Workshop on Fiscal Reform to Support and Equitable Growth
Jakarta (7/12): Dalam rangka persiapan seminar internasional kebijakan fiskal dengan tema “Fiscal Reform to Support and Equitable Growth” tanggal 10 dan 11 November 2015, Badan Kebijakan Fiskal menggelar workshop untuk menggali materi seminar yang akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali. Acara yang berlangsung di Grand Hyatt Hotel, Jakarta ini diawali dengan opening remarks dari Suahasil Nazara, Kepala Badan Kebijakan Fiskal. Dalam sambutannya, Suahasil mengatakan bila APBN 2015 Indonesia telah mengalami transformasi yang cukup besar. Pada postur pendapatan, penerimaan negara yang semula bergantung dari sumber daya alam, diubah ke penerimaan yang bersumber dari perpajakan. Lebih lanjut Suahasil menjelaskan, bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menggenjot penerimaan negara yang salah satunya adalah melakukan transformasi perpajakan dengan memberikan insentif pajak dan memperbaiki administrasi perpajakan yang ada di Indonesia.
Di sisi pengeluaran, alokasi Pemerintah untuk belanja pada sektor strategis seperti infrastruktur lebih besar dibandingkan dengan belanja subsidi. Pemerintah pun sudah menargetkan investasi untuk belanja infrastruktur sebesar lima ribu triliun rupiah. Ini akan menjadi tantangan pemerintah dalam rangka memenuhi target yang telah ditetapkan dalam lima tahun ke depan. Selain pengalihan belanja ke sektor yang lebih produktif, Pemerintah juga akan mengubah pola belanja subsidi yang semula memberikan subsidi berbasis barang (goods based subsidy) menjadi subsidi langsung kepada konsumen tertentu (targeted subsidy), dalam hal ini masyarakat miskin dan hampir miskin.
Transformasi ketiga dalam APBN Indonesia sesuai dengan yang dikemukakan Suahasil yaitu pada postur pembiayaan berkelanjutan. Ia berharap agar pembiayaan yang berasal dari pembiayaan kerjasama bilateral dan multilateral dapat dioptimalkan. “As long as Indonesia is still eligible for bilateral and multilateral, we think that we must make the best use of the bilateral and multilateral financing, so we must activate it” ungkapnya.
Workshop terbagi dalam empat sesi, dimana sesi pertama membahas tentang ekonomi global dan transformasi fiskal yang kemudian dilanjutkan dengan sesi khusus membahas penerimaan, belanja dan pembiayaan pembangunan ekonomi. Hadir sebagai pembicara, Parjiono, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro; Astera Primanto Bakti, Staff Ahli Menteri Bidang Penerimaan Negara, Kementerian Keuangan; Sidqy L.P Suyitno, Direktur Keuangan Negara dan Analisis Moneter, Bappenas; dan Edi Susianto, Direktur Program Financial Deepening, Bank Indonesia. (is/aam)




