Seminar Forum Ekonom Kementerian Keuangan 2017: Menjaga Kredibilitas APBN, Refleksi APBN 2016 dan Kebijakan Fiskal 2017

Manado (30/03): Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan seminar Forum Ekonom Kementerian Keuangan pada tahun 2017, seminar bertajuk “Menjaga Kredibilitas APBN: Refleksi APBN 2016 dan Kebijakan Fiskal 2017” diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 30 Maret 2017 di Manado.

Seminar diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan keynote speech oleh Staf Ahli Gubernur Sulawesi Utara, M.M. Sendoh yang menyampaikan seberapa jauh pengaruh APBN terhadap pelaksanaan proyek-proyek prioritas daerah provinsi Sulawesi Utara. Acara dilanjutkan dengan welcome remarks yang disampaikan oleh wakil Rektor II Universitas Samratulangi, Jimmy Posangi.

Acara seminar dipandu oleh Hizkia Tasik, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Samratulangi, sebagai moderator. Hadir sebagai pembicara dalam kesempatan tersebut Kepala Bidang Analis Fiskal, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal, Ferry Irawan, Direktur Penyusunan APBN Direktorat Jendral Anggaran, Kunta W.D. Nugraha, dan Regional Economist Manado, Noldy Tuerah.

Materi pertama tentang Perkembangan dan Outlook Ekonomi & Fiskal disampaikan oleh Ferry Irawan. Ferry menjelaskan bagaimana kuatnya peran ekonomi global, terutama negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Indonesia, terhadap keadaan ekonomi Indonesia. Risiko ekonomi global seperti Brexit dan China Economic Rebalancing, menjadi pertimbangan dalam pergerakan ekonomi Indonesia. Di sisi lain, perekonomian domestik Indonesia dirasa cukup baik, dengan masuknya Indonesia sebagai 3 besar pertumbuhan ekonomi terbaik di Asia. Di akhir materinya, Ferry menyampaikan peranan pemerintah daerah Manado dalam rangka membantu pemerintah pusat membenahi ketimpangan, penggangguran dan kemiskinan serta tak kalah penting yaitu peranan untuk memperbaiki interkoneksi ekonomi antar pulau di Indonesia. 

Pembicara kedua, Kunta Nugraha, memaparkan tentang perkembangan ekonomi dan fiskal tahun 2016 – 2017. Dalam paparannya mengutarakan tentang peran APBN sebagai instrumen pembangunan yang kredibel, efektif dan efisien terus ditingkatkan untuk mewujudkan ekonomi yang inklusif. Reformasi di bidang pajak pun akan terus dilakukan dalam jangka menengah terhadap aturan perundangan dan juga administrasi perpajakan. Selain itu defisit anggaran dalam rangka kebijakan fiskal ekspansif harus dikelola secara prudent dan ditujukan untuk kegiatan yang produktif dan juga kredibilitas APBN harus terus terjaga agar instrumen fiskal mampu mendorong perekonomian dan mendapat kepercayaan publik dan pasar.

Sementara itu, Noldy Tuerah  sebagai pembicara terakhir membahas tentang Tinjauan Perkembangan Ekonomi Makro dan Keuangan Daerah. Kapasitas fiskal daerah relatif terbatas, serta sangat tergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat. Belanja tidak langsung mendominasi alokasi belanja, serta kapasitas penyerapan belanja belum optimal dari pagu yang tersedia. Implikasinya, efisiensi belanja daerah wajib menjadi perhatian bagi seluruh pemda dengan memperhatikan belanja langsung yang perlu didorong dan diperbesar serta mengurangi belanja tidak langsung khususnya belanja pegawai dalam rangka memperbesar alokasi belanja modal untuk infrastruktur dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, mengurangi pengangguran dan kemiskinan, serta memperkecil kesenjangan antara daerah dan kelompok masyarakat. (ady/ap)