Indonesian Ministry of Finance - Japan Bank for International Cooperation Financial Policy Dialogue Meeting

            Jakarta(13/01): Kementerian Keuangan, melalui Badan Kebijakan Fiskal (BKF), mewakili Pemerintah Republik Indonesia menggelar Financial Policy Dialogue Meeting bersama Japan Bank for International Cooperation (JBIC), pada tanggal 13 Januari 2015. Dialogue Meeting yang bertajuk  “The Indonesian Economy 2015-Prospects and Challenges” ini diselenggarakan di Aula Nusantara, Gedung Radius Prawiro, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan. 

            Acara yang dipimpin oleh Luky Alfirman (Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF) selaku chair ini dibuka dengan opening remarks dari Zenko Shinoyama (Director General, Country Credit Department, JBIC). Shinoyama memaparkan dalam remarks-nya yang berjudul “Macro Prudence and Risk Management”, pandangan-pandangan JBIC tentang kondisi makro ekonomi dan dinamika politik di Indonesia. Menurut Shinoyama, Indonesia memiliki prospek yang baik dalam hal pertumbuhan ekonomi yang stabil, pembangunan infrastruktur, peningkatan jumlah investasi dan simpanan serta kondisi sektor industri yang kompetitif. Namun di lain pihak, Indonesia menghadapi tantangan yang besar antara lain dalam hal penguatan kapasitas administrasi pemerintah, pendalaman pasar investasi dan sektor keuangan serta tantangan dari luar akibat dimulainya inisiatif Masyarakat Ekonomi ASEAN.

            Sesi selanjutnya membahas prospek ekonomi baik global maupun regional, diisi dengan paparan dari Etsuaki Yoshida (Director, Country Credit Department, JBIC) yang ditutup oleh komentar dari Ashley Taylor (Senior Economist, World Bank). Dalam paparannya, Yoshida menyampaikan berbagai kondisi yang akan melatarbelakangi kondisi perekonomian global pada tahun 2015. Yoshida juga menyampaikan hal-hal yang menurut JBIC, berdasarkan berbagai hasil survey internasional, akan menjadi faktor-faktor dominan dalam perekonomian internasional yaitu harga saham/obligasi, penetrasi barang dan jasa ke China, volume ekspor, nilai tukar dan harga minyak.

            Kondisi moneter Indonesia juga dibahas pada acara yang dikemas dalam bentuk workshop ini oleh Solikin M. Juhro (Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia) dengan diakhiri opini dan penjelasan komplementer dari Anton Gunawan (Komisaris Independen, Bank Mandiri) dan Fauzi Ichsan (Managing Director, Standard Chartered Bank). Solikin menyampaikan paparan yang mencakup kebijakan-kebijakan moneter Indonesia serta inisiatif-inisiatif otoritas moneter Indonesia di bawah tekanan-tekanan moderat di perekonomian global.

            Sesi terakhir dari acara ini diisi oleh Rofyanto Kurniawan (Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, BKF) dengan paparan mengenai kebijakan fiskal Pemerintah Indonesia  dan agenda pemerintahan baru Indonesia di tahun 2015. Senada dengan narasumber sebelumnya, Rofyanto menyampaikan risiko-risiko yang dihadapi pemerintah Indonesia antara lain ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global, tekanan pada ekonomi negara-negara berkembang serta lemahnya pasar komoditas saat ini. Namun, lanjut Rofyanto, Indonesia mempunyai pengalaman pertumbuhan ekonomi yang sehat di kala kondisi perekonomian global sedang lesu, sehingga pemerintah tetap optimis perekonomian Indonesia akan mampu bersaing di tahun 2015. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan diakhiri dengan closing remarks dari chair, Luky Alfirman. (kspa/mi/ar)