Pemerintah Revisi Target Dividen BUMN
Pemerintah merevisi target setoran dividen badan usaha milik negara tahun 2008 dari sebelumnya Rp 33 triliun menjadi Rp 27,02 triliun. Revisi ini terkait dengan penurunan harga minyak dunia ke level di bawah US$ 100 per barel.
"Faktor perubahan asumsi harga minyak akibat Indonesia crude price (ICP) turun signifikan sangat berpengaruh," kata Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil saat rapat dengan Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta kemarin.
Penurunan harga minyak dunia, kata Sofyan, juga berdampak pada berkurangnya setoran dividen PT Pertamina (Persero). Semula dividen Pertamina ditargetkan Rp 18,2 triliun dan kini turun menjadi hanya Rp 12,46 triliun. Berkurangnya setoran sebanyak Rp 5,7 triliun ini mempengaruhi target setoran dividen BUMN tahun 2008.
Menurut Sekretaris Kementerian Negara BUMN Said Didu, dividen Pertamina Rp 18,2 triliun itu berdasarkan patokan harga minyak sebesar US$ 145 per barel. Namun, seiring dengan turunnya harga minyak mentah dunia, dividen Pertamina diukur berdasarkan harga minyak US$ 100 per barel dengan pay out ratio 45 persen.
Selain terpengaruh penurunan ICP, penurunan dividen ini disebabkan oleh kinerja Pertamina yang terganggu akibat kerugian dari penjualan tabung elpiji 12 kilogram sebesar Rp 4 triliun. Penurunan ini, kata Sofyan, termasuk untuk meningkatkan cadangan dan pengembangan lapangan minyak dan gas.
Revisi target dividen BUMN ini mendapat sorotan tajam dari anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR. Salah satunya anggota Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi, Hamdan Ainie. "Pemerintah harus tetap menyetorkan dividen Rp 33 triliun karena tidak mungkin Pertamina rugi," katanya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta anggota Dewan memasukkan keberatan ini dalam postur rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara. Pembahasan lanjutannya bisa dilakukan dalam Panitia Kerja. "Karena postur RAPBN harus sudah disetujui Desember," kata Sri Mulyani.
Sumber : E-Kliping (Koran Tempo 19 September 2008)