Bagaimana Potensi Pasar Tenaga Kerja Indonesia Saat Ini?

Jakarta (02/12) - Hari ke dua pelaksanaan AIFED Ke-10 diawali dengan Call for Ideas (CFI) Awards dengan mengumumkan 20 ide terbaik pada ajang pengumpulan ide kreatif dan fresh tentang sumber-sumber petumbuhan ekonomi baru Indonesia.

“Ide-ide baru dan kreatif dalam CFI sangat berguna untuk mendukung pembangunan Indonesia yang lebih kuat,” tutur Abdurohman, Plt. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF.

Acara dilanjutkan dengan sesi People I: Unlocking Indonesia Labor Market Potential in The Midst of Global Structural Change. Kazutoshi Chatani dari ILO Jakarta mempresentasikan tentang tren global dalam pasar tenaga kerja.

“Pasar tenaga kerja global relatif belum pulih dan terhenti perkembangannya akibat pandemi COVID-19. Bahkan, peluang kerja untuk generasi muda dan perempuan juga berkurang selama pandemi. Di sisi lain, pandemi mempercepat transformasi digital dan e-commerce yang berdampak positif terhadap perluasan platform tenaga kerja digital,” ujar Kazutoshi.

Kazuthosi melanjutkan bahwa diperlukan sebuah ekosistem produktivitas yang mencakup beragam penggerak produktivitas pada level makro, meso, dan mikro. Dari beragam penggerak tersebut, area intervensi yang direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas diantaranya adalah pergeseran pekerja dari segmen pekerjaan berproduktivitas rendah ke segmen yang bernilai tambah yang lebih tinggi. Selain itu, diperlukan juga intervensi berupa pelatihan vokasi yang efektif dari segi pembiayaan dan tentunya optimalisasi pemanfaatan dari perempuan terdidik.

Di sisi lain, Maria Monica Wihardja dari World Bank menyampaikan terkait kondisi tenaga kerja di Indonesia dalam upaya menciptakan middle-class jobs. Lapangan pekerjaan di Indonesia sangat berperan baik bagi pertumbuhan maupun penurunan tingkat kemiskinan. Namun, pertumbuhan produktivitasnya kurang memadai dalam membuka peluang bagi penduduk Indonesia untuk naik ke kelas menengah karena pertumbuhan lapangan kerjanya didominasi oleh pekerjaan dengan produktivitas rendah.

“Pandemi COVID-19 di sisi lain menjadi peluang bagi Indonesia untuk membangun fondasi yang lebih solid dalam penciptaan lapangan kerja kedepannya. Terdapat 3 upaya yang dapat dilakukan terkait dengan penciptaan middle-class jobs, yaitu (1) mempercepat pertumbuhan produktivitas di seluruh lapisan, (2) transisi ke sektor dan perusahaan yang mampu menyerap banyak tenaga kerja melalui prioritas investasi dan informasi serta pembiayaan, serta (3) membentuk tenaga kerja kelas menengah melalui fasilitasi pelatihan dan dukungan untuk kelompok khusus yang potensial,” jelas Maria.

Selanjutnya, Denni Puspa Purbasari, Direktur Eksekutif Program Kartu Prakerja menyatakan bahwa sebagai bagian dari program perlindungan sosial selama pandemi COVID-19, Kartu Prakerja merupakan sebuah program inklusif yang tidak hanya memberikan insentif, tetapi juga modal kerja kepada para penggunanya melalui pelatihan yang diselenggarakan penuh secara digital.

“Selain bermanfaat sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan inklusi keuangan dan menjaga ketahanan pangan selama pandemi, Kartu Prakerja juga berperan dalam meningkatkan kompetensi calon tenaga kerja yang akan masuk ke dalam pasar tenaga kerja. Dalam implementasinya, ekosistem dalam Kartu Prakerja merupakan sebuah kolaborasi yang kompetitif karena mengumpulkan dalam satu platform digital baik penyedia lapangan kerja, marketplace, lembaga pelatihan, dan juga insitusi pendidikan untuk asesmen dan monitoring,” tutup Denni. (fms)