BKF Hadiri 7th APEC Senior Finance Officials Meeting
Pada tanggal 18-19 Februari 2010, delegasi Indonesia yang terdiri dari Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menghadiri pertemuan 7th APEC Senior Finance Officials’ Meeting (SFOM-7) di Tokyo, Jepang.Pertemuan yang dipimpin oleh SFOM Chair ini dihadiri oleh delegasi seluruh anggota APEC, lembaga keuangan internasional (IMF, World Bank, dan ADB), wakil dari Senior Official Meeting (SOM), Economic Committee (EC), APEC Secretariat, dan APEC Business Advisory Council (ABAC).
Dalam pertemuan tersebut isu-isu pokok yang dibahas meliputi Global Economic and Economic Outlook, Strong Sustainable and Balanced Growth in the Asia Pacific Region (Presentation and Discussion of Policy) dan APEC FMM.
Global Economic Issue
Sesi ini difokuskan pada perkembangan economic development dan outlook di kawasan regional. Para anggota ekonomi APEC memberikan perkembangan terbaru dari stimulus measures, exit measures, dan prospective exit policies. Wakil dari IMF, World Bank dan ADB mengemukakan bahwa pemulihan global (global recovery) sedang terjadi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti, kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan dan real ekonomi serta dukungan kebijakan pemerintah.
Sementara itu, anggota ekonomi APEC direkomendasikan untuk (i) menjaga kebijakan stimulus sampai recovery benar-benar pulih dan melakukan kebijakan exit strategi secara berhati-hati; (ii) memperkuat kebijakan makro ekonomi dan regulasi keuangan secara terbuka serta efektif; (iii) menyeimbangkan sumber pertumbuhan ekonomi di Asia untuk mengatasi ketidak seimbangan dan berkesinambungan; dan (iv) menggalang kerja sama regional dan global yang lebih erat untuk menghindari terjadinya krisis dimasa yang akan datang.
Strong Sustainable and Balanced Growth in the Asia Pacific Region
Aging and Fiscal Sustainability: Para ekonom mendiskusikan dampak fiskal dari masyarakat usia tua dan tingkat kelahiran yang semakin menurun, dan kebijakan-kebijakan untuk mengatasi tantangan demografis tersebut, dimana akan memperkuat kredibilitas fiskal. Pada waktu yang bersamaan, sehubungan dengan usaha sebagian ekonomi untuk membangun jaring pengaman sosial yang kredibel, para ekonomi berbagi pengalaman dalam merancang jaring pengaman sosial dan memastikan sumber pendapatan yang dapat diandalkan.
Small Medium Enterprise (SME) Finance and Micro Finance: Pada sesi ini ABAC memaparkan pembiayaan mikro di kawasan, dan menjelaskan beberapa praktek luar biasa di kawasan seperti mobile phone banking serta agent banking. ABAC juga menyampaikan dominasi usaha SME dimaksud dalam menciptakan inovasi dan lapangan kerja. Para ekonom juga berbagi langkah-langkah dalam memfasilitasi pembiayaan SME dalam krisis keuangan global. Peran pendukung sektor publik terhadap pembiayaan swasta dapat dilihat kembali. Pemulihan SME yang stabil dari krisis keuangan global baru-baru ini menjadi prasyarat untuk pertumbuhan yang kuat dan berkesinambungan
Infrastructure Financing: Pada sesi pembiayaan infrastruktur anggota ekonomi APEC mendiskusikan cara-cara untuk mempromosikan infrastruktur intra-regional dan harmonized road map untuk provisi infrastruktur swasta.
Untuk mengembangkan lebih lanjut pertumbuhan dinamis di kawasan, memfasilitasi sektor infrastruktur intra-regional sangat penting. Pengembangan dan implementasi model yang sederhana dan mudah direplikasi memiliki peranan penting dalam memfasilitasi investasi swasta ke dalam sektor infrastruktur. Pada presentasi Indonesia disampaikan mengenai kebutuhan pembiayaan infrastruktur Indonesia, fasilitas pemerintah dalam upaya membiayai infrastruktur, Infrastructure Guarantee Fund dan kendala-kendala dan upaya pemerintah dalam memperbaiki infrastruktur di Indonesia.
Green Growth: Pada sesi ini para anggota memberikan perkembangan terbaru dari kondisi pertumbuhan hijau di masing-masing ekonomi. Pertumbuhan hijau telah membantu para ekonomi untuk mengejar langkah pertumbuhan yang berkesinambungan melalui mitigasi ancaman-ancaman perubahan iklim dan meningkatkan pertumbuhan potensial secara bersamaan. Indonesia menyampaikan mengenai dukungannya kepada Korea yang akan menjadi ujung tombak pada Green Finance for Green Growth. Indonesia juga sedang mencari best practice dan pengalaman dari anggota ekonomi dalam melakukan koordinasi membagi tanggung jawab dalam pembiayaan perubahan iklim dan investasi.
Structural Reform: Para ekonomi melalui kontribusi dari lembaga pembiayaan multilateral, saling berbagi dan mendiskusikan pengalaman dalam reformasi struktural. APEC menyediakan kesempatan bagi para ekonomi untuk belajar dari pengalaman ekonomi lain dalam reformasi struktural untuk mempercepat pertumbuhan. Untuk mengidentifikasi area-area prioritas dalam reformasi struktural di ekonomi dan kawasan.
Dalam sesi ini disampaikan bahwa Indonesia melaksanakan reformasi struktural dengan memulai dari reformasi birokrasi pada Kementerian Keuangan pada tahun 2004. Reformasi birokrasi mencakup 3 prinsip utama: membenahi organisasi, proses bisnis dan membangun manajemen sumber daya manusia.
Balance Growth: Pada sesi ini, para anggota ekonomi APEC memberikan perkembangan terbaru dalam kebijakan mereka yang telah berkontribusi terhadap pertumbuhan yang seimbang sejalan dengan paragraf 11-12 dalam ministerial statement terbaru.
Indonesia menyampaikan mengenai landscape kebijakan pemerintah dalam manajemen keuangan publik dalam rangka memperkuat fiskal dalam rangka mendukung stabilitas ekonomi. Disamping itu alokasi anggaran untuk pengeluaran pemerintah dialokasikan untuk mendukung agenda pemerintah dalam reformasi birokrasi. Dalam upaya merefleksikan perhatiannya dalam merespon krisis global saat ini, dengan memutuskan defisit anggaran yang masih dibutuhkan untuk tersedianya stimulus fiskal. Dengan mempertimbangkan kelangsungan fiskal dan perkembangan pemulihan ekonomi global diharapkan defisit anggaran berkurang hingga mencapai 1.2% dari GDP pada tahun 2014. (mi)