Realisasi PEN: Realisasi Perlindungan Sosial yang Paling Baik

Jakarta (06/10): Melalui video conference, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu menjadi narasumber dalam Diskusi Publik Fraksi PKB DPR RI pada hari Selasa, (6/10). Pada kesempatannya, Febrio menjelaskan terkait perkembangan Covid-19 dan perekonomian serta perkembangan APBN dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Tahun ini lebih dari 92% negara-negara di dunia akan terkontraksi perekonomiannya, Indonesia juga di sepanjang tahun ini akan mengalami kontraksi namun sangat terbatas jika dibandingkan dengan negara lain,” ujar Febrio.

Lebih lanjut, Febrio menjelaskan bahwa kontraksi yang terbatas ini sebenarnya telah memberikan tantangan yang besar bagi masyarakat Indonesia. Indonesia diproyeksikan pertumbuhan ekonominya akan berada pada -1,7% s.d. -0,6% (yoy). Untuk tahun 2021, pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan sebesar 4,5% s.d 5,5% (yoy), tentunya dengan kerja keras.

Bicara tentang realisasi program PEN, Febrio mengungkapkan bahwa realisasi perlindungan sosial merupakan yang paling baik. Realisasi perlindungan sosial saat ini telah terealisasi sebesar 77% dari pagu Rp203,91 Triliun.

“Realisasi ini juga terlihat percepatannya dan konsisten sampai akhir tahun menuju 100% dengan penerimanya yaitu penerima PKH, kartu sembako, bantuan sembako jabodetabek termasuk disana subsidi gaji yang relatif cepat dan akan terus kita pantau karena penerimanya adalah masyarakat berpendapatan rendah,” ungkap Febrio.

Sementara itu, progress anggaran sektoral Kementerial Lembaga (K/L) dan Pemda, realisasinya sebesar 25,1% dari total pagu Rp106,05 Triliun. Untuk kesehatan, realisasinya sebesar 25%, realisasi insentif usaha 23,3%, dan realisasi dukungan UMKM sebesar 66,3%. 

“Untuk insentif usaha, karena basis datanya 2019 sedangkan di 2020 banyak perusahaan yang rugi sehingga insentif ini tidak kompatibel, namun pemerintah sudah mengalihkan ke program-program lain sehingga realisasinya harusnya bisa tercapai di akhir tahun,” jelas Febrio.

Febrio juga menyampaikan bahwa pada Q3 pemulihan mulai ada walaupun tidak secepat yang diharapkan dan tren ini semoga dapat berlanjut ke Q4 dan Q1 tahun 2021. Apabila tahun 2021 sudah ada vaksin, hal ini juga dapat menjadi penentu pemulihan ekonomi di 2021. 

“Dengan segala tantangan yang kita hadapi, kita terus berikhitar, tentunya dengan segala ikhtiar dan niat baik kita saya yakin ini akan ridha bagi kita semua dan masyarakat yang ingin kita bantu,” tutup Febrio mengakhiri paparan. (cs)