Krisis Finansial Global, Suatu Telaah Terhadap Teori Krisis

Tahun 2008 baru saja ditutup dan kini kita menyongsong tahun baru 2009 dalam kondisi yang sedikit memprihatinkan. Memprihatinkan karena di tahun 2009 inilah sesuai dengan perkiraan banyak pengamat merupakan tahun pertama dampak krisis finansial global yang menimpa Amerika Serikat di medio 2008. Menjadi semakin memprihatinkan jika kita simak kembali berita di media massa bahwasanya tahun 2008 juga ditutup dengan agresi militer Israel terhadap musuh abadinya, Palestina. Perang bagaimanapun juga pasti akan menimbulkan bahaya resesi yang luar biasa khususnya jika terjadi bersamaan dengan bencana krisis. Tahun 2008 sebetulnya sempat mencatat suatu peristiwa yang menjajikan perubahan yakni terpilihnya Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat menggantikan presiden terdahulu yang meninggalkan catatan perang dan krisis yang sangat memilukan bagi rakyat Amerika. Dalam beberapa pidato kampanye menjelang pemilihan, Barrack Obama jelas-jelas akan menimbang kembali peranan Amerika Serikat di dalam percaturan dunia khususnya kebijakan terhadap Timur Tengah.

Ketika kita bicara masalah krisis, banyak pihak yang mengartikan krisis tersebut sebagai krisis nilai tukar (currency crisis) yang ditandai dengan terjadinya devaluasi mata uang domestik serta perubahan sistem nilai tukar dari fixed exchange rate menjadi flexible/floating exchange rate. Berbicara masalah krisis juga dapat diuraikan dalam 3 model krisis berdasarkan pengalaman beberapa negara. Secara garis besar model krisis dapat dikelompokkan menjadi a) First Generation Model b) Second Generation Model dan c) Third Generation Model.

First Generation Model (FGM) sering disebut sebagai exogeneous policy model (Krugman, 1979 dan Flood&Garber, 1984). Model krisis ini lebih menitikberatkan kepada ketidakkonsistenan kebijakan fiskal, moneter dan nilai tukar. Oleh beberapa pengamat penyebab utama terjadinya krisis model ini adalah serangan para spekulator terhadap nilai tukar suatu negara yang memaksa negara tersebut mengubah nilai tukar mata uangnya. Ada beberapa hal yang menjadi dasar analisis dari model ini antara lain ; single tradable goods, full emplyoment, small open economy, exogeneous output, PPP, agen ekonomi diasumsikan dalam kondisi perfect foresight serta memegang 3 jenis aset baik domestic money, domestic bond serta foreign bond. Asusmi lainnya adalah tidak ada bank komersial sehingga Ms adalah monetery base, nilai tukar fixed, domestik credit meningkat dengan laju yang tetap untuk membiayai defisit pemerintah.

Proses terjadinya FGM dapat dijelaskan pada gambar tersebut di atas. Spekulator dan investor tidak akan menunggu hingga nilai r =0. Bila jumlah R sudah menurun mendekati Rmin, mereka akan menukarkan domestic asset ke domestic currency dan kemudian domestic currency ke foreign currency. Kondisi inilah yang akan mempercepat runtuhnya nilai tukar mata uang domestik yang menganut fixed exchange rate.

Spekulator akan memperhitungkan berapa lama cadangan devisa akan menipis dan kapan akan menyerang, karena kalau tidak mereka akan rugi. Pada Rmin inilah akan terjadi natural collapse dan mereka akan menderita rugi. Pada natural collapse, depresiasi mata uang domestik yang semula nol akan meningkat ke suatu bilangan positif, dan tingkat bunga, i, akan meningkat, sehingga Md menurun. Agar keseimbangan pasar uang tetap terjadi, real Ms hrs turun. Hal ini terjadi dengan ke tingkat harga domestik, p, sejalan dengan terjadinya devaluasi. Persepsi pasar terhadap cepatnya penurunan cadangan devisa menyebabkan kekhawatiran � domestic currency attack. Secara empiris First Generation Model (FGM) ditandai oleh membengkaknya defisit APBN suatu negara, pertumbuhan Ms yang berlebihan, cadangan devisa yang semakin terkuras, tingkat inflasi yang tinggi serta over valued dari nilai tukar mata uang domestik. Secara empiris FGM ini dapat menjelaskan fenomena krisis yang terjadi di bebebrapa negara Amerika Latin athun 1970 dan 1980-an.

Second Generation Model (SGM) sering disebut oleh banyak pengamat sebagai endogeneous policy model atau self fullfiling process. Munculnya SGM merupakan jawaban terhadap fenomena krisis yang terjadi di Eropa dengan European Exchange Rate Mechanism (ERM) pada tahun 1992. Ketika itu antar negara-negara Eropa dalam kerangka EU berlaku fixed exchange rate system atau tepatnya crawling peg system. Setiap mata uang mempunyai nilai tengah dan dimungkinkan untuk bergerak, katakan 2,5%, ke atas/bawah nilai tengahnya. Masing-masing Bank Sentral mempertahankan nilai tukarnya dalam band tersebut dengan cara menjual/membeli forex. Jika tidak berhasil, nilai tukar harus diubah. Mata uang dipegged terhadap DM Jerman yang dinilai memunyai inflasi yang rendah dan stabil. Keadaan berubah tahun 1992, dimana terjadi kekacauan ERM. Akibat penyatuan Jerman, pertumbuhan ekonomi di Jerman meningkat sangat tinggi, akibatnya inflasi tinggi, dan Bundes Bank mengambil kebijakan untuk terus menaikkan tingkat bunga. Di sisi lain, negara2 Eropa lainnya sedang mengalami perekonomian yang lesu.

Untuk mempertahankan nilai tukar yang tetap dengan DM Jerman, mereka harus ikut menaikkan tingkat bunga. Namun, untuk kepentingan internal negara-negara ini harus menurunkan tingkat bunga untuk memerangi resesi. Karenanya muncul konflik kepentingan antara kepentingan internal dan eksternal dari masing-masing negara. Beberapa contoh kasus yang menggambarkan terjadinya konflik kepentingan dari masing-masing negara anggota ;
� Finlandia mendevaluasi mata uangnya 13%.
� Swedia menaikkan tingkat bunga dari 24% ke 75%.
� Italia mendevaluasi mata uangnya 7%
� Inggris kehilangan banyak cadangan devisanya dan menaikkan tingkat bunga dari 10% ke 15%.
� Spanyol mendevaluasi mata uangnya 5%
� Swedia dan Irlandia meningkatkan suku bunganya, masing-masing 300% dan 500%
� Inggris, Italia, dan Spanyol menyatakan keluar dari ERM

Adapun asumsi dasar pelaksanaan SGM antara lain ; para anggota ERM ingin mempertahankan nilai tukar yang ada karena memberi manfaat, seperti laju inflasi yang rendah dan stabil, para anggota ERM melihat manfaat devaluasi, yaitu untuk mendorong produks dalam negeri, keuntungan melakukan devaluasi semakin tinggi jika semakin banyak investor yang berpikir bahwa mata uang ybs. harus didevaluasi

Proses terjadinya SGM dapat dijelaskan berdasarkan gambar tersebut di atas; di sebelah kiri titik C benefit mempertahankan nilai tukar lebih besar daripada benefit mengubah nilai tukar. Pada titik C dengan jumah atau proporsi investor yang percaya bahwa nilai tukar harus diubah, benefit dari mempertahankan nilai tukar dengan melepas atau mengubahnya sama bagi negara yang bersangkutan, maka negara tersebut akan mengubah nilai tukar.

Third Generation Model (TGM) atau sering disebut oleh beberapa pengamat sebagai Asian Crisis. Krisis di Asia memunculkan berbagai model krisis baru, walaupun beberapa menganggap bahwa bahwa krisis di Asia masih dapat dijelakan oleh FGM dan SGM. Krisis diawali di Thailand, kemudian menjalar ke Indonesia, Malaysia, Korsel, dan Filipina. Third Generation Model (TGM) menekankan pada peran moral hazard dan balance sheet effects. Moral hazard merupakan akibat dari implicit government guarantee yang siap membail-out perusahaan swasta dan bank yang dalam masalah dan menjamin investor�s future revenue. Hal tersebut juga menyebabkan terjadinya excessive borrowing dan lending.

Defisit pemerintah tidak terlalu tinggi sebelum krisis, tetapi penolakan kreditur luar negeri untuk melakukan refinance hutang, memaksa pemerintah untuk membantu dan menjamin outstanding hutang luar negeri. Untuk membiayai prospective deficits dalam suatu kondisi ekonomi yang memburuk, pemerintah harus melakukan seignorage. Ekspektasi terhadap inflasi ke depan memicu speculative attack terhadap mata uang domestik yang secara umum di-fixed. Krisis di Asia berkaitan dengan modal jangka pendek atau hot money yang sangat isolatile. Awal tahun 1990an banyak negara Asia yang meliberalisasi capital account, mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi; kondisi fundamental yang kelihatannya sound. Liberalisasi capital account menyebabkan capital inflows besar. Umumnya dana jangka pendek yang banyak digunakan untuk membangun sektor property dan masuk ke saham

Sebagai gambaran tahun 1995, surplus capital account dari 5 negara ASEAN terbesar sekitar US$55 milyar. Sedangkan tahun 1998, deficit capital account sekitar US$59 milyar. Aliran modal masuk dari luar negeri berhenti dan berubah menjadi massive capital outflow. Implikasi yang dihasilkan adalah mata uang di beberapa negara Asia melemah. IDR: > 80%, Baht: 50%, Won: 55%. Untuk mengurangi capital outflow, tingkat bunga dinaikkan. Kondisi ini menimbulkan kesulitan dalam neraca bank-bank, NPL naik. Akibatnya likuiditas perbankan menipis; kepercayaan masyarakat terhadap bank turun, depositor domestik menariarik dananya serta pembukaan L/C tidak dipercaya.

Krisis finansial global tahun 2008 oleh banyak ekonom disebabkan oleh praktek shadow banking system yang menimpa beberapa institusi keuangan di Amerika yang kemudian menimpa beberapa institusi keuangan lainnya antara lain Bear Stearns, Lehman Bro, Fannie Mae and Freddy Mac dan AIG. Krisis juga disebabkan oleh praktek-praktek ekonomi Ponzy yang sebetulnya mirip dengan beberapa kasus penipuan investasi atas komoditi di Indonesia (PT. Qisar dll) selain kejatuhan subprime mortgage loan market di Amerika. Atas terjadinya krisis kali ini jika kita kaitkan kembali dengan teori krisis yang sudah ada sebelumnya nampaknya menimbulkan sedikit kesulitan apakah tergolong kepada FGM/SGM/TGM ? Jika ditelusuri lebih lanjut ada beberapa hal yang memang mirip dengan tanda-tanda terjadinya FGM meskipun tidak sepenuhnya tepat 100%. Namun jika kita kaitkan kembali dengan ciri-ciri terjadinya krisis generasi ketiga juga ada beberapa kemiripan. Dari kesulitan tersebut penulis mengambil sedikit kesimpulan bahwasanya krisis ekonomi yang terjadi sekarang merupakan suatu bentuk pembaharuan terhadap teori krisis yang sudah ada sebelumnya sehingga menimbulkan teori krisis baru yaitu Fourth Generation Model dengan penyebab utama lemahnya sistem pengawasan negara atau lembaga yang berwenang terhadap pelaksanaan transaksi keuangan di pasar modal beserta produk derivative-nya.