Indonesia Tekankan Pentingnya Peran Transformasi Digital di Masa Pandemi pada APEC Virtual Finance Ministers Meeting
Putrajaya, Malaysia (25/09) - Delegasi Republik Indonesia yang dipimpin oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu (mewakili Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati), menghadiri pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation Virtual Finance Ministers’ Meeting (APEC VFMM) 2020 yang diselenggarakan secara virtual. APEC 2020 diketuai oleh Malaysia dengan mengusung tema “Optimising Human Potential towards Resilient Future of Shared Prosperity: Pivot, Prioritise, Progress”. Tema ini sangat relevan dengan kondisi global saat ini, yakni pentingnya mendorong masyarakat dunia untuk semakin memperkuat kerja sama dalam memulihkan kondisi global akibat pandemi COVID-19.
“Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menerapkan kebijakan fiskal multidimensi untuk meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat, menopang konsumsi masyarakat terutama untuk kelas menengah ke bawah, menjaga stabilitas, dan mendorong pemulihan ekonomi. Pemerintah secara tegas mengalokasikan sekitar 25% dari total anggaran belanja tahun 2020 (sebesar Rp 695,2 triliun) untuk langkah-langkah kebijakan penanganan COVID-19, termasuk memprioritaskan percepatan pencairan bantuan yang tepat sasaran, penyediaan vaksin COVID-19 dan memastikan aksesibilitasnya, serta memprioritaskan dukungan terhadap UMKM yang merupakan salah satu penopang ekonomi nasional. Pandemi COVID-19 menjadi momentum untuk mempercepat reformasi struktural dan transformasi ekonomi Indonesia,” ungkap Febrio saat menyampaikan respon kebijakan penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi nasional di Indonesia.
APEC VFMM 2020 menekankan pentingnya kolaborasi strategis dalam mendorong percepatan pemulihan ekonomi pasca pandemi. Dalam pertemuan ini, Para Menteri/perwakilan Menteri Keuangan APEC secara khusus membahas mengenai respon kebijakan fiskal dan moneter atas penanganan pandemi COVID-19 di masing-masing ekonomi APEC. Pandemi COVID-19 mendorong terjadinya disrupsi pada rantai pasokan global, peningkatan volatilitas pasar keuangan dan pengangguran, penurunan posisi fiskal. Pandemi COVID-19 juga memberikan dampak negatif bagi sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi di kawasan APEC. Oleh karena itu, pertukaran pengalaman terkait respon kebijakan di antara para Menteri/perwakilan Menteri Keuangan APEC menjadi pembelajaran yang penting bagi masing-masing anggota APEC dalam rangka mempercepat proses pemulihan ekonomi domestik dan kawasan.
“Pandemi COVID-19 menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat reformasi struktural dan ekonomi serta menggarisbawahi pentingnya peran transformasi digital di masa pandemi terutama dalam mendukung sektor bisnis dan UMKM dalam negeri. Hal tersebut sejalan dengan besarnya potensi bisnis digital (e-commerce) di Indonesia yang didukung dengan besarnya populasi generasi muda sebagai pengguna internet. Tidak hanya terbatas pada bisnis digital, Indonesia juga berkomitmen untuk senantiasa meningkatkan iklim investasi dan lingkungan bisnis untuk mendorong percepatan pemulihan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan,” lanjut Febrio pada agenda APEC Connectivity Blueprint 2015-2025 dan APEC Roadmap on Digital Financial Inclusion.
Sebagai upaya dalam memitigasi dan merespon bencana dan pandemi di masa depan, para Menteri/perwakilan Menteri Keuangan APEC juga menekankan pentingnya asuransi dan pembiayaan risiko bencana sebagai sebuah alternatif solusi dalam upaya meminimalisasi dampak bencana dan mempertimbangkan untuk mengintegrasikan pandemi dalam agenda pembiayaan dan asuransi risiko bencana di APEC.
Hasil dari APEC VFMM 2020 dituangkan dalam APEC VFMM Ministerial Statement on Mitigation and Recovery of COVID-19 yang mencerminkan upaya kolektif APEC dalam percepatan penanganan dan pemulihan dampak pandemi COVID-19. Penyelenggaraan pertemuan Menteri Keuangan APEC tahun depan akan dilaksanakan oleh Ketua APEC 2021, yakni Selandia Baru. (PKRB/fms)
