Jakarta Seminar on Indonesia 2010
Seminar ini dibuka oleh Menteri Keuangan RI, Agus Martowardojo. Dalam sambutannya, Agus Martowardojo menyampaikan ucapan terima kasih kepada JICA atas bantuan dan dukungan selama ini kepada pemerintah Indonesia dalam semua bidang khususnya dalam bidang perekonomian. Agus Martowardojo juga menyampaikan bahwa Jepang merupakan mitra yang strategis dan penting bagi Indonesia. Hadir juga member sambutan adalah Kojiro Shiojiri, Duta Besar Jepang Untuk Indonesia dan Kenzo Oshima, Senior Vice President, JICA.
Seminar yang berlangsung terbagi menjadi 2 bagian.
Seminar Hari Pertama
Seminar pada hari pertama ini dibagi menjadi 3 sesi:
Sesi 1
Sesi ini berisi penyampaian presentasi mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Indonesia tahun 2010-2014 dan Pandangan Ekonomi Makro oleh Lukita Dinarsyah Tuwo, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional. Topik utama yang dibahas adalah (1) karakter utama dari RPJM 2010-2014; (2) kondisi ekonomi makro dan risiko saat ini; (3) proses dari perencanaan pembangunan; dan (4) isu utama pembangunan. Topik-topik tersebut kemudian dibahas oleh 6 discussants: Sri Adiningsih, Kepala Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; Toru Maeda, Minister, Japanese Embassy; Christianto Wibisono, Komite Ekonomi Nasional (KEN); Yoichi Nemoto, Deputy Vice-Minister for International Affair, Japanese Ministry of Finance; James Nugent, Country Director, ADB Jakarta; dan Shinji Asanuma dari Universitas Hitotsubashi, Jepang. Diskusi ini dipandu oleh Maurin Sitorus, Direktur Pinjaman dan Hibah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan.
Sesi 2
Sesi ini berisi penyampaian presentasi mengenai kepemerintahan Indonesia dan isu-isu social oleh Anwar Nasution, profesor dari Universitas Indonesia. Topik utama yang dibahas adalah (1) reformasi untuk kepemerintahan yang baik dan respon untuk tantangan globalisasi; (2) perkembangan demokrasi dan desentralisasi; (3) peningkatan pelayanan social; (4) hubungan antara parlemen dan pemerintah pusat; dan (5) peningkatan kapasitas sektor publik. Topik-topik tersebut kemudian dibahas oleh 5 discussansts: Kazuhisa Matsui, Penasehat Khusus Anggota Dewan Kamar Dagang dan Industri (KADIN); Satya Arinanto, Penasehat Khusus Wakil Presiden RI; Bobby Hamzar Rafinus, Asisten Deputi Urusan Analisis Kebijakan Makro Kementerian Koordinator Perekonomian RI; Jun Honna, profesor dari Universitas Ritsumeikan, Jepang; dan M. Ikhsan Modjo dari Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat. Diskusi ini dipandu oleh Takashi Siraishi, Council for Science and Technology Policy, Cabbinet Office.
Sesi 3
Sesi ini berisi penyampaian presentasi mengenai integrasi regional dan hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang oleh Fukunari Kimura, Chief Economist of Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA). Topik utama yang dibahas adalah (1) kesempatan dan risiko dari integrasi regional; (2) tingkat persaingan internasional; (3) tanggung jawab dan peran dari kedua Negara di wilayah internasional dan regional; dan (4) hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang. Topik-topik tersebut kemudian dibahas oleh 5 discussants: Hariyadi Wirawan, profesor dari Universitas Indonesia; Koki Hirota, Director General Southeast Asia I and Pacific Department, JICA; Jusuf Anwar, mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang; Gonthor Aziz, Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas Organisasi dan Kebijakan Internasional Bapepam-LK Kemekeu RI; dan Iman Pambagyo, Direktur Kerjasama Regional Kementerian Perdagangan RI. Diskusi ini dipandu oleh Andin Hadiyanto, Kepala PKKSI BKF Kemenkeu RI. Seminar hari pertama ini ditutup oleh Andin Hadiyanto, Kepala PKKSI BKF Kemenkeu RI.
Seminar Hari Kedua
Kemudian acara dilanjutkan dengan penyampaian pokok pikiran (keynote speech) oleh Armida Alisjahbana, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI. Dalam paparannya, Armida Alisjahbana menekankan bahwa Indonesia telah belajar dari pengalaman. Fakta bahwa komitmen internasional banyak yang gagal untuk diwujudkan, bukan karena tidak adanya komitmen yang kuat tetapi tidak adanya rencana rinci yang bisa diterapkan sebagaimana tercermin dalam rencana pembangunan nasional, program, strategi dan anggaran. Dengan kata lain ada missing link antara komitmen internasional dan nasional dalam hal pelaksanaan, adanya kesenjangan antara komitmen, perencanaan serta anggaran.
Pada sesi ini Shinji Asanuma, profesor dari Universitas Hitotsubashi, Jepang, menyampaikan kesimpulan diskusi yang dilakukan pada hari pertama. Shinji Asanuma juga menyampaikan bahwa perencanaan kerja yang lebih terinci dan penguatan lembaga kerjasama antara Indonesia dan Jepang harus lebih dioptimalkan di masa depan.
Setelah pemaparan kesimpulan tersebut, Shinji Asanuma langsung memimpin diskusi panel dengan discussants terdiri dari: Takahasi Shirasihi, Council For Science and Technology Policy, Cabinet Office; Prasetijono Widjojo MJ, Deputi Kemiskinan, Ketenagakerjaan dan UKM Bapennas; Jun Honna, profesor dari Universitas Ritsumeikan Jepang; Ridzal Affandi Lukman, Deputi VI Kementerian Koordinator Perekonomian RI; dan Andin Hadiyanto, Kepala PKKSI BKF Kemenkeu RI. Beberapa peserta seminar juga menyampaikan pendapatnya dalam diskusi ini.
Seminar ini ditutup oleh Rahmat Waluyanto, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kemenkeu RI. Dalam sambutannya, Rahmat Waluyanto mewakili Kemenkeu RI menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah ikut berpartisipasi dan memberikan ide dan gagasan baru dalam mencari solusi masalah atas hubungan kedua negara ke depan.