Perekonomian Lebaran

Kompas - Rasanya hari ini sebagian besar pemudik pasti sudah kembali ke rutinitas kerja seperti biasanya. Kita semua mengetahui, jutaan warga Jakarta dan kota-kota besar lainnya melakukan tradisi tahunan kembali ke kampung halamannya untuk bersilaturahmi dan melepas kangen dengan keluarga besar mereka masing-masing.

Sebagian besar dari mereka pulang kembali ke Jakarta dan kota-kota besar lain dengan segala kenangan maupun oleh-oleh yang tidak sedikit. Tradisi mudik ini adalah proses distribusi pendapatan yang sungguh bersifat kolosal. Distribusi pendapatan ini bisa dilihat dari sisi regional,yaitu dari daerah Jabotabek ke provinsi-provinsi lain atau juga bisa dilihat dari sisi urban dan perdesaan. Dari sisi jumlah pemudik maupun kualitas (termasuk kualitas pengeluarannya) mengalami peningkatan terus-menerus, mungkin lebih dari sekadar linier.

Dari sisi kualitas, mungkin hanya ribuan orang yang mampu melakukan mudik dengan jasa pesawat udara sekitar 10 tahun yang lalu. Tahun ini jumlah pemudik dengan menggunakan jasa pesawat udara mungkin ratusan ribu atau bahkan jutaan. Sungguh suatu peningkatan vertikal yang luar biasa.

Lebaran dan Pengembangan Bisnis

Dari sisi pengembangan bisnis, saya mengamati bangkitnya industri oleh-oleh seperti makanan rumahan, antara lain bakpia,loenpia, wingko babad. Di kota seperti Yogyakarta, industri rumah tangga ini mengalami peningkatan sangat cepat,barangkali secara eksponential.

Dikabarkan oleh sebuah media ibukota bahwa penjualan bakpia di Yogyakarta mengalami peningkatan lima kali lipat selama Lebaran tahun ini.Bayangkan,suatu kenaikan lima kali lipat, suatu lonjakan yang sangat fenomenal. Memang benar peningkatan tersebut hanya terjadi dalam satu hari atau satu minggu dalam setahunnya. Namun dilihat dari perkembangan per tahunnya,peningkatan sebesar ini merupakan suatu hal yang patut disyukuri.

Sementara itu, selain Lebaran, peningkatan semacam ini juga terjadi selama liburan sekolah bulan Juni � Juli, dan juga liburan Natal dan Tahun Baru. Tiga puluhan tahun yang lalu saya masih tinggal di tetangga kampung dari kawasan bakpia Pathuk. Masih segar di ingatan bau bakpia setiap kali saya berjalan kaki pulang sekolah melewati daerah tersebut. Beberapa tahun kemudian, saya diberi kemampuan untuk membeli oleh-oleh setiap kali pulang ke Jakarta. Dari jumlah yang awalnya sedikit, setiap tahun oleholeh tersebut juga semakin bertambah.

Saya yakin betul orang yang seperti saya jumlahnya ribuan atau bahkan bisa jutaan. Mereka inilah yang akhirnya menjadi sumber utama pertumbuhan yang fenomenal dari industri bakpia Pathuk tersebut. Jumlah itu melebar karena promosi dari mulut ke mulut mengenai keenakan bakpia tersebut. Dari hanya satu perusahaan, yaitu Bakpia Pathok 75,jumlah bisnis semacam ini menjadi bertambah dan berkembang cepat.

Bakpia Pathok 75 itu sendiri juga mengalami perkembangan yang pesat, sehingga menantunya mengembangkan bisnis yang sama di daerah Pakuncen, Yogya barat. Bagi mereka, dan juga bagi industri semacam di kota-kota lain, jumlah pendapatan mereka tetap tertinggal di kota tersebut dan tidak mengalir kembali ke ibukota. Itulah sebabnya proses distribusi pendapatan sungguh-sungguh terjadi. Toko-toko mereka semakin bagus (dibandingkan dengan rumah bakpia Pathok 75 yang asli) sementara penduduk yang terlibat dalam industri tersebut juga semakin banyak.

Bahkan para tukang becak di Malioboro pun merasakan rezeki tersebut karena mereka akan memperoleh komisi jika berhasil mengantarkan seorang pengunjung ke toko oleh-oleh tersebut. Kita mengetahui bahwa Bakpia Pathok ini hanya sebagian kecil dari bisnis yang menyediakan jasa dan barang bagi para wisatawan maupun juga masyarakat Yogya sendiri.Dan hal ini nyaris sama berkembang di kota-kota lain dengan ciri khas masing-masing.

Di Yogya, pedagang kerajinan di sepanjang jalan Malioboro mampu menghidupi diri mereka dengan baiknya. Seorang tetangga di Yogya yang berjualan barang kerajinan di Malioboro tersebut bahkan mampu menyekolahkan dua orang anaknya sehingga lulus menjadi dokter dari UGM.

Perekonomian Makro Lebaran

Distribusi pendapatan tersebut berlangsung secara permanen dan bahkan setiap tahun jumlahnya semakin meningkat. Proses inilah yang akhirnya membuat perekonomian di luar Jabotabek mampu bergerak lebih cepat dibandingkan dengan di Jabotabek.

Dilihat dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan, yaitu yang berupa tabungan,giro dan deposito, jumlah yang terkumpul di luar Jabotabek mengalami peningkatan lebih cepat dari di Jabotabek. Peningkatan di luar Jawa juga lebih besar dari di pulau Jawa. Sudah barang tentu ini bukan karena terjadinya Lebaran atau proses distribusi seperti yang dikemukakan sebelumnya, namun oleh perkembangan komoditas dan sebagainya. Poin penting adalah proses distribusi pendapatan tersebut berlangsung lebih cepat dari yang kita duga.

Dalam fenomena Lebaran ini, yang menarik adalah terjadinya penarikan uang tunai besar-besaran di kota-kota besar, terutama di Jabotabek selama minggu-minggu terakhir sebelum Lebaran.Sementara itu setelah selesai libur Lebaran, terjadi penyetoran dana besarbesaran di daerah-daerah di luar Jabotabek. Ini terjadi di semua bank, sehingga ujungnya adalah penumpukan dana besar di Kantorkantor bank Indonesia. Jumlah ini pada akhirnya akan terefleksi pada peningkatan DPK perbankan di luar Jabotabek yang jumlahnya akan terus bertahan di bulan-bulan sesudahnya.

Saya selalu mengamati terjadinya lonjakan besar dari jumlah penduduk yang termasuk golongan kelas menengah di Indonesia. Jika dewasa ini jumlahnya lebih dari 30 juta orang, maka di tahun 2015 jumlahnya bisa mencapai hampir 60 juta orang.Perkembangan ini akan �meledakkan�fenomena Lebaran tersebut dengan jumlah pemudik yang lebih banyak serta jumlah pengeluaran yang lebih besar.

Selain perlu menyiapkan diri (termasuk mempercepat pembangunan jalan tol trans-Jawa maupun juga peningkatan jalan raya yang ada), rasanya kita patut mensyukuri fenomena ini.Indonesia memang sungguh memiliki masa depan yang cerah.(*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi