Seminar Forum Ekonom Kementerian Keuangan di Ternate
Ternate, (11/4): Dalam rangka mensosialisasikan perkembangan ekonomi terkini dan menggali informasi seputar ekonomi di daerah, Badan Kebijakan Fiskal bekerjasama dengan Biro Komunikasi dan Layanan Informasi serta Kantor Wilayah Perbendaharaan Provinsi Maluku Utara, menggelar seminar forum ekonom kementerian keuangan. Seminar yang dihadiri oleh ekonom, akademisi, pegawai pemerintah daerah, pelaku industri perbankan dan swasta ini diselenggarakan di Hotel Dafam Bela Ternate.
Seminar yang masih mengangkat tema “Menjaga Kredibilitas APBN: Refleksi APBN 2016 dan Kebijakan Fiskal 2017” dibuka dengan keynote speech oleh Wakil Gubernur Maluku Utara, Muhammad Nasir Thaib. Wagub berharap acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan ini dapat meningkatkan kerjasama antara pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi serta stakeholders terkait untuk bersama-sama menjawab tantangan ekonomi yang dihadapi oleh Maluku Utara.
Presentasi dan diskusi yang merupakan acara inti seminar dipandu oleh Hasbi Yusuf, Lektor Universitas Khairun. Presentasi pertama tentang perekonomian terkini dan APBN 2017 disampaikan oleh Yoopi Abimanyu, Peneliti dari Badan Kebijakan Fiskal. Yoopi mengungkapkan bahwa Indonesia masih akan menghadapi tantangan ekonomi baik yang berasal dari global maupun domestik. Di sisi global, tantangannya adalah kinerja perekonomian negara maju yang masih lemah, harga komoditas yang masih rendah walaupun sudah mengalami kenaikan, dan yang paling baru adalah trump effect. Ia menyebutkan dengan adanya kebijakan proteksionisme oleh Trump, maka perdagangan indonesia akan terpengaruh. Hal ini disebabkan karena Amerika Serikat merupakan salah satu negara tujuan ekspor Indonesia. Selain Amerika Serikat, perubahan arah kebijakan di Tiongkok dan India juga berpotensi menekan ekspor sumber daya Indonesia.
Dari sisi domestik, kesenjangan antar daerah dan golongan masih ada. Oleh karena itu kebijakan fiskal yang diambil pemerintah akan terfokus pada pengurangan kesenjangan dan kemiskinan. Untuk kinerja fiskal sendiri lanjutnya di awal tahun 2017 berjalan cukup baik. Hampir semua penerimaan dari sisi pajak di awal tahun mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Selain itu tax amnesty cukup berhasil dalam menambah penerimaan negara. Sedangkan pada neraca pembayaran, trade balance mengalami surplus dan cadangan devisa masih berada dalam level aman.
Mukhtar Adam yang merupakan dosen ekonomi Universitas Khairun menjadi narasumber kedua. Mukhtar memaparkan tentang ekonomi di Maluku Utara. Ia mengungkapkan bahwa persentase tingkat kemiskinan di Maluku Utara secara umum mengalami penurunan. Gini rasio di Maluku Utara juga dapat dikatakan salah satu yang terendah dibandingkan dengan nasional. Sektor pekerjaan maluku utara masih didominasi dari sektor pertanian, namun demikian jumlahnya terus menurun karena beberapa pekerja mulai beralih sebagian besar ke sektor jasa dan sebagian kecil di sektor manufaktur. Untuk meningkatkan perekonomian dan mengurangi kesenjangan antar wilayah di maluku utara, ia berharap agar pemerintah dapat mengembangkan infrastruktur penghubung (konektivitas) di Maluku Utara yang merupakan wilayah kepulauan. Selain itu, industri hilir dari sektor utama penopang ekonomi Maluku Utara dapat dikembangkan agar menjadi sumber ekonomi baru disana. (Is/atn)







