International Conference on Tax, Business and Investment : Tantangan Indonesia untuk Mendorong Pertumbuhan
Jakarta, (23/5): Bertempat di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan RI, digelar International Conference on Tax, Business and Investment yang merupakan kerja sama antara Kementerian Keuangan, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), International Tax and Investment Center (ITIC) dan Universitas Mercubuana. Acara ini dibuka oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla dan Menteri Keuangan RI, Bambang Brodjonegoro.
Sesi panel diskusi dengan topik “fiscal policy challenges of middle income status” dimoderatori oleh Daniel Witt dari ITIC. Narasumber pertama, Peter Mullins, IMF, memaparkan tentang perpajakan untuk industri ekstraktif. Narasumber kedua, Parjiono, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF, berkesempatan untuk menjelaskan perkembangan status Indonesia dan tantangannya untuk keluar dari status middle income. Parjiono mengungkapkan bahwa hingga tahun 2015, pertumbuhan Indonesia berada pada angka 5%. Menurutnya, nilai tersebut belum bisa membawa Indonesia lepas dari status middle income. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa untuk keluar dari status tersebut, dibutuhkan pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkualitas. Namun, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah untuk mencapai hal tersebut. Seperti diketahui bahwa pertumbuhan yang tinggi menimbulkan kesenjangan yang tinggi pula. Kesenjangan ini harus dapat ditangani jika ingin mewujudkan pertumbuhan yang inklusif dan berkualitas tinggi. Selain itu, tantangan lain yang masih harus mendapatkan perhatian pemerintah yaitu tingkat produktivitas tenaga kerja Indonesia yang masih rendah dan juga investasi yang dianggap belum cukup untuk mendorong pertumbuhan.
Parjiono menambahkan, pemerintah hingga saat ini terus melakukan berbagai upaya agar target pertumbuhan Indonesia dapat tercapai. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah tahun lalu ialah reformasi fiskal. Reformasi fiskal dalam hal ini meliputi reformasi untuk mengoptimalisasi penerimaan negara dan mengalokasikan belanja yang lebih produktif seperti belanja infrastruktur fisik, kesehatan dan pendidikan.
Menambahkan dari apa yang dijelaskan oleh Parjiono, Didik J. Rachbini dari INDEF yang menjadi narasumber terakhir memaparkan topik spesifik tentang isu-isu yang dihadapi Indonesia khususnya di bidang perpajakan. Ia mengatakan bahwa ada beberapa isu yang harus diperhatikan pemerintah seperti middle income trap dan tax ratio, pajak penghasilan orang pribadi serta kepatuhan wajib pajak yang masih rendah. Menurutnya, peran kebijakan fiskal menjadi sangat penting untuk dapat mengatasi isu-isu tersebut. Beberapa kebijakan yang dapat dilakukan misalnya, mengoptimalisasi e-data untuk menarik lebih banyak pajak penghasilan orang pribadi, mengurangi praktek transfer pricing, mendiversifikasi sumber pajak dan memberikan insentif untuk industri yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. (is/pg)







