Peran Pembiayaan Islam dalam Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Jakarta, (16/5): Seminar yang merupakan salah satu side event ST IDB ke-41 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center hingga kini masih berlanjut. Pada pembukaan pertama hari ke-2, tema yang diangkat adalah “the role of Islamic financing in achieving SDGs”. Seminar yang digelar di Assembly Hall 1, Jakarta Convention Center ini, dibuka oleh welcome note dari Director General, Islamic Research and Training Institute, Mohamed Azmi Omar. Dalam kesempatan tersebut, President IDB, Ahmad Mohamed Ali, dan Menteri Keuangan RI serta Gubernur Bank Indonesia turut memberikan welcome speech-nya.

Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro dalam sambutannya menjelaskan bahwa tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals) adalah untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan ketidakadilan, serta mengatasi perubahan iklim. Indonesia dalam perannya untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan telah memberikan beberapa bentuk pembiayaan islam/syariah, diantaranya pembiayaan mikro islam/syariah dan sukuk. Selain itu, pemerintah juga terus berupaya mengoptimalkan penggunaan zakat dan wakaf sebagai pembiayaan alternatif untuk sektor sosial.

Panel diskusi diawali dengan presentasi dari representatif Bank Sentral Gambia, Amadou A.Colley. Amadou menjelaskan pengalaman dan tantangan pembiayaan islam/syariah yang terjadi di Gambia dan negara-negara kawasan Afrika. Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi di negaranya datang dari sisi regulasi, dimana para pembuat kebijakan dinilai memiliki pengetahuan yang masih terbatas terkait dengan pembiayaan islam/syariah. Oleh karena itu regulasi yang dibuat pun masih terus dikembangkan dan diperbaiki agar aturan dalam mekanisme pembiayaan islam/syariah di Gambia maupun di negara-negara kawasan Afrika lainnya lebih jelas.

Hampir sama dengan Gambia, Pakistan menurut Ishrat Husain, Bank Sentral Pakistan, juga menghadapi tantangan terkait dengan regulasi. Selain itu, inovasi produk dan hukum juga menjadi tantangan yang masih dihadapi untuk menyukseskan pembiayaan islam/syariah di Negara tersebut.

Di Indonesia sendiri pembiayaan islam/syariah dapat dikatakan berjalan cukup baik. Hal tersebut terlihat dari supervisi, tata kelola dan manajemen resiko yang sudah berjalan dengan semestinya. Namun demikian, menurut Perry Warjiyo, Deputi Gubernur, BI, mengatakan masih ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam mengoptimalkan pembiayaan islam/syariah khususnya dalam zakat dan wakaf, seperti keterbatasan sumber daya manusia dalam hal ini organisasi atau institusi zakat dan wakaf, pengetahuan serta sosialisasi tentang zakat dan wakaf. (is/atn)