Bursa Indonesia Melemah

Jakarta, Kompas - Pasar modal Indonesia kembali tertekan seiring dengan pelemahan bursa regional dan global. Kekhawatiran investor meningkat menyusul akan keluarnya data baru tentang perekonomian Amerika Serikat.

Pada penutupan perdagangan saham, Selasa (24/2), indeks harga saham gabungan (IHSG) merosot 16,57 poin, atau turun 1,26 persen, menjadi 1.295,87. Level ini merupakan IHSG terendah sepanjang 2009.

Adapun Indeks LQ-45 turun 3,85 poin, atau 1,51 persen, menjadi 251,84. Indeks Kompas100 turun 4,42 poin, atau 1,39 persen, menjadi 311,40.

Selain mengalami tekanan jual yang cukup signifikan, perdagangan saham kemarin juga relatif sepi. Volume saham yang diperdagangkan tercatat hanya 1,108 miliar saham dengan nilai Rp 1,114 triliun.

Nilai perdagangan tersebut jauh di bawah target transaksi tahun 2009 yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu sebesar Rp 2,75 triliun per hari.

Dari 149 saham yang diperdagangkan, sebanyak 22 saham mengalami kenaikan harga, 80 saham turun, dan 47 saham tetap. Dari 10 sektor saham di BEI seluruhnya merosot, dengan penurunan terdalam pada sektor keuangan, disusul sektor pertambangan.

Saham-saham yang mengalami penurunan harga cukup dalam, antara lain, saham Bank Rakyat Indonesia turun Rp 175 menjadi Rp 3.975 per saham, Bumi Resources turun Rp 40 menjadi Rp 740, Indosat turun Rp 125 menjadi Rp 4.350, dan United Tractors turun Rp 200 menjadi Rp 5.350.

Adapun saham yang naik harganya, antara lain, saham Gajah Tunggal naik Rp 5 menjadi Rp 195 per saham, Gudang Garam naik Rp 100 menjadi Rp 5.400, dan Cahaya Kalbar naik Rp 50 menjadi Rp 750.

Bursa regional

Tekanan terhadap harga saham di BEI mengikuti pelemahan yang terjadi di bursa regional dan global.

Selain bursa Malaysia yang naik 0,7 persen, indeks harga saham di seluruh bursa kawasan melemah 0,24-4,56 persen. Penurunan indeks harga saham itu juga terjadi di Australia dan Selandia Baru.

Adapun indeks Dow Jones Industrial Average yang beranggotakan 30 saham unggulan di New York Stock Exchange pada perdagangan saham, Selasa (24/2), waktu setempat, anjlok 250,73 poin, atau 3,41 persen, menjadi 7.114,94. Ini merupakan level terendah Dow Jones sejak Mei 1997.

Menurut Direktur Riset HD Capital Adrian Rusmana, penurunan indeks saham di bursa Indonesia, kemarin, dipengaruhi oleh bursa regional dan global. Adapun pelemahan bursa regional dan global dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran investor, bahwa perekonomian dunia akan semakin memburuk.

Beberapa hari terakhir, kata Adrian, telah keluar sejumlah konsensus tentang perekonomian AS dari para analis dan ekonom negara itu. Beberapa di antaranya, konsensus yang memperkirakan, produk domestik bruto AS kuartal IV-2008 turun 5,4 persen, tingkat kepercayaan konsumen turun 2,1 persen, dan harga rumah turun 2 persen.

�Semuanya itu meningkatkan sentimen negatif investor terhadap masa depan perekonomian dunia,� kata Adrian.

Ke depan, kata Adrian, sentimen negatif itu bisa naik atau turun, tergantung dari realisasi beberapa indikator perekonomian AS tahun 2008, yang akan diumumkan dalam waktu dekat.

Jika data resmi yang dirilis tersebut ternyata sama, atau bahkan lebih parah dari hasil konsensus, bisa dipastikan sentimen negatif investor akan semakin tinggi. Namun, bila data resmi ternyata lebih baik, kepercayaan investor terhadap industri keuangan diharapkan mulai pulih.

Menurut Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero, dalam sebulan terakhir ini investor cenderung menunggu keluarnya data-data perekonomian, termasuk laporan keuangan institusi keuangan besar, baik perbankan, asuransi, maupun perusahaan investasi di AS.

Adapun di dalam negeri, kata Hotradero, investor masih menunggu laporan keuangan yang disampaikan para emiten pada akhir Februari atau Maret.