Asumsi Makro APBN 2009 Bisa Berubah Lagi
Koran Tempo - Asumsi makroekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009 masih bisa berubah meski sudah disepakati pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat. Kemungkinan pemerintah mengubah asumsi ini akan disampaikan kepada DPR sebagai langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian ekonomi tahun depan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani kemarin mengatakan, selain mengubah asumsi makro, pemerintah meminta diberi kewenangan memotong kembali anggaran selama tahun berjalan. Pemotongan dilakukan jika pertumbuhan ekonomi mengalami perubahan yang sangat tinggi. Pada saat bersamaan, sisi pembiayaan dan pembelanjaan melalui defisit tidak dimungkinkan.
Permintaan ini disampaikan kepada DPR untuk menghormati hak anggaran Dewan. "Ini yang sedang diformulasikan," kata Sri Mulyani di Jakarta kemarin. Meski punya kewenangan memotong anggaran, pemerintah tidak akan mengorbankan program-program prioritas.
APBN 2009 yang fleksibel ini, kata dia, untuk mengantisipasi ketidakpastian perekonomian dunia. Ketidakpastian itu berasal dari risiko asumsi makroekonomi, fluktuasi harga minyak dunia, dan gejolak ekonomi global yang masih terus terjadi. Dia yakin DPR memiliki pemahaman yang sama dengan pemerintah.
Sri Mulyani mengatakan, dalam 10 langkah mengantisipasi krisis, salah satunya adalah langkah untuk menjaga kesinambungan fiskal 2009. Langkah untuk menjaga kesinambungan APBN, Sri melanjutkan, akan diumumkan segera setelah mendapat persetujuan DPR.
Sementara itu, Ketua Panitia Anggaran Emir Moeis mengatakan pemotongan anggaran memang diperlukan dan APBN tahun depan harus lebih fleksibel. Dia bahkan yakin usia anggaran belanja negara yang sudah disepakati tidak akan lama. "Apalagi akhir-akhir ini perkembangannya luar biasa," kata Emir.
Gejolak ekonomi yang terjadi saat ini membuat sejumlah asumsi makroekonomi dalam APBN yang sudah disepakati berbeda. Dalam APBN 2009, nilai tukar rupiah ditetapkan 9.400 per dolar Amerika Serikat. Padahal nilai tukar itu sempat menyentuh Rp 12 ribu. Begitu juga harga minyak dunia, yang menyentuh US$ 65 per barel. Dalam APBN, harganya dipatok US$ 80.
Emir menilai pemerintah harus memikirkan solusi untuk meningkatkan penyerapan anggaran. Sisa anggaran 10-20 persen bisa dijadikan stimulus sektor riil agar penyerapan anggaran bisa optimal. "Walaupun ada perubahan daftar isian penggunaan anggaran, sebaiknya tidak usah menunggu," katanya
Sumber : E-Kliping (Koran Tempo 30 Oktober 2008)