SBY: Turunkan Bunga Kredit
Investor Indonesia : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali meminta perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit mengikuti suku bunga acuan (BI rate). Meski BI rate sudah turun ke level 7,75%, perbankan terlambat merespons kebijakan Bank Indonesia itu.
Presiden menjelaskan, penurunan BI rate sebesar 1,75% sejak Desember 2008 hingga kini belum memberikan dampak terhadap sektor riil. "Saya minta agar setelah BI rate diturunkan dalam jumlah yang tepat, perbankan seharusnya bisa mengikutinya," kata Presiden saat membuka Sidang Dewan Pleno I Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Hotel Shangri-La Jakarta, Selasa, (10/3).
Bank Indonesia mencatat, bank-bank swasta cenderung lambat menurunkan suku bunga ketimbang bank asing dan campuran. Pada akhir Desember 2008, suku bunga dasar kredit bank swasta sebesar 15,73%, sedangkan minggu kedua Maret 2009 hanya turun 0,20% menjadi 15,53%. Dalam dua bulan terakhir, bunga kredit bank campuran turun sebesar 1,38% menjadi 13,05%, sedangkan bank asing turun 0,74% menjadi 12,23%.
Dalam periode yang sama, bank pembangunan daerah (BPD) menurunkan bunga kredit 0,32% dari 11,86% menjadi 11,54% dan bank persero turun sebesar 0,23% menjadi 12,72%. Secara industri, bunga deposito turun dari 8,75% akhir tahun lalu menjadi 8,32% hingga minggu ketiga Maret. Sebagian bank swasta likuiditasnya tidak terlalu banyak sehingga harus mencari di pasar uang," tutur Halim Alamsyah, direktur Penelitian dan Pengaturan BI, kemarin.
Presiden berharap, penurunan suku bunga kredit bisa menstimulisasi sektor riil untuk tumbuh sehingga berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi nasional. Penurunan suku bunga kredit juga dapat memberikan keringanan bagi pengusaha untuk mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Saya tahu perbankan perlu kehati-hatian dalam menyalurkan kreditnya, tetapi bank jangan hanya berorientasi ke dalam saja tetapi juga ke luar. Dengan demikian, maksud dari kebijakan BI bisa diikuti jajaran bank dan membawa manfaat untuk sesama," pungkas Yudhoyono.
Hari ini, pemerintah akan menggelar sidang kabinet terbatas yang salah satu agendanya membahas penurunan suku bunga kredit. "Dalam batas-batas tertentu, kami bisa memahami lambatnya respons perbankan terhadap penurunan BI rate. Namun, hal itu tidak boleh berlangsung terlalu lama karena dunia usaha dan sektor riil membutuhkan penurunan bunga kredit," kata Presiden.
Lambatnya perbankan merespons penurunan BI rate juga menjadi perhatian bank sentral. Bahkan, BI telah memanggil para bankir untuk segera menurunkan suku bunga. "BI sudah menurunkan bunga acuan yang kompetitif. Sekarang, kami berharap agar bank juga menurunkan bunga, supaya kredit bisa tumbuh lebih besar dan tetap berhati-hati," kata Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom seusai pertemuan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (10/3).
Miranda mengisyaratkan, BI masih memiliki ruang untuk menurunkan lagi BI rate bila inflasi dalam jangka menengah masih rendah. Namun, dia mengakui, penurunan suku bunga belum cukup untuk menjawab tantangan krisis keuangan yang melanda hampir seluruh negara. �Perlu ada langkah persuasif dan aturan yang mempermudah bank untuk tetap ekspansi,� jelas dia.
Bila suku bunga turun, menurut Miranda, usaha-usaha yang sebenarnya memiliki prospek baik tidak akan mati karena tidak memiliki pendanaan. Dengan demikian, usaha penurunan suku bunga harus diikuti dukungan semua pihak, termasuk para bankir. �Namun, kredit adalah masalah kepercayaan. Karena begitu banyak ketidakpastian global, para bankir juga harus berhati-hati," ujar dia.
Di balik berjatuhannya institusi keuangan global, menurut Miranda, kondisi Indonesia justru lebih baik. Di saat negara lain mencatat pertumbuhan yang negatif, Indonesia diperkirakan dapat mencapai pertumbuhan ekonomi 4%. "Untuk itu, kita harus sama-sama bekerja. Kredit harus dimulai dan usaha-usaha yang sebetulnya masih bankable jangan sampai mati karena kekurangan dana," ujar dia.
Menurut Wakil Dirut Bank Tabungan Negara (BTN) Efi Firmansyah mengatakan, penurunan bunga kredit akan terjadi secara perlahan dan tidak bisa secara drastis bersamaan dengan BI rate. Alasannya, banyak kredit yang menggunakan dana pihak ketiga berbunga tinggi. �Saat ini masih banyak nasabah yang membenamkan dananya pada deposito berjangka menengah sekitar enam bulan,� kilah dia.
Direktur Ritel Banking PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib mengimbau perbankan untuk menekan tingkat cost of fund sehingga bunga kredit bisa diturunkan. �Perbankan harus berkerja sama dan tidak jor-joran memberikan bunga simpanan untuk meningkatkan dana pihak ketiga seperti yang terjadi tahun lalu,� tegas Kostaman.
Suara Pengusaha
Kalangan pengusaha juga mendesak perbankan segera menurunkan suku bunga kredit. Langkah itu akan membantu dunia usaha untuk menjaga arus kas dari tekanan krisis ekonomi. "Kami berharap bunga kredit bank pemerintah turun ke 11%, sementara bank swasta turun ke 14%," kata Erwin Aksa, ketua umum Hippmi.
Menurut Erwin, saat ini terdapat tiga masalah yang menghambat pembiayaan dunia usaha. Pertama, perbankan sangat selektif dalam mengucurkan kredit. Kedua, bank sangat ketat melihat sektornya. Ketiga, bank tidak berani memberikan kredit dalam jumlah besar. "Hal itu diperparah dengan pengenaan bunga kredit yang tinggi,� ujar dia.
Hal senada diungkapkan Ketua Umum Kadin Indonesia MS Hidayat, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Edi Wijanarko, Business Development Wilmar International Max Ramajaya, Sekjen Hipmi Ridwan Mustofa.
�Suku bunga kredit harus turun menjadi 12% segera pada bulan ini guna menggerakkan cash flow sektor riil. Kalau sektor riil bergerak, target pertumbuhan ekonomi 4,5% bisa tercapai,� kata MS Hidayat.
Hidayat menilai, BI rate pada level 7,75% merupakan posisi yang aman. �BI jangan terlalu berani, jangan sampai jebol. Selain itu, nilai tukar rupiah harus diperkuat dan jangan sampai melemah lagi. Harus stabil pada level Rp 11 ribu,� kata Hidayat.
Meski suku bunga sekitar 12% masih cukup tinggi, menurut Edi Wijanarko, untuk ukuran Indonesia angka itu sudah bagus. Dia membandingkan, suku bunga kredit di Filipina sekitar 9%.
�Ini seharusnya diperhatikan dan dipahami perbankan. Penurunan bunga kredit sangat membantu kami sebagai sektor padat karya untuk kelancaran cash flow,� ujar dia.
Saat ini, anggota Aprisindo selalu mengeluh kesulitan mendapat pinjaman. Perbankan menilai sektor sepatu berisiko tinggi sehingga diterapkan bunga tinggi. Akibatnya, industri kesulitan memperoleh utang untuk belanja bahan baku. �Kalau dapat jangka waktu kredit untuk satu bulan saja sudah hebat. Jadi, kalau bisa segera diturunkan, lebih baik dan sangat membantu kami,� kata Edi.
Kalau suku bunga kredit diturunkan, menurut Max Ramajaya, pihaknya berencana untuk mengonversi utang dalam valuta asing ke rupiah. Hal ini akan membantu dunia usaha. �Kalau suku bunga kredit 12%, orang-orang masih mau menyimpan dana mereka di bank dan dunia usaha juga mau meminjam dalam rupiah,� ujar dia.
Melihat selisih (spread) suku bunga simpanan dan kredit yang tinggi, Ridwan Mustofa menilai, seharusnya suku bunga kredit dapat turun lagi. Idealnya, spread bunga deposito dengan bunga kredit sekitar 4-5%. Saat ini, suku bunga kredit 17-18%. �Idealnya, bunga kredit di posisi di 11-12%," kata dia.
Erwin Aksa menyarankan kalangan perbankan bersikap efisien, baik dalam menghimpun dana maupun secara organisasi."Jangan sampai ada pemborosan tidak perlu yang memakan biaya terlalu besar," kata dia.
Erwin juga menyoroti perang bonus yang gencar dilakukan kalangan perbankan untuk menggaet dana masyarakat. Bonus terlalu besar justru menyebabkan biaya tinggi. "Kami berharap mereka segera mengurangi persaingan pemberian bonus-bonus besar antarbank,� jelas dia.
Di depan peserta sidang pleno Hipmi, Presiden SBY yakin kemandirian bangsa masih bisa dibangun terutama di beberapa sektor dasar seperti pangan, energi, sandang, dan perlengkapan rumah tangga.
Presiden juga berharap pembangunan ekonomi bisa merata ke seluruh daerah sehingga tidak hanya terkonsentrasi di Jawa.
�Investasi harus banyak dari dalam negeri sehingga saving harus ditingkatkan. Pemerintah Kabupaten atau Kota harus bisa membangun sesuai potensi sumber dayanya dengan merangkul pengusaha lokal. ," kata Presiden.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Lutfi yakin pertumbuhan dan komposisi investasi dalam negeri bakal naik pada 2009 dibandingkan 2008. �Investasi dalam negeri apabila didukung oleh fasilitas perbankan yang jelas dan insentif yang lebih baik, pasti akan naik,� kata Lutfi.
Lutfi mengakui, jumlah investasi asing masih lebih tinggi dibandingkan investasi dalam negeri. Hal itu dipicu oleh ketersediaan pembiayaan di Indonesia lebih terbatas dibandingkan asing.
�Kalau kita menahan investasi asing, pendanaan dari luar negeri juga tidak masuk ke Indonesia sehingga menimbulkan stagnan ekonomi nasional. Investasi asing dan investasi dalam negeri harus sama-sama didukung,� pungkas Lutfi. (bee/eme/am)