Pemerintah Siapkan Rp 50 Triliun
Untuk mengatasi dampak krisis keuangan global, khususnya untuk menggerakkan sektor riil, pemerintah telah menyiapkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp 50 triliun. Dana tersebut berasal dari sisa anggaran pemerintah pada APBN Perubahan 2008 sebesar Rp 38 triliun dan dana yang dicadangkan pada APBN 2009 sebesar Rp 12 triliun.Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pernyataan pers, seusai mengunjungi Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Minggu (4/1).
”Insya Allah, akan ada dana Rp 50 triliun untuk mengatasi dampak krisis dunia di negeri kita ini. Dana ini sangat berguna,” papar Presiden.
Dana di atas merupakan salah satu stimulus fiskal yang merupakan salah satu kebijakan untuk mengantisipasi dampak krisis keuangan dunia yang diperkirakan memuncak pada tahun 2009. Dana stimulus fiskal itu disiapkan pemerintah untuk menggerakkan sektor riil.
Saat memberikan keterangan pers, seusai memimpin rapat koordinasi di Departemen Keuangan, sehari sebelum akhir tahun, Presiden Yudhoyono mengatakan, paket stimulus ekonomi pemerintah akan selalu disesuaikan dengan kemampuan anggaran negara. Maka, paket stimulus itu tidak akan menimbulkan beban baru bagi pemerintah.
Menurut Presiden, sisa anggaran sebesar Rp 38 triliun itu bukan berasal dari dana APBN 2008 yang tidak terserap. Akan tetapi, dana tersebut berasal dari penerismaan negara yang meningkat hingga 10 persen dan melampaui nilai yang ditargetkan dalam setoran kenaikan pajak.
Puas APBN 2008
Lebih jauh, Presiden Yudhoyono menyatakan kepuasannya terhadap kinerja APBN 2008 yang pada tanggal 1 Januari lalu dilaporkan Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian, yang juga merangkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
”Dilaporkan, 99,6 persen atau Rp 985 triliun anggaran belanja terserap untuk belanja negara. Adapun penerimaan negara dari sektor pajak mengalami peningkatan sampai 10 persen sehingga total mencapai Rp 981 triliun, sehingga terdapat selisih sebesar Rp 4 triliun dari penerimaan negara tahun lalu,” tutur Presiden.
Maka, defisit anggaran akan tercapai sebesar 0,1 persen dari produk domestik bruto (PDB). ”Defisit anggaran yang berasal dari pengurangan belanja negara sebesar Rp 985 triliun dikurangi penerimaan negara Rp 981 triliun, maka defisit menjadi lebih kecil dari target defisit sebelumnya. Targetnya sebesar 2,1 persen dari PDB,” papar Presiden.
Presiden Yudhoyono mengaku senang dengan berita baik yang dilaporkan Sri Mulyani Indrawati. ”Dengan berita baik itu, saya senang penerimaan negara meningkat. Juga penerimaan pajak yang meningkat. Ini menunjukkan kesadaran rakyat membayar pajak sangat tinggi sekarang ini,” ujar Presiden Yudhoyono.
Sumber : E-Kliping (Senin, 5 Januari 2009)