G-20 Sepakat Rombak Sistem Keuangan
WASHINGTON (Sindo) - Para pemimpin negara G-20 sepakat mereformasi sistem keuangan global untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mencegah gejolak finansial terulang.
Keputusan itu merupakan salah satu poin penting hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 tentang Pasar Finansial dan Ekonomi Dunia yang berakhir di Washington DC, Amerika Serikat (AS), Sabtu (15/11) malam atau kemarin pagi waktu Indonesia. G-20 juga menyepakati penggunaan dana cadangan sesegera mungkin untuk menghindari kemerosotan ekonomi dunia.
Sementara dalam bidang perdagangan,peserta konferensi sepakat melawan proteksi perdagangan dan memperbaiki regulasi bidang keuangan global. Kami memutuskan untuk bekerja sama demi memperbaiki pertumbuhan ekonomi global dan mencapai reformasi sistem keuangan global, demikian bunyi pernyataan bersama G-20, Sabtu (15/11) malam waktu setempat.
Negara-negara yang menghadiri pertemuan G-20 mewakili 85% perekonomian global dan dua pertiga populasi penduduk dunia. KTT digelar untuk meminimalkan dampak krisis finansial global agar depresi ekonomi pada era 1929 - 1930 tidak terulang. Kendati menghasilkan beberapa keputusan penting, hasil KTT G-20 di Washington tidak sesuai dengan harapan sejumlah pengamat.
Dalam beberapa pekan terakhir, para pengamat berharap pertemuan Washington kali ini akan menjadi Bretton Woods jilid II di mana akan muncul satu institusi baru yang akan mengelola perekonomian dunia. Bretton Woods merupakan pertemuan yang menghasilkan lembaga keuangan dunia seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pada 1944. Saat itu juga dijadikan sebagai awal mula ditetapkannya dolar AS sebagai salah satu mata uang utama dunia.
Dalam pertemuan di Washington, Sabtu (15/11),para kepala negara menugasi para menteri keuangan untuk menyusun rekomendasi KTT G-20 paling lambat 31 Maret 2009. Rekomendasi itu selanjutnya akan dibawa pada pertemuan berikutnya, April 2009. Masalah-masalah yang menjadi perhatian khusus dalam reformasi keuangan global antara lain regulasi pasar keuangan, langkah memperkuat transparansi dan likuiditas, serta upaya mempermudah akses kepada lembaga keuangan.
Presiden AS George W Bush dalam pertemuan tersebut mengatakan, para pemimpin G-20 juga sepakat memodernisasi IMF dan Bank Dunia. Kedua lembaga ini penting, tetapi operasionalisasi mereka masih berdasarkan kondisi ekonomi pada 1944, tandasnya. Para pemimpin negaranegara G-20 juga mendorong Bank Dunia dan lembaga keuangan multilateral lain untuk menggunakan kapasitas keuangan mereka secara penuh dan mendukung pemberian berbagai fasilitas baru.
G-20 juga memastikan kembali bahwa IMF, Bank Dunia, dan lembaga keuangan lain yang memiliki sumber dana untuk melanjutkan perannya dalam upaya menangani krisis. Para pemimpin G-20 sepakat bahwa mereka membutuhkan kebijakan lebih luas guna membangun pertumbuhan ekonomi serta melindungi pasar dan pembangunan di negara-negara berkembang.
Usulan Indonesia
Di bagian lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan,pertemuan pemimpin negara anggota G-20 yang berlangsung di Washington, Sabtu (15/11), belum akan menyelesaikan persoalan krisis keuangan yang sedang melanda dunia. Meski begitu, pertemuan puncak G-20 sangat diperlukan untuk mencari jalan bersama dan mengintegrasikan langkah-langkah mengatasi krisis keuangan.
Pertemuan puncak G-20 ini dirancang bukan untuk menyelesaikan semua hal. Mungkin perlu satu atau dua pertemuan puncak untuk bisa memikirkan semuanya dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi dunia saat ini, kata Presiden dalam jumpa pers dengan media massa dari Indonesia di Hotel Ritz Carlton,Washington DC, Sabtu (15/11) malam waktu setempat.
Presiden juga mengatakan agar tidak berharap banyak terhadap kesepakatan dunia dalam mengatasi krisis ini.Namun, pertemuan G-20 ini memberikan kepastian mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan. Komitmen dari para pemimpin yang ada dalam forum G-20 cukup kuat untuk bersama-sama dikelola. Saya menilai pertemuan puncak ini memiliki manfaat yang riil untuk satu kerja sama global mengatasi masalah ini, katanya.
Mengenai usulan Indonesia agar dibentuk dana penunjang belanja global (global expenditure support fund), menurut Presiden, hal itu bisa diterima oleh para peserta dan dimasukkan dalam poinpoin deklarasi.Kendati begitu, mekanisme yang lebih terperinci masih akan dimatangkan. Jadi tidak perlu menunggu pertemuan puncak berikutnya untuk lembaga multilateral menghimpun dana dari negara-negara tertentu yang mengalami surplus, katanya.
Sebelumnya,saat berpidato pada KTT G-20, Presiden SBY mengatakan,adanya dana penunjang belanja global akan memungkinkan negara berkembang,termasuk Indonesia, terus menjalankan program penanganan kemiskinan, kesehatan, dan infrastruktur. Kita perlu membentuk semacam global expenditure support fund untuk mendukung pembiayaan bujet di luar bantuan pembangunan yang reguler.
Dana ini harus disediakan untuk negaranegara yang rentan dan sangat membutuhkan, ujar Presiden SBY di hadapan para kepala negara anggota G-20. Dana ini harus diberikan kepada negara-negara yang memiliki rekam jejak kuat dalam melaksanakan kebijakan yang sehat dan fiskal berkelanjutan.
Menurut Presiden SBY, langkah ini akan memungkinkan negara-negara maju mempertahankan pertumbuhan dan pada saat yang sama melindungi negara miskin mencapai tujuan pembangunan global. Kedatangan Presiden SBY ke National Building Museum, yang merupakan tempat berlangsungnya pertemuan KTT G-20, disambut Presiden AS George W Bush.
Presiden SBY menyampaikan sambutan setelah giliran Presiden Bush, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, dan Presiden China Hu Jintao. Presiden SBY mengatakan, negara maju memiliki sumber daya lebih baik untuk melakukan usaha-usaha yang mengembalikan pertumbuhan global.Karena itu, mereka perlu mempertahankan perdagangan dan investasi di negara-negara berkembang.
Di lain pihak, negara-negara berkembang harus mampu melakukan belanja fiskal yang efektif di area-area yang kritis seperti pembangunan infrastruktur, pembentukan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan tujuan-tujuan pembangunan lainnya.
Karenanya,kami meminta komunitas internasional, terutama negara maju dan kaya sumber daya serta institusi- institusi keuangan internasional, untuk menyediakan akses dan instrumen finansial dengan mekanisme fleksibel untuk membantu negara berkembang dalam menghadapi masalah likuiditas, ujarnya.
Semua pihak, lanjut SBY, juga harus mendorong institusi keuangan multilateral untuk menyediakan likuiditas, kredit, dan fasilitas pembiayaan perdagangan sehingga aktivitas ekonomi global bisa dipertahankan. Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi kegagalan sistem keuangan global dengan menyediakan manajemen risiko yang disiplin dan keterbukaan informasi. Kami meminta institusi keuangan internasional untuk melakukan langkahlangkah yang terbaik dalam manajemen risiko, memperbaiki akuntabilitas, transparansi, dan pengawasan.
Kita membutuhkan peraturan yang lebih baik dan lebih efektif, tandasnya. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat mengatakan, secara mengejutkan Indonesia mendapatkan pujian dari Bank Dunia dan lembaga keuangan lain dalam KTT G-20.
Indonesia dinilai telah mengeluarkan kebijakan tepat untuk meminimalkan dampak krisis global. Seusai menghadiri pertemuan G-20,Presiden SBY melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Bank Dunia Robert Zoelick dan Perdana Menteri (PM) Australia Kevin Rudd. (meutia rahmi/AFP/Rtr/ andika hendra m/arif dc)
LAPORAN WARTAWAN Sindo
RARASATI SYARIEF dan IRAWAN NUGROHO
Washington DC