Macroeconomic Policies for Sustainable Growth with Equity in East Asia
High-level Policy Dialogue
“Macroeconomic Policies for Sustainable Growth with Equity in East Asia
Yogyakarta (16/5): Bertempat di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, Rabu s.d Kamis, 15-16 Mei 2013, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersinergi dengan Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) dan Bank Indonesia (BI) menyelenggarakan dialog kebijakan tingkat tinggi dengan tema Macroeconomic Policies for Sustainable Growth with Equity in East Asia. Dialog ini diharapkan dapat memberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pertukaran pandangan di antara pembuat kebijakan dari berbagai Negara di kawasan Asia Timur. Dialog ini diharapkan juga tidak hanya akan membantu pemahaman tentang tantangan saat ini, tetapi juga menumbuhkan visi bersama dan memperkuat kerjasama regional untuk pertumbuhan yang inklusif dan berkesinambungan. Dialog ini dibuka dengan penyampaian pidato pembukaan oleh Anis Chowdhury, Direktur Divisi Kebijakan Ekonomi Makro dan Pembangunan, ESCAP yang dilanjutkan dengan penyampaian pidato kunci oleh Perry Warjiyo, Deputi Senior Gubernur BI. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pidato khusus oleh Mahendra Siregar, Wakil Menteri Keuangan RI. Dalam pidatonya, Mahendra Siregar menyampaikan bahwa untuk menghadapi pelemahan pertumbuhan ekonomi global, negara-negara berkembang perlu melakukan perubahan dalam kebijakan makro ekonomi dan moneternya. Acara pembukaan ini dipandu oleh Aynul Hasan, Kepala Bagian Kebijakan Pembangunan, ESCAP.
Dialog Kebijakan Tingkat Tinggi ini dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan diantaranya dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Akademisi Universitas, Praktisi Ekonomi, dsb. Dialog ini dibagi menjadi beberapa sesi yang dilaksanakan selama 2 hari. Pada hari pertama diselenggarakan sesi 1 s.d. 3 dan pada hari kedua diselenggarakan sesi ke 4 dan 5 serta sesi rountable discussion atau yang terakhir.
Sesi 1: Tantangan Ekonomi Makro Terkini
Sesi ini membahas isu mengenai bagaimana perekonomian Asia Timur terpengaruh oleh resesi di Kawasan Eropa, pertumbuhan lamban di Amerika Serikat dan perlambatan di Cina; dan Kebijakan apa yang diperlukan untuk mendukung petumbuhan. Sesi ini dipimpin oleh Isa Rachmatarwarta, Ketua Tim Perumusan Kebijakan Sektor Keuangan, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu RI sebagai Chair. Sesi ini menghadirkan 5 panelis yaitu Aynul Hasan, Kepala Bagian Kebijakan Pembangunan ESCAP, yang membahas mengenai situasi terkini dan outlook dari Asia dan Pasifik; Reza Yamora Siregar, Kepala dan Pimpinan Ekonom AMRO, yang membahas mengenai situasi terkini dan outlook dari Asia Timur; Moazam Mahmood, Direktur Analisis Ekonomi dan Pasar Tenaga Kerja ILO yang membahas mengenai pemulihan ekonomi dan pertumbuhan pengangguran; Tang Min, Penasihat dari Kantor Penasihat Negara China, yang membahas mengenai Penyeimbangan perekonomian di China; dan Yin Yin Mya, Deputi Direktur Jenderal, Bank Sentral Myanmar, yang membahas mengenai reformasi ekonomi di Myanmar. Sesi ini kemudian diakhiri dengan diskusi terbuka.
Sesi 2: Mengelola Inflasi dan Tekanan Neraca Pembayaran
Sesi ini membahas isu mengenai pendekatan moneter apa yang tepat untuk inflasi yang disebabkan oleh hambatan suplai; bagaimana pelonggaran moneter di negara maju mempengaruhi Perekonomian Asia Timur; dan Di Negara dengan pendapatan rendah, apa saja bidang utama yang memerlukan peningkatan kapasitas untuk memastikan stabilitas keuangan. Sesi ini dipimpin oleh Latifah Merican Cheong, Penasihat di Kantor Ketua, Komisi Keamanan dan mantan Asisten Gubernur Bank Negara Malaysia, sebagai Chair. Sesi ini menghadirkan 5 panelis yaitu Iskandar Simorangkir, Direktur Eksekutif Bank Indonesia, yang menyampaikan pengalaman Indonesia dalam mengelola inflasi dan tekanan neraca pembayaran; Kyungsoo Kim, Profesor Ekonomi dan mantan Deputi Gubernur Bank of Korea yang yang menyampaikan pengalaman Korea Selatan dalam mengelola inflasi dan tekanan neraca pembayaran; Nur Aini Djafar Alkatiri, Deputi Gubernur Bank Sentral Timor-Leste yang menyampaikan pengalaman Timor-Leste dalam mengelola inflasi dan tekanan neraca pembayaran; Cyd N. Tuano-Amador, Asisten Gubernur Bank Sentral Filipina, yang menyampaikan pengalaman Filipina dalam mengelola inflasi dan tekanan neraca pembayaran; dan Nguyen Do Quoc Tho, Direktur Jenderal Departemen Asumsi Moneter dan Statistik, Bank Sentral Vietnam, yang menyampaikan pengalaman Vietnam dalam mengelola inflasi dan tekanan neraca pembayaran. Sesi ini kemudian diakhiri dengan diskusi terbuka.
Sesi 3: Kebijakan Fiskal untuk Pembangunan dan Implikasi Anggarannya
Sesi ini membahas isu mengenai langkah-langkah stimulus yang mendukung permintaan agregat di saat krisis dan memitigasi dampak distribusi yang negatif; sampai sejauh mana kontribusi stimulus fiskal untuk mendorong rencana jangka panjang dalam rangka meningkatkan pembangunan yang inklusif dan berkesinambungan; Apakah Negara-negara di Asia Timur mempunyai ruang fiskal yang memadai; dan Apa peran upah minimum dan jaminan social. Sesi ini dipimpin oleh Anis Chowdhury, Direktur Divisi Kebijakan Ekonomi Makro dan Pembangunan, ESCAP sebagai Chair. Sesi ini menghadirkan 5 panelis yaitu Bambang Brodjonegoro, Kepala BKF Kemenkeu RI, yang menyampaikan pengalaman Indonesia di bidang kebijakan fiskal terkait isu-isu tersebut; Ekniti Nitithanprapas, Deputi Dirjen Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Thailand, yang menyampaikan pengalaman Thailand di bidang kebijakan fiskal terkait isu-isu tersebut; Yide Qiao, Sekjen Shanghai Development Research Foundation China, yang menyampaikan pengalaman China di bidang kebijakan fiskal terkait isu-isu tersebut; Kim Phalla, Direktur Kebijakan Ekonomi dan Kuangan Publik, Kementerian Ekonomi dan Keuangan Kamboja, yang menyampaikan pengalaman Kamboja di bidang kebijakan fiskal terkait isu-isu tersebut; dan Helder Lopes, Koordinator Kebijakan Ekonomi Kemenkeu Timor-Leste, yang menyampaikan pengalaman Tomor-Leste di bidang kebijakan fiskal terkait isu-isu tersebut. Sesi ini kemudian diakhiri dengan diskusi terbuka.
Sesi 4: Pembiayaan Infrastruktur Domestik
Sesi ini membahas isu mengenai Apa ukuran yang diperlukan dalam pembiayaan infratruktur di Negara yang berbeda; Apa pengalaman Negara dan best practices dalam pembiayaan infrastruktur; Bagaimana sumberdaya fiskal diarahkan pada sektor infrastruktur; dan Apa pandangan dan pelajaran yang dapat diambil dari keterlibatan sektor swasta dalam pembiayaan infratruktur di berbagai bentuk termasuk melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta. Sesi ini dipimpin oleh Vo Tri Thanh, Wakil Presiden Lembaga Pusat untuk Manajemen Ekonomi Vuetnam, sebagai Chair. Sesi ini menghadirkan 4 panelis yaitu Freddy R. Saragih, Kepala Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal BKF Kemenkeu RI, yang menyampaikan pengalaman Indonesia dalam pembiayaan infratruktur; Rosario Manasan, Peneliti dari Philippine Institute untuk Studi Pembangunan, yang menyampaikan pengalaman Filipina dalam pembiayaan infratruktur; Chuluundorj Khashchuluun, Mantan Ketua Komisi Nasional Pembangunan dan Inovasi Mongolia, yang menyampaikan pengalaman Mongolia dalam pembiayaan infratruktur; dan Bounthom Lomany, Dirjen, Kemenkeu Laos, yang menyampaikan pengalaman Laos dalam pembiayaan infratruktur. Sesi ini kemudian diakhiri dengan diskusi terbuka.
Sesi 5: Mekanisme untuk Mengumpulkan Pendanaan Regional dalam rangka Likuiditas, Infrastruktur Regional dan Barang Publik Lainnya
Sesi ini membahas isu mengenai bagaimana inisiatif regional dapat diperkuat dan menjadi lebih efektif dalam memberikan asuransi bersama untuk krisis likuiditas; pelajaran apa yang bisa diambil dari ketidakpastian di Kawasan Eropa; Dapatkah investasi di infrastruktur regional memberikan tingkat pengembalian financial yang tinggi serta peluang dalam rangka diversifikasi risiko; dan Apakah diinginkan dan memungkinkan menemukan cara untuk menyalurkan penghematan yang dilakukan di suatu Negara ke Negara lain yang membutuhkan investasi di bidang infrastruktur. Sesi ini dipimpin oleh Tan Khee Giap, Wakil Direktur, Lembaga Daya Saing Asia, National University of Singapura, sebagai Chair. Sesi ini menghadirkan 4 panelis yaitu Alberto Isgut, Pejabat Hubungan Ekonomi ESCAP; Latifah Merican Cheong, Penasihat di Kantor Ketua, Komisi Keamanan dan mantan Asisten Gubernur Bank Negara Malaysia; Daisuke Hiratsuka, Wakil Presiden Eksekutif, IDE-JETRO Japan; dan Bambang Prijambodo, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembiayaan Pembangunan Kementrian PPN/Bappenas . Sesi ini juga menghadirkan Pitchaya Sirivunnabood, dari Sekretariat ASEAN dan Reza Yamora Siregar, Kepala dan Pimpinan Ekonom AMRO yang memberikan pandangan terhadap isu terkait. Sesi ini kemudian diakhiri dengan diskusi terbuka.
Sesi Rountable Discussion: Memikirkan Kembali Kebijakan Ekonomi Makro untuk Pertumbuhan yang Berkesinambungan dan Inklusif di Asia Timur
Sesi ini membahas isu mengenai akan negara-negara asia timur terus bergerak maju sebagai mesin pertumbuhan dunia dan bagaimana kerjasama ekonomi regional dapat ditingkatkan untuk tujuan ini; mengingat kawasan memperbaharui fokus pada pertumbuhan yang adil, bagaimana mungkin kebijakan makroekonomi harus dirancang lebih baik dan dilaksanakan untuk mendukung proses pertumbuhan menjadi lebih inklusif; dan apakah area lain dari kebijakan ekonomi makro di mana pemikiran ulang dan reorientasi akan diperlukan mengingat lingkungan ekonomi global saat ini, khususnya "new normal" pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dan peningkatan volatilitas di pasar keuangan dan komoditas. Sesi ini dipimpin oleh Adrianus Mooy, Mantan Gubernur Bank Indonesia dan Mantan Sekretaris Eksekutif ESCAP, sebagai Chair dan Lead Presentation oleh Anis Chowdhury, Direktur Divisi Kebijakan Ekonomi Makro dan Pembangunan, ESCAP. Diskusi ini diikuti oleh Panelis-panelis dari sesi-sesi sebelumnya dan para peserta acara dialog ini.
Dialog kebijakan tingkat tinggi ini kemudian ditutup oleh Robert Pakpahan, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan RI (mi/ds)


