BI Akhirnya Turunkan Suku Bunga Acuan
Jakarta (Sindo) – Bank Indonesia (BI) akhirnya menurunkan tingkat suku bunga acuan BI Rateuntuk pertama kali sejak Desember 2007.Rapat Dewan Gubernur BI kemarin sepakat memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) dari 9,5% menjadi 9,25%. ”Keputusan menurunkan BI Rate diharapkan dapat menjaga gairah sektor usaha di tengah melesunya perekonomian global,” ujar Direktur Perencanaan Strategis dan Humas BI Dyah NK Makhijani di Jakarta kemarin.
Menurut Dewan Gubernur BI,dampak krisis keuangan terhadap perekonomian global semakin nyata seperti terlihat dari penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3% menjadi 2,2%. Pengaruh dampak krisis keuangan terhadap perekonomian nasional juga semakin terlihat.
Di sisi lain, penurunan harga minyak dan berbagai komoditas telah mengurangi tekanan inflasi di dalam negeri. Laju inflasi pada November 2008 bahkan terendah dibanding bulan yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. ”Tren ini diperkirakan terus berlanjut pada 2009,”kata Dyah.
BI terakhir kali menurunkan tingkat suku bunga acuan BI Ratepada Desember 2007 sebesar 25 bps dari 8,25% menjadi 8%. BI Rate kemudian stagnan di level 8% hingga April 2008. Selama periode Mei–Oktober 2008,BI menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 bps setiap bulannya hingga mencapai 9,5% pada Oktober. Pada November BI mempertahankan suku bunga acuan di level 9,5%. Ekonom CIMB-Niaga Winang Budoyo menilai positif kebijakan penurunan BI Rate.
Penurunan suku bunga akan mendorong pengeluaran domestik, sehingga akan menggerakkan sektor riil. ”Keputusan ini sangat tepat di tengah kondisi saat ini.Sektor riil akan lebih berkembang,” paparnya. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menilai, penurunan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 bps belum ideal.Penurunan 25 bps tidak akan berdampak signifikan terhadap perkembangan dunia usaha dalam negeri.
“(Menurut) perhitungan kami, penurunan yang cukup ideal sehingga bisa memenuhi ekspektasi kondisi saat ini adalah minimum 50 bps,” ujarnya di Jakarta kemarin. Pemangkasan BI Rate 25 bps tidak akan memicu penurunan tingkat suku bunga kredit modal kerja dan konsumsi.
Terlebih, saat ini beberapa bank cukup ketat dalam mengucurkan kredit. ”Perlu waktu lama bagi perbankan untuk melakukan penyesuaian,”tambah Sofjan. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat berharap BI mendorong perbankan untuk segera menyesuaikan tingkat suku bunga pascapenurunan BI Rate.
Perbankan harus sadar bahwa dunia usaha saat ini membutuhkan dukungan pembiayaan agar perekonomian tetap berjalan. “Penurunan suku bunga kredit harus segera dilakukan, terutama bagi industri padat karya dan menghasilkan banyak devisa,”tandas Hidayat.
Serempak
Sejumlah bank sentral di dunia kemarin serentak menurunkan suku bunga acuan dengan harapan bisa memacu pertumbuhan ekonomi di tengah krisis keuangan global. Di Eropa,Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas suku bunga sebesar 75 bps menjadi 2,5%. Bank Sentral Inggris (BoE) menurunkan suku bunga 100 basis poin atau 1% dari semula 3% menjadi 2%. Bank Sentral Swedia (Riksbank) juga melakukan hal yang sama dengan memangkas suku bunga 175 bps (1,75%) menjadi 2,0% dari semula 3,75%.
Di kawasan Asia Pasifik, Bank Sentral Selandia Baru memangkas suku bunganya sebesar 1,5% menjadi 5%. Presiden ECB Jean-Claude Trichet menyatakan,penurunan suku bunga dilakukan demi mengantisipasi resesi perekonomian Eropa tahun depan. Sementara bagi BoE, penurunan suku bunga kali ini merupakan yang terendah sejak 1951. Analis memperkirakan potongan suku bunga ini mengikuti indikator bisnis yang sedang menghadapi resesi.
Sementara itu, rilis Riksbank menyebutkan, pemotongan suku bunga dibutuhkan untuk menetralkan pembangunan ekonomi yang melemah. Menurut Riksbank, pada kenyataannya suku bunga harus dipangkas lantaran berbagai kebijakan lain tidak memiliki dampak besar.
Di bagian lain, pemangkasan suku bunga di Selandia Baru sebesar 1,5% menjadi 5% dari semula 6,5% dilakukan sebagai usaha untuk secepatnya keluar dari krisis yang terburuk sejak 18 tahun terakhir. Sebelumnya, sejumlah negara juga telah menurunkan suku bunga. Australia dari semula 7,25% menjadi 4,25%, Thailand menjadi hanya 2,75% dari sebelumnya 3,75%, dan China 5,58% dari sebelumnya 7,47%. (tomi sujatmiko/zaenal muttaqin/AFP/Rtr/AP/susi)