Peran RI Makin Diakui Dunia
Jakarta (Seputar Indonesia) - Keikutsertaan dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) G-20 di London, Inggris,menempatkan Indonesia pada garis terdepan perbaikan manajemen ekonomi dunia.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pagi kemarin bertolak ke London untuk menghadiri KTT yang akan digelar pada 2 April. Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan, keputusan Presiden SBY hadir di KTT G-20 di tengah kesibukan pemilu karena pertemuan tersebut merupakan kehormatan besar bagi Indonesia di percaturan internasional.
Untuk pertama kalinya kita berada dalam suatu posisi sejarah yang sangat unik,yaitu kita berada di garis terdepan dalam upaya manajemen ekonomi dunia yang selama ini ditangani hanya oleh G-7, negara Amerika dan Eropa.Tujuh negara yang mengambil keputusan- keputusan untuk ekonomiekonomi dunia,ujar Dino di Halim Perdanakusumah, Jakarta, kemarin, sebelum mendampingi Presiden bertolak ke London.
Dino menerangkan, dengan masuk dalam bagian G-20, telah menempatkan Indonesia ke dalam kelompok kekuatan ekonomi baru dunia saat ini.Jadi ini merupakan tanggung jawab besar karena kita diajak untuk ikut memulihkan ekonomi dunia, dan pemulihan ekonomi dunia itu juga berpengaruh pada well being dan kesejahteraan kita,ujarnya.
Dalam KTT G-20, SBY akan memberikan intervensi dan masukannya baik pada waktu dinner maupun breakfast bersama para kepala negara dari 20 negara anggota G-20. Presiden juga akan melakukan pertemuan bilateral dengan Putra Mahkota Kerajaan Inggris Pangeran Charles,Perdana Menteri (PM) Jepang Taro Aso,PMAustralia Kevin Rudd, PM Inggris Gordon Brown, dan Sekjen PBB Ban Ki-moon.
Meski Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama hadir dalam pertemuan itu, Presiden SBY tidak memiliki jadwal melakukan pertemuan bilateral dengan Obama. Bilateral (dengan Presiden Obama) tidak ada.SBY hanya akan duduk di samping Obama sewaktu dinner,ungkap Dino.
SBY beserta rombongan akan tiba kembali di Tanah Air, Jumat (3/4). SBY yang juga sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat akan mendarat di Bandara Juanda, Surabaya, dan langsung berkampanye. Sementara itu, para pemimpin Kristen,Yahudi, Hindu, dan Islam membuat pernyataan bersama meminta pemimpin negara yang tergabung dalam G-20 tidak melupakan rakyat miskin di dunia.
Pernyataan ini ditandatangani 32 pemimpin agama,di antaranya Uskup Besar Canterbury Dr Rowan Williams dan pemimpin Islam Dr Mohammed Abdul Bari. Kami berdoa untuk mereka yang miskin,tidak terlindungi, dan termajinalisasi, juga untuk pemimpin politik yang memperjuangkan pemikirannya minggu ini, kata Dr Williams, seperti dikutip BBC.
Para pemimpin agama mengharapkan kebijakan melupakan kebutuhan rakyat miskin sebagai kesalahan masa lalu yang tidak boleh terulang. Dalam pertemuan di London, pemimpin G-20 berkomitmen membangun kesatuan dalam penanganan krisis ekonomi global.
Pertemuan itu akan membahas lima agenda utama,yaitu penyelamatan ekonomi dunia,pemulihan kucuran kredit,memperketat aturan perbankan, meningkatkan peran Dana Moneter Internasional (IMF), memperluas bantuan kepada negara berkembang, dan menghindari kebijakan proteksi. Pertemuan ini akan dihadiri oleh pemimpin anggota G-20,yaitu Argentina, Australia, Brasil, Kanada, China,Prancis,Jerman,India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko,Rusia, Arab Saudi,Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat (AS),dan Uni Eropa (UE).
Selain lima agenda utama,masing-masing negara membawa misi ekonomi tersendiri. Rusia,misalnya,menginginkan nilai tukar pengganti dolar AS. China mengusulkan nilai tukar global alternatif dan reformasi sistem keuangan dunia.
Sementara Jepang berkeinginan memperketat aturan dan pengawasan sistem keuangan. AS menekankan negaranegara di dunia menambah stimulus serta pengaturan hedge fund. Eropa mengusulkan restrukturisasi Bank Dunia dan IMF,termasuk mengurangi dominasi Barat atas kedua institusi tersebut.
Di sisi lain, selain hadir di KTT G-20,Presiden Barack Obama awal pekan ini akan memulai lawatannya ke sejumlah negara Eropa dalam upaya memperkuat hubungan antara AS dan Eropa, serta mengatasi krisis ekonomi global yang tengah dihadapi saat ini.Meskipun sangat populer di sejumlah negara Eropa, Obama kemungkinan akan mendapat kecaman atas kebijakan ekonomi AS yang dianggap memicu timbulnya krisis ekonomi global.
Agenda utama Obama adalah pertemuan negara-negara besar dan berkembang (yang tergabung di G-20) di London, sebagai kelanjutan pertemuan di Washington pertengahan November 2008.Presiden dan Amerika akan mendengarkan di London sekaligus memimpin, papar juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs.
Meskipun ekonomi sudah pasti akan mendominasi pembicaraan, para pejabat Gedung Putih mengatakan masalah proliferasi nuklir, ancaman cyber, perubahan iklim, keamanan energi, terorisme, dan strategi baru Obama di Afghanistan dan Pakistan juga akan dibahas dalam pertemuan G-20, UE, dan NATO. (rarasati syarief/Rtr/ahmad senoadi/irawan nugroho)