Rupiah Terdepresiasi 0,47 Persen

Koran-Tempo -- Pergerakan rupiah, meski mengalami depresi di akhir kuartal ketiga, secara rata-rata masih tercatat menguat.

Laporan kebijakan moneter Bank Indonesia yang dilansir kemarin menyebutkan, rata-rata nilai tukar rupiah pada kuartal ketiga terapresiasi 0,47 persen menjadi 9.216 per dolar Amerika Serikat dari 9.259 pada kuartal kedua 2008.

Sayangnya, angka penutupan per kuartal ketiga terjadi pelemahan 1,76 persen dibanding kuartal sebelumnya, dari Rp 9.220 pada kuartal kedua menjadi Rp 9.385 per dolar AS pada akhir kuartal ketiga.

Sedangkan permintaan valuta asing di dalam negeri masih didominasi oleh permintaan valuta asing perusahaan. Laporan BI menyebutkan meningkatnya impor mendorong terjadinya peningkatan permintaan valuta asing, khususnya dari perusahaan-perusahan negara.

Secara rata-rata, permintaan valuta asing perusahaan ini sedikit lebih tinggi, US$ 354 juta per hari, dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai US$ 329 juta per hari.

Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono mengatakan rupiah sulit kembali di bawah level 9.500 per dolar AS karena selama ini nilai tukar mata uang domestik terlampau mahal. Akibatnya, terjadi overvalue dan koreksi yang ditunjukkan dengan impor Indonesia yang meningkat sebesar US$ 11 miliar.

"Jadi tidak usah berharap rupiah akan kembali ke 9.100 per dolar AS. Tapi rupiah juga tidak akan terjerembap hingga ke level 15 ribu per dolar AS," ujar Tony.

Royal Bank of Scotland Group Plc, seperti dikutip Bloomberg kemarin, memprediksi rupiah akan anjlok 16 persen dalam enam bulan ke depan.

Pelemahan rupiah ini karena devisa negara berbentuk mata uang asing diperkirakan bakal berada pada level membahayakan akibat digunakan untuk intervensi pasar.

Menurut perkiraan Royal Bank, rupiah yang bulan lalu mengalami pelemahan terbesar selama tiga tahun terakhir akan terjun bebas ke level 11.700 per dolar AS sampai akhir Maret tahun depan.

Royal Bank, bank keempat terbesar di Inggris dari sisi nilai pasar, kemarin mengirimkan laporan hasil riset tentang nilai tukar rupiah kepada para klien mereka.

Cadangan devisa Indonesia, menurut laporan itu, diperkirakan bakal turun US$ 3,8 miliar menjadi US$ 56,8 miliar dalam tujuh minggu ke depan, terhitung sejak 12 September. Cadangan devisa terkuras karena BI melepas mata uang asing untuk menguatkan rupiah.

Ekonom Royal Bank of Scotland, Euben Paracuelle, yang menulis laporan itu menyebutkan BI harus mengurangi intervensi jika cadangan devisa terus mengalami penurunan tajam.

Menurut dia, nilai tukar rupiah tertekan setelah BI menaikkan suku bunga patokan (BI Rate) untuk menekan laju inflasi tahun ini. "Tahun depan perlu kebijakan yang bisa mendongkrak rupiah," kata Paracuelle dalam laporannya.

Rupiah kemarin sempat melemah lagi ke level 9.777 per dolar AS. Tapi akhirnya ditutup ke 9.765 per dolar AS atau melemah 25 poin dibanding penutupan pada Selasa lalu.

Gubernur BI Boediono sebelumnya mengatakan akan mengoptimalkan cadangan devisa untuk menjaga rupiah tetap stabil dan tidak terpuruk terlalu tajam. "BI akan terus di pasar dan mengurangi volatilitas (rupiah) yang kencang dengan devisa," katanya.

Menurut Boediono, pelemahan rupiah yang terjadi merupakan gejala global. Secara fundamental, tidak ada masalah dengan perekonomian Indonesia. "Fundamental kita cukup untuk menahan gejolak," ujarnya.

Berdasarkan data BI, cadangan devisa cenderung terus turun. Cadangan devisa Indonesia per 29 September 2008 mencapai US$ 57,108 miliar. Jumlah itu lebih rendah dibanding cadangan devisa per akhir Agustus yang mencapai US$ 58,356 miliar.

Adapun cadangan devisa per akhir Agustus turun sekitar US$ 2,16 miliar dibanding posisi per akhir Juli yang mencapai US$ 60,563 miliar.

Menurut Deputi Gubernur BI Budi Mulia, cadangan devisa per 29 September itu masih aman karena berada di atas 4,5 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah.