Pemerintah Semakin Fokus pada Strategi Keluar dari Jebakan Pendapatan Kelas Menengah
Jakarta (23/09/2024) - Kementerian Keuangan Republik Indonesia bekerja sama dengan Kelompok Bank Dunia dan Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional menyelenggarakan Seminar Internasional tentang Strategi Keluar dari Jebakan Pendapatan Menengah dan Growth Academy. Acara yang berlangsung selama dua hari ini juga bertujuan untuk meluncurkan World Development Report 2024 (WDR24) tentang Jebakan Pendapatan Menengah di kawasan ASEAN.
WDR24 telah mengidentifikasi kebijakan dan strategi yang dapat diadopsi oleh negara-negara berkembang untuk menghindari jebakan pendapatan menengah. Oleh karena itu, peluncuran WDR24 pada tingkat regional bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman bersama tentang bagaimana negara-negara berkembang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah, termasuk untuk memberikan panduan bagi para pembuat kebijakan dalam menentukan agenda berdasarkan pola pertumbuhan unik Indonesia. Selain itu, acara ini juga berupaya untuk membangun jaringan kolaboratif global yang terdiri dari para peneliti, akademisi, dan praktisi, terutama diantara negara-negara anggota ASEAN untuk memfasilitasi pertukaran ide yang berkelanjutan dalam mengatasi tantangan pembangunan yang paling mendesak di negara-negara berpenghasilan menengah.
“Pencapaian status berpendapatan tinggi bergantung pada produktivitas yang berfokus pada sumber daya manusia dan infrastruktur. Indonesia perlu fokus pada fondasi untuk meningkatkan sektor-sektor ini, baik dari segi anggaran atau sumber daya, regulasi, kebijakan, dan aspek kelembagaan yang memungkinkan lebih banyak partisipasi pemerintah daerah dan sektor swasta”, ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menyampaikan pidato kunci.
Sri Mulyani juga menambahkan bahwa negara harus berupaya membangun ekosistem dimana penelitian dan pengembangan dapat berkembang untuk mendukung prioritas nasional, seperti meningkatkan layanan kesehatan, teknologi digital, dan industri elektronik.
Dalam laporan WDR24 disebutkan bahwa sejak tahun 1990-an, hanya 34 negara berpendapatan menengah yang berhasil mencapai status berpendapatan tinggi, sementara sisanya—108 negara pada akhir tahun 2023—masih terjebak dalam perangkap berpendapatan menengah. Terkait hal ini, laporan tersebut mengusulkan “strategi 3i” bagi negara-negara untuk mencapai status berpendapatan tinggi. Bergantung pada tahap perkembangannya, semua negara perlu mengadopsi bauran kebijakan yang saling terkait dan saat ini semakin kompleks. Negara-negara berpendapatan rendah disarankan dapat berfokus pada kebijakan yang dirancang untuk meningkatkan investasi—fase 1i.
Namun demikian, ketika suatu negara mencapai status berpendapatan menengah ke bawah, maka perlu memperluas arah bauran kebijakannya ke fase 2i: investasi dan infusi, yang terdiri dari adopsi teknologi dari luar negeri dan mengakomodasinya ke seluruh aspek perekonomian. Sementara, pada tingkat berpendapatan menengah ke atas, negara-negara tersebut harus mengubah arah bauran kebijakan ke fase 3i yang terdiri dari penguatan investasi, infusi, dan inovasi.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu dalam kata sambutannya menjelaskan bagaimana tantangan-tantangan untuk keluar dari negara berpendapatan menengah dan bagaimana cara Indonesia mengatasinya. Febrio juga berbagi bagaimana memanfaatkan berbagai peluang yang ada untuk tidak terus terjebak dalam jebakan pendapatan kelas menengah ini.
Wakil Presiden Senior dan Kepala Ekonom Grup Bank Dunia Indermit Gill mengatakan bahwa kesuksesan dalam mengimplementasikan rekomendasi laporan tersebut akan bergantung pada seberapa baik masyarakat menyeimbangkan upaya penciptaan, pelestarian, dan destruksi. Negara-negara yang mencoba 'melindungi' warga negaranya dari tantangan-tantangan terkait dengan upaya reformasi dan keterbukaan akan kehilangan manfaat dari pertumbuhan berkelanjutan. Lebih jauh, Indermit juga mengatakan bahwa mencapai status berpendapatan tinggi tidak boleh mengorbankan isu lingkungan.
Acara dua harian ini juga ditujukan untuk mendiseminasikan Growth Academy, sebuah forum pengetahuan yang didirikan oleh Bank Dunia dan Universitas Chicago, untuk mendalami tema-tema utama yang dibahas dalam WDR24. Growth Academy bertujuan untuk memberikan wawasan mutakhir dan perangkat praktis bagi para pembuat kebijakan dan peneliti untuk mengatasi tantangan pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, Bank Dunia dan Universitas Chicago menawarkan edisi khusus Growth Academy yang disesuaikan dengan tantangan pertumbuhan spesifik kawasan ASEAN.
Selaras dengan hal tersebut, Sri Mulyani lebih lanjut mengungkapkan bahwa sebagai kelompok negara, ASEAN harus bekerja sama dalam mengatasi tantangan regional. “Integrasi regional adalah kunci bagi kawasan untuk tumbuh bersama dan mengatasi tantangan regional dan global, termasuk dalam menghindari jebakan pendapatan menengah”. (atn-fms)







