Diskusi Internal BKF: “Ekspektasi Inflasi di Indonesia�
Pembicara menyampaikan materi tentang ‘Inflation Expectation in Indonesia’, sebuah kajian mengenai ekspektasi inflasi dan dampaknya terhadap stabilitas finansial di Indonesia. Materi ini adalah bagian dari disertasi pembicara untuk memperoleh gelar Doktor dari Victoria University, Melbourne, Australia.
Di awal diskusi, pembicara menyampaikan mengenai pentingnya membuat ekpektasi terhadap inflasi, yaitu sebagai memberikan informasi kepada pihak yang berkepentingan akan apa yang terjadi dimasa depan sehingga mereka dapat melakukan antisipasi untuk mengurangi dampak buruk yang terjadi.
Ada 2 metode yang biasa dipergunakan, pertama adaptive expectation, yaitu metode yang digunakan untuk melakukan ekspektasi kedepan berdasarkan kejadian dimasa lalu. Â Metode ini memiliki kelemahan, yaitu apabila terjadi hal diluar kebiasaan (shock).
Metode kedua adalah rational expectation, yaitu membuat ekpektasi kedepan berdasar informasi yang ada. Kelemahan dari metode ini adalah keterbatasan seseorang dalam memperoleh informasi, sehingga rekomendasi yang muncul terkadang masih kurang tepat. Dalam metode rational expectation, ada beberapa informasi yang digunakan.  Informasi yang umum dipergunakan adalah suku bunga deposito dan tabungan, nilai tukar, harga minyak, administrative price dan exogenous shock.  Masing-masing informasi ini memiliki dampak berbeda-beda. Ada yang memiliki dampak singkat, namun ada yang berdampak jangka panjang.
Salah satu kegunaan lain dari ekpektasi inflasi ini antara lain untuk mempengaruhi presepsi publik. Â Dengan keluarnya perkiraan kondisi ke depan oleh Bank Sentral, maka bisa diduga apa yang akan dilakukan oleh publik sehingga kondisi ekonomi bisa terkontrol dan sesuai harapan.
Diskusi ini dihadiri pejabat dan pegawai di lingkungan BKF. Â Pada akhir pemaparannya pembicara menyampaikan semoga sharing dan transfer of knowledge yang diberikan dapat bermanfaat untuk semua peserta diskusi. (gh)