ASEAN Taxonomy for Sustainable Finance sebagai Komitmen ASEAN dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim

Jakarta (10/11) – Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya hari ini mencapai tonggak pencapaian penting dalam upayanya untuk memenuhi komitmen Perjanjian Paris dengan memperkenalkan suatu “common language” di kawasan ASEAN terkait kegiatan ekonomi dan instrumen keuangan yang berkelanjutan.

Kawasan ASEAN merupakan salah satu kawasan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim yang diperkirakan akan berdampak pada penurunan PDB per kapita negara-negara anggotanya. Oleh karenanya, Sebagai bentuk komitmen regional dalam mendukung pengembangan agenda sustainable, ASEAN membentuk ASEAN Taxonomy Board (ATB) pada Maret 2021.

Bertepatan dengan pelaksanaan COP 26, ATB meluncurkan ASEAN Taxonomy for Sustainable Finance (Taksonomi ASEAN) versi pertama melalui kegiatan Webinar dengan tema ‘ASEAN Taxonomy for Sustainable Finance: Facilitating Transition Towards a Sustainable ASEAN’ (10/11). Taksonomi ASEAN tersebut merupakan inisiatif bersama yang dihasilkan dengan menyatukan pandangan dari regulator pasar modal, asuransi, dan perbankan negara-negara ASEAN.

Taksonomi ASEAN dirancang sebagai suatu sistem yang inklusif dan kredibel untuk mengklasifikasikan kegiatan ekonomi yang sustainable di kawasan. Taksonomi ASEAN disusun dengan mempertimbangkan standar taksonomi yang sudah ada namun tetap mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan negara-negara ASEAN yang beragam. Untuk itu, Taksonomi ASEAN disusun dengan pendekatan multi-tier yang memiliki dua elemen utama, yakni Foundation Framework yang berisi tentang prinsip-prinsip umum yang digunakan untuk menilai aspek sustainable dari suatu kegiatan ekonomi dan Plus Standards yang berisi definisi dan kriteria lebih lanjut, termasuk kriteria kualifikasi dan benchmark, bagi kegiatan ekonomi dan investasi hijau.

Secara lebih lengkap, taksonomi ASEAN versi 1 terdiri atas beberapa komponen utama, yaitu:

(a)    Foundation framework yang terdiri dari empat tujuan lingkungan (environmental objectives) dan dua kriteria penting (essential criteria) yang digunakan sebaga dasar menilai suatu kegiatan ekonomi.

(b)   Daftar sektor utama yang akan menerapkan plus standard, yang terdiri dari enam sektor utama dalam hal emisi gas rumah kaca dan tiga sektor pendukung yang berkontribusi untuk mencapai tujuan lingkungan;

(c)    Decision tree sebagai panduan bagi pengguna Taksonomi ASEAN untuk mengklasifikasikan kegiatan ekonominya; dan

(d)   Metodologi yang akan digunakan untuk menentukan thresholds berdasarkan Plus Standards, yang akan dikembangkan pada Taksonomi ASEAN fase berikutnya.

Pembentukan Taksonomi ASEAN ini diharapkan akan dapat menarik investasi global ke ASEAN untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan. Indonesia sebagai salah satu negara ASEAN yang memiliki kebutuhan pembiayaan berkelanjutan yang besar tentu akan mendapat manfaat dari aliran investasi tersebut. Pengembangan Taksonomi ASEAN juga sejalan dengan Roadmap Keuangan Berkelanjutan Indonesia. Untuk tahap berikutnya, ASEAN akan melanjutkan pembahasan pengembangan Taksonomi ASEAN dan Indonesia akan terus berpartisipasi dalam upaya pengembangan taksonomi ASEAN tersebut melalui keikutsertaannya di dalam ATB. (fms/pkrb)