Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional Jadi Prioritas Pemerintah

Jakarta (25/08) – Sebagai update bulanan #APBNkita, Kementerian Keuangan kembali menyelenggarakan Konferensi Pers #APBNkita secara virtual. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membahas tentang pertumbuhan ekonomi dan realisasi #APBNkita per 31 Juli 2020 pada konferensi pers kali ini. 

“Pandemi COVID-19 masih mengalami tren kenaikan, khususnya di Indonesia yang belum mencapai puncaknya. Kondisi ini memicu ketidakpastian perekonomian yang masih cukup tinggi”, jelas Sri Mulyani.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa secara umum, perbaikan ekonomi di bulan Juli masih berlanjut, namun tidak sebaik bulan Juni sebagai bulan ‘pembalikan’ dimana bulan Maret hingga Mei terus menunjukkan kontraksi. Indikator perekonomian di Bulan Juli bergerak variatif mengingat masih tingginya ketidakpastian di berbagai sektor.

“Dukungan fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan telah banyak dimanfaatkan, antara lain melalui pemanfaatan insentif pajak, belanja Bansos untuk mendorong konsumsi masyarakat, dan melalui transfer ke daerah,” lanjutnya. 

Selain itu, pemerintah tetap berupaya meningkatkan kinerja belanja pemerintah, khususnya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk terus memberikan stimulus pada perekonomian Indonesia. Upaya percepatan PEN juga dilakukan diantaranya melalui perpanjangan berbagai program sampai dengan Desember 2020, mempercepat proses usulan baru sebagai kluster, redesign program agar lebih efektif, dan mempercepat proses birokrasi program.

“Progres realiasais PEN sendiri telah mencapai 25.1% dari pagu, sebesar Rp174,79 triliun. Oleh karenanya masih diperlukan akselerasi untuk mengurangi tekanan dan menjaga pertumbuhan ekonomi,” tambah Sri Mulyani.

Data realisasi PEN per 19 Agustus 2020 menunjukkan penyerapan di sektor kesehatan sebesar Rp7,36 T; perlindungan sosial sebesar Rp93,18 T; sektoral KL dan Pemda sebesar Rp12,4 T; insentif usaha Rp17,23 T; dukungan UMKM sebesar Rp44,63 T; sedangkan pembiayaan korporasi menunggu waktu yang tepat.

Di sisi lain, Sri Mulyani juga menjelaskan bahwa outlook perekonomian Indonesia tahun 2020 sangat bergantung pada konsumsi dan investasi dari sisi domestic demand. Hal ini akan menjadi fokus pemerintah pada kuartal tiga dan empat. Range untuk pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 sebesar 4,5-5,5% yang masih terus bergatung pada based line yang masih akan bergerak hingga akhir tahun

“Pemulihan perekonomian ini berjalan secara bertahap dan tentu disesuaikan dengan kondisi ancaman COVID-19. Hal yang paling sulit adalah bagaiman mengatasi penyebaran COVID-19. Di Indonesia masih berusaha mencapai puncak dan semoga tidak terjai second wave seperti korea dan negara lainnya,” harap Sri Mulyani . (fms)