Rp 5 Triliun Cadangan buat PLN
Guna menjaga ketersediaan bahan bakar untuk pembangkit listrik pada 2009, pemerintah mengalokasikan dana Rp 5 triliun. Dana tersebut hanya digunakan bila pasokan batu bara ke pembangkit tenaga listrik terhambat, sehingga PT Perusahaan listrik Negara harus menggunakan bahan bakar minyak, yang harganya relatif mahal dibandingkan dengan harga batu bara. ”Dana itu termasuk dalam dana cadangan risiko fiskal yang kami alokasikan Rp 15 triliun untuk tahun 2009,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan, Anggito Abimanyu, Selasa (6/1) di Jakarta.
Dijelaskan, dana Rp 15 triliun untuk cadangan risiko fiskal itu, Rp 10 triliun di antaranya untuk mengantisipasi bila terjadi perubahan asumsi makro ekonomi, seperti target pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, nilai tukar rupiah, dan suku bunga.
Adapun Rp 5 triliun lainnya untuk mengamankan pasokan bahan bakar ke pembangkit tenaga listrik.
”Penetapan risiko fiskal untuk batu bara dimaksudkan jika pasokan batu bara terhenti, pemerintah akan membantu pengadaan BBM. Karena harga BBM lebih mahal, maka kami menyediakan dana cadangan risiko fiskal ini,” ujar Anggito.
Masalah serius
Tahun 2009, menurut Anggito, pemerintah menargetkan penjualan energi listrik nasional 134,257 juta MWh, atau tumbuh 6,72 persen dibanding 2008, dengan asumsi, nilai tukar rupiah Rp 9.100 per dollar AS, dan harga minyak dunia 120 dollar AS per barrel.
Masalah bahan bakar untuk pembangkit listrik merupakan masalah serius bagi PLN. Pada akhir 2007, PLN menanggung kerugian Rp 1,51 triliun karena pemakaian BBM melebihi kuota.
Pembelian BBM tahun 2007 mencapai Rp 45,97 triliun, padahal ditargetkan hanya Rp 38,21 triliun. Naiknya biaya untuk BBM karena penggunaan bahan bakar lain, gas dan batu bara berkurang.
Diperkirakan kebutuhan batu bara untuk pembangkit tahun 2011 mencapai 89 juta ton, atau hampir empat kali lipat dari kebutuhan saat ini.
Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan batu bara, PLN telah bernegosiasi dengan para produsen batu bara untuk menggunakan batu bara berkalori rendah bagi pembangkit listrik.
Harga yang ditawarkan konsorsium Arutmin Rp 248.171 per ton dengan volume 630.000 ton per tahun. Dengan konsorsium Kasih, disepakati Rp 248.171 per ton untuk volume 378.000 ton per tahun.
Sumber : E-Kliping (Kompas 7 Januari 2009)