuk membiayai kegiatan kehati. Oleh karena itu, sektor swasta perlu didorong lebih kuat lagi untuk turut serta berkontribusi dalam pengelolaan kehati. Salah satu caranya adalah dengan memberikan gambaran konkrit atas business opportunity dari kehati itu sendiri. Tanpa kejelasan keuntungan yang bisa diambil, mustahil pihak swasta akan secara maksimal berperan dalam pengelolaan kehati. Dalam kaitan ini, ketersediaan informasi dan database yang komprehensif akan manfaat kehati menjadi hal mutlak untuk membangun peluang investasi di kehati.
Hal lain yang diperlukan dalam konteks kolaborasi pembiayaan kehati adalah kepastian hukum dan transparansi. Dua hal ini penting terutama untuk membangun mekanisme akses dan pembagian manfaat (Access and Benefit Sharing Mechanism) yang adil dan pantas bagi semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan kehati. Dalam kaitan ini, Santiago Carrizosa, Global Adviser UNDP-GEF untuk Access and Benefit Sharing (ABS) mengakui bahwa pembagian keuntungan dari pemanfaatan sumber-sumber genetik masih mengalami kendala untuk mencapai keadilan dan menguntungkan semua pihak.
Selain itu, komitmen tingkat tinggi juga sangat diperlukan dalam kolaborasi pembiayaan kegiatan kehati. Hal ini terutama untuk mengatasi masalah-masalah yang seringkali muncul dalam koordinasi antar lembaga yang terkait dengan pengelolaan kehati. Selain itu, komitmen tingkat tinggi juga akan membantu memberikan dukungan bagi pihak swasta yang akan terlibat dalam pengelolaan kehati. Dalam banyak kasus, swasta akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlibat dalam investasi-investasi yang bersinggungan dengan isu-isu lingkungan karena resikonya yang terlalu tinggi.
Kolaborasi pembiayaan kehati juga perlu dilakukan melalui sinergi antara inisiatif-inisiatif global yang selama ini telah ada, semisal untuk perubahan iklim maupun lingkungan. Hal ini mengingat inisiatif-inisiatif global tersebut secara langsung maupun tidak, berkontribusi pada konservasi kehati. Dengan demikian, sinergitas potensi pembiayaan oleh inisiatif-inisiatif global yang terkait dengan lingkungan hidup akan memberikan dampak yang lebih kuat di tingkat operasional.
BIOFIN merupakan upaya kemitraan global untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pembiayaan kehati. Inisiatif ini merupakan platform multi-stakeholders yang melibatkan lintas kementerian. Di Indonesia, Kementerian Keuangan, dalam hal ini Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral, Badan Kebijakan Fiskal, menjadi leading unit untuk kegiatan-kegiatan BIOFIN. Salah satu yang dilakukan saat ini adalah penyelesaian BIOFIN Workbook, yang nantinya diharapkan dapat menjadi pedoman untuk mobilisasi pendanaan dan penciptaan mekanisme pembiayaan alternatif untuk kegiatan-kegiatan kehati. (ENMS/PKPPIM)