Indonesia Adopsi Human Capital Development Index Terbaru
Nusa Dua-Bali (11/10), Sejumlah menteri keuangan dari berbagai negara (Indonesia, Singapura, Polandia, Etiopia, Peru, Pakistan, Irak, Tunisia, Georgia, Jordania) hadiri ‘Human Capital Summit: A Global Call to Action’ sebagai salah satu rangkaian diskusi di Annual Meetings 2018. Para Menteri tampil untuk menyampaikan strategi sekaligus berbagai langkah yang telah dilakukan dalam mengelola human capital di negaranya masing-masing. Bertempat di Mangapura Room, BICC, Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati berkesempatan mewakili Indonesia.
“Human Capital adalah kunci untuk menurunkan angka kemisikinan dan kesenjangan. Bahkan dunia telah membuktikan bahwa human capital menjadi faktor yang telah mendorong kemajuan perekonomian global”, ujar Sri Mulyani menekankan pentingnya Human Capital.
Pemerintah di seluruh dunia telah memilih keputusan yang sangat tepat untuk berinvestasi besar di sektor human capital yang sejauh ini telah berhasil menurunkan angka kematian anak sebesar 50%, angka anak yang putus sekolah berkurang 40%, dan setidaknya sudah terdapat jaring pengamanan nasional (national safety net) di setiap negara. Sehingga seluruh kebijakan yang ada membawa dampak yang baik.
Sri Mulyani menambahkan bahwa meskipun demikian, jutaan orang termasuk anak-anak masih banyak yang kekurangan gizi, mempunyai kualitas pendidikan rendah, pembelajaran dan stimulasi dini yang minim, serta kemampuan yang terbatas untuk dapat bekerja di dunia perekonomian digital ini. Oleh karenanya, Human Capital Project dari Bank Dunia untuk mengembangkan knowledge, skills, dan kesehatan ini dinilai sangat penting untuk terus dilangsungkan dan diikuti oleh seluruh negara.
Sebagai bagian dari strategi penanganan human capital, Indonesia telah mengalokasikan 20% anggaran di APBN untuk pendidikan dengan meningkatkan kualitas guru, manajemen sekolah, dan proses belajar mengajar peserta didik. Pemerintah Indonesia juga telah memberikan perhatian besar pada pendidikan vokasi untuk menghadapi revolusi industri 4.0, teknologi informasi, dan partisipasi sektor swasta dalam pendidikan.
“Membangun human capital adalah suatu hal yang sangat genting untuk dilakukan seluruh negara, di seluruh tingkat pendapatan, untuk dapat berkompetensi di perekonomian dunia kelak”, ujar Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim pada saat membuka diskusi ini.
Bank Dunia hari ini merilis Human Capital Index (HCI) terbaru sebagai upaya Bank Dunia yang semakin fokus pada isu human capital. Dengan indeks terbaru ini setiap negara dapat menghitung kontribusi kesehatan dan pendidikan terhadap produktivitas dan tingkat pendapatan generasi yang akan datang sekaligus menilai potensi pendapatan yang hilang jika ada human capital gaps.
Pemerintah Indonesia menyambut baik upaya tersebut sekaligus mengapresiasi Bank Dunia yang telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi fokus prioritas, termasuk sebagai negara yang telah lebih dulu mengadopsi HCI tersebut.
“HCI mengukur seberapa jauh lama pendidikan anak di setiap negara dan seberapa tinggi jaminan kesehatan bagi para bayi yang baru lahir di masa ini. Ukuran-ukuran ini mencakup kelangsungan hidup (survival), pendidikan (school), dan kesehatan (health),”. Jelas Kim.
Untuk komponen survival, Indonesia unggul dari negara-negara Asia Selatan dan Afrika. Komponen berikutnya tentang kualitas dan kuantitas Pendidikan, Indonesia unggul dari negara-negara Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika. Hampir di seluruh komponen HCI, kondisi Indonesia lebih baik dari kelompok pendapatan rendah-menengah (lower-middle income countries), terkecuali untuk permasalahan stunting.







