Strategi Memobilisasi Tabungan Masyarakat Menjadi Investasi Jangka Panjang
Bali, (8/12): dalam rangka penyelenggaran international forum on economic development and public policy yang diselenggarakan oleh BKF, Kemenkeu, salah satu pembicara pada sesi seminar Yougesh Khatri, Senior Macro Economist Team Leader, AIPEG, mengatakan bahwa sektor keuangan Indonesia terbilang masih sangat kecil. Selain itu, pengembangan sektor keuangan juga masih rendah. Sebagai contoh, ia menyebutkan bahwa penggunaan instrumen keuangan berupa tabungan di Indonesia lebih besar dibandingkan dengan Malaysia. Namun, Indonesia berada di bawah Malaysia dalam hal long term funding atau pembiayaan jangka panjang. Hal tersebut menurutnya disebabkan oleh trend penggunaan tabungan yang cenderung ditempatkan dalam investasi yang tidak produktif.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kecilnya long term funding di Indonesia merupakan efek dari iklim bisnis di Indonesia yang kurang favorable, sektor informal yang cukup besar dan kondisi politik di tanah air. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Business as Usual tidak dapat dilakukan jika Indonesia menargetkan pertumbuhan diatas 6%. Indonesia harus membuat master plan sektor keuangan dengan memperkuat koordinasi dan integrasi antar stakeholders.
Dari sisi sektor swasta, Anggito Abimanyu yang merupakan ekonom dari Bank Rakyat Indonesia menyampaikan banyak cara yang dapat dilakukan untuk memobilisasi tabungan masyarakat. Hal yang utama ialah mereformasi institusi keuangan. Dengan adanya perubahan lingkungan yang terjadi saat ini, Institusi keuangan diharapkan dapat berubah menjadi lebih modern, efisien, berorientasi pada layanan, dan mudah untuk diakses masyarakat.
Salah satu perubahan yang terjadi misalnya sektor keuangan Indonesia yang semula berbasis keuangan ekslusif berubah menjadi keuangan inklusif. Oleh karena itu untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam sektor keuangan, dibutuhkan akses internet yang cukup baik dan peningkatan teknologi untuk layanan keuangan (financial technology).
Dalam seminar di hari pertama, terdapat enam sesi diskusi panel yang membahas berbagai topik seperti kebijakan keuangan inklusif, pasar keuangan dan pengembangan produknya, strategi keuangan untuk sektor prioritas dan strategi pembiayaan infrastruktur. (is/pg)