Atasi Krisis,G-20 Dukung Usulan Indonesia
Jakarta (Sindo) – Pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G-20 di Sao Paulo,Brasil, kemarin menyetujui sejumlah kesepakatan dan rancangan keputusan penting tentang krisis keuangan global.
Salah satu kesepakatan yang disetujui adalah usulan Indonesia mengenai pembentukan mekanisme dukungan dana bagi negaranegara berkembang dalam mengatasi krisis keuangan global.
”Dukungan dana pembangunan diberikan kepada negara-negara emerging markets yang berfundamen baik, namun terkena imbas krisis keuangan,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam siaran pers yang diterima Sindo di Jakarta kemarin. Kesepakatan di Sao Paulo selanjutnya akan dibahas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Washington DC,Amerika Serikat (AS),15 November mendatang.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dijadwalkan hadir dalam KTT tersebut. Sri Mulyani mengungkapkan,para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G-20 juga menyepakati pentingnya upaya mengembalikan kepercayaan terhadap sistem keuangan.Mereka juga menilai pentingnya langkah bersama dalam mengatasi kelangkaan likuiditas internasional, mereformasi arsitektur keuangan global, serta memperbaiki mekanisme pengawasan terhadap sektor keuangan.
”G-20 juga memberi mandat kepada Bank Dunia dan bank pembangunan lain untuk meningkatkan kapasitas pinjaman. Kemudian menugaskan IMF untuk mereformasi prosedur pinjaman dengan menciptakan instrumen likuiditas yang dapat dicairkan cepat dan tanpa persyaratan bagi negara yang memiliki track record kebijakan baik,”ungkap Menteri Sri Mulyani.
G-20 sepakat krisis keuangan saat ini diakibatkan oleh pengambilan risiko berlebihan pada pasar keuangan. Krisis lalu menyebabkan kesulitan pendanaan di negara-negara emerging marketslantaran diperparah oleh tren aliran modal ke negara maju.
”Akibatnya negara-negara berkembang, khususnya emerging markets, mengalami ketidakadilan,” ujar Menkeu. Forum G-20 dibentuk pada 1999 sebagai forum bersama antara negara maju dan negara berkembang yang penting (emerging markets). Pembentukan G-20 merupakan respons atas krisis keuangan Asia pada tahun 1997- 1998.
Anggota G-20 mewakili 85% produk domestik bruto (PDB) dunia, dua pertiga populasi global, serta lebih dari 80% kepemilikan saham di Bank Dunia dan IMF. Menteri Keuangan Brasil Guido Mantega mengatakan, pada pertemuan di Washington nanti pemimpin negaranegara G-20 akan menindaklanjuti kesepakatan Sao Paulo. Guido meminta negaranegara yang ekonominya sedang tumbuh dapat memainkan peranan penting dalam krisis finansial.
”Solusi-solusi itu harus cepat datang.Dalam satu atau dua atau tiga bulan kita akan melihat jawaban dari kondisi ini,”katanya. Kendati demikian, saat ditanya apakah G-20 akan menggantikan kelompok negaranegara industri maju (G-7) sebagai komite yang akan mengoordinasikan permasalahan ekonomi, dia menjawab bahwa hal tersebut belum dibicarakan.
Namundiamengakui G-20 adalah calon kuat untuk mengoordinasikan berbagai tindakan tersebut. Direktur Penelitian G-20 di Universitas Toronto, John Kirton, mengatakan, substansi dari kesepakatan G-20 telah diterima sebagai janji untuk mengatasi krisis finansial global.” G-20 muncul sebagai pusat pertemuan yang efektif terhadap permasalahan krisis finansial,”katanya.
Ekonom AS David Kotok menilai langkah G-20 merupakan sesuatu yang positif. ”Globalisasi dan integrasi keuangan dunia terancam oleh kekacauan ekonomi ini,” ujar Kotok. Namun, ekonom AS yang lain, Robert Brusca, mengatakan bahwa G-20 telah gagal menawarkan bantuan khusus untuk memperbaiki ekonomi. ”Tak ada hasil konkret,walaupun mereka berkata mereka harus mengambil langkahlangkah konkret. Grup sebesar ini sulit mengambil keputusan,” tudingnya.
Persiapan KTT
Dari dalam negeri, Presiden SBY terus melakukan rapat bersama ekonom dan pengusaha yang tergabung dalam tim panelis bidang ekonomi untuk membahas bahan-bahan yang akan disampaikan dalam KTT G-20 di Washington DC,15 November mendatang. Ekonom LPEM UI Chatib Basri mengatakan, dalam rapat itu tim panelis mengusulkan langkah-langkah yang bisa diambil untuk meminimalkan dampak krisis finansial global.
”Krisis ini kan sumbernya dari luar dan Presiden SBY mengusulkan mengenai support yang perlu dibutuhkan, misalnya negara-negara berkembang itu mungkin perlu fiskalnya lebih ekspansif karena perlu untuk pembiayaan kemiskinan dan infrastruktur,” ujar Chatib seusai mengikuti rapat panelis yang dipimpin langsung oleh Presiden SBY di Kantor Kepresidenan, Jakarta,kemarin.
Chatib menjelaskan, untuk mewujudkan hal itu negara-negara berkembang membutuhkan dukungan dari negara-negara maju.Menurutnya, dalam kondisi krisis global saat ini,sangat tidak mudah untuk mendapatkan dana, mengingat pasar surat utang domestik maupun luar agak sulit. ”Sehingga Presiden itu bicara mengenai kemungkinan support, standby mechanism,”katanya.
Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan, agenda yang akan dibawa Presiden dalam G-20 sangat jelas,yaitu membuat tindakan bersama dari seluruh negara-negara di dunia untuk mengatasi krisis global. Menurutnya, upaya mencari solusi atas krisis global harus melibatkan AS lantaran krisis saat ini berawal dari negeri Paman Sam tersebut.
”Itu (krisis global) tidak bisa (diselesaikan) tanpa dilakukan secara bersama sekarang ini, dan tidak bisa diselesaikan pula tanpa melibatkan AS,”ujarnya. Selain menghadiri pertemuan G-20, Presiden SBY dijadwalkan melakukan sejumlah pertemuan bilateral. (muhammad ma’ruf/ rarasati syarief/AFP/ Rtr/susi)