Resesi Global Masih Bayangi Bursa

Kompas, SENIN - Pekan ini Bursa Efek Indonesia masih payungi awan hitam, seiring masih minimnya sentimen positif ke pasar. Bergugurannya bursa saham global akibat kekhawatiran terhadap resesi membetot Indeks Harga Saham Gabungan pekan lalu ke level terendah sejak Juni 2006 lalu.

IHSG pekan lalu anjlok 11,04 persen ke posisi 1.244,864. Kemudian indeks Kompas100 jatuh 12,76 persen pada 293,085. Serta indeks 45 saham blue chips atau LQ45 tinggal tersisa 234,533 atau melorot 12,94 persen.

Padahal transaksi perdagangan pekan lalu relatif rendah. "Investor terindikasikan masih enggan masuk kembali di pasar modal, dan memilih untuk menunggu indeks mencapai bottom-nya," sebut Analis Riset Panin Sekuritas Purwoko Sartono.

Ditambahkannya, nilai tukar Rupiah yang anjlok hingga menembus batas psikologis 10.000 menambah berita buruk bagi pasar.

Pekan ini, Panin Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan bergerak dengan kecenderungan melemah. "Disamping minimnya sentimen positif, pasar juga masih menanti dampak dari pembukaan suspensi perdagangan Grup Bakrie (BUMI, BNBR,dan ENRG)," ujarnya.

Diungkapkan Purwoko, perkembangan berita dari regional masih akan menjadi acuan bagi investor. Ia memperkirakan kisaran support-resistance akan berada pada 1.100-1.310.

Sementara itu, Wall Street Jumat (24/10) waktu setempat kembali terpuruk, seiring kekhawatiran resesi global. Indeks Dow Jones Industrial Average melorot 312,30 poin (3,59 persen) pada 8.378,95. Kemudian indeks S&P 500 melemah 3,45 persen menjadi 876,77, serta indeks komposit Nasdaq berkurang 3,23 persen ke posisi 1.552,03.

Dalam sebulan ini Dow jatuh 22,8 persen, S&P 500 anjlok 24,7 persent dan Nasdaq merosot 25,8 persen, hal ini menjadikan bulan terburuk bagi ketiganya sejak Oktober 1987. Bhakan bagi S&P 500, pencapaian ini menjadi yang terburuk sejak setelah perang dunia kedua.