Defisit Anggaran Negara Turun Jadi 1,7 Persen

Pemerintah akan mengurangi target defisit anggaran tahun ini menjadi 1,7 persen dari produk domestik bruto. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2008, pemerintah mematok target defisit 2,2 persen atau Rp 94,5 triliun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan penurunan target defisit itu dilakukan setelah melihat pendapatan dan realisasi belanja tahun ini. Penurunan target defisit menjadi 1,7 persen itu setara dengan Rp 16 triliun. "Jadi target defisit tahun ini menjadi Rp 78,1 triliun," kata Rahmat Waluyo kepada wartawan di Jakarta kemarin.

Selain karena membaiknya penerimaan pajak dan belanja yang belum optimal, pemerintah masih punya surplus kas. Penurunan target defisit ini juga pengaruh dari penurunan harga minyak mentah yang berdampak positif karena mengurangi beban subsidi dalam anggaran negara. "Neraca pembayaran kita jadi makin baik," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu.

Menurut Rahmat, dengan menurunkan defisit anggaran tersebut, kebutuhan pembiayaan melalui penerbitan Surat Utang Negara ditaksir menurun sekitar Rp 15 triliun. Target penerbitan SUN neto dalam APBN Perubahan 2008 sebesar 2,6 persen atau Rp 117,8 triliun direvisi menjadi 2,2 persen atau Rp 102,8 triliun.

Sampai saat ini, realisasi penerbitan SUN sudah terpenuhi karena sudah mencapai Rp 102,7 triliun. Tapi target penerbitan SUN bruto sebesar Rp 158 triliun baru terkumpul Rp 126 triliun atau kurang Rp 31 triliun. "Yang betul-betul sisa adalah Rp 31 triliun dikurangi Rp 15 triliun, jadi sekitar Rp 16 triliun," katanya

Kekurangan itu akan dipenuhi dengan penerbitan surat berharga negara syariah (sukuk), yang ditargetkan sebesar Rp 12 triliun. Sisanya, Rp 4 triliun, akan dipenuhi dengan penerbitan SUN reguler di dalam negeri melalui enam kali lelang sampai akhir tahun ini. Penerbitan Surat Perbendaharaan Negara juga diperbanyak untuk memperbanyak instrumen pembiayaan.

Rahmat melanjutkan, kepemilikan asing di SUN masih stabil dengan rata-rata sebesar 20 persen sejak Agustus lalu sampai sekarang. "Tidak ada redemption seperti yang dikhawatirkan," katanya

Sumber : E-Kliping (Koran Tempo 16 September 2008)