Rapat Panja Asumsi Makro RAPBN-P 2016
Jakarta, (8/6): Dalam rangka penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2016 (RAPBN-P), Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan mengadakan rapat dengan Badan Anggaran DPR RI. Bertindak sebagai pimpinan rapat yaitu Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI, MH. Said Abdullah.
Rapat bersama Banggar DPR ini membahas seputar asumsi makro untuk APBN-P 2016. Pada kesempatan tersebut, Suahasil Nazara, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu, selaku Ketua Panja menjelaskan bahwa pada indikator ekonomi makro di RAPBN-P 2016, hanya asumsi pertumbuhan ekonomi saja yang berubah dan sisanya tidak berubah. Asumsi pertumbuhan ekonomi pada RAPBN-P 2016 turun dari 5,3% menjadi 5,1%. Angka tersebut merupakan hasil kesepakatan dengan Komisi XI DPR RI pada rapat yang diadakan satu hari sebelumnya. Sementara itu, ia melanjutkan bahwa angka asumsi inflasi akan tetap berada pada level 4%, nilai tukar sebesar Rp.13.500, suku bunga SPN 3 bulan di 5,5%, ICP yang semula US$50/barel menjadi US$35/barel, lifting minyak sebesar 810.000 barel per hari dan lifting gas dengan nilai 1.115.000 barel setara minyak per hari.
Suahasil mengungkapkan, angka 5,1% tersebut diperoleh setelah memperhitungkan beberapa faktor yang cukup mempengaruhi pertumbuhan Indonesia hingga akhir tahun 2016. Ia menyebutkan bahwa ada tiga faktor utama dari eksternal yang cukup berpengaruh pada kondisi perekonomian Indonesia. Pertama yaitu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melambat akan terus terjadi hingga tahun 2016. Hal tersebut tambahnya akan berpengaruh pada kinerja ekspor impor Indonesia. Faktor kedua ialah harga komoditas yang akan tetap berada pada level yang rendah hingga tahun 2020. Terakhir, penyesuaian suku bunga dari Amerika Serikat yang masih akan dilakukan hingga tahun 2016 dinilai dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah. Namun demikian, meskipun terdapat tekanan dari eksternal, pemerintah masih tetap optimis target pertumbuhan tahun 2016 akan tercapai. Hal tersebut dikarenakan kinerja pasar keuangan Indonesia yang semakin membaik, nilai tukar Indonesia yang terapresiasi, dan harga saham yang terus meningkat. Selain itu, investasi atau PMTB Indonesia juga meningkat dari yang sebelumnya 4,6% pada Q1 di tahun 2015 menjadi 5,6% pada Q1 di tahun 2016. (is/pg)







