Kepala BKF Bagikan Kondisi Terkini Makroekonomi Indonesia

Jakarta (20/04): Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menggelar Indonesia Macroeconomic Update secara virtual pada hari Senin, (22/4) dengan Kepala BKF Febrio Nathan Kacaribu dan Kepala Ekonom BCA David Sumual sebagai narasumbernya. Pada kesempatannya, Febrio membagikan paparan tentang perkembangan Covid-19, kondisi makroekonomi Indonesia dan kebijakan luar biasa pemerintah dalam menghadapi pandemi ini. 

“Saat ini merupakan masa yang sulit sehingga penting bagi pemerintah untuk mengkomunikasikan secara reguler pandangan-pandangan kami sehingga masyarakat lebih ter-update agar bisa bersama-sama mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Harapannya kita bisa melalui masa sulit ini bersama,” tutur Febrio. 

Dalam dialog yang dimoderatori oleh wakil pemimpin redaksi Metro TV Kania Sutisnawinata ini, Febrio mengungkapkan bahwa penyebaran Covid-19 masih mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Saat ini tercatat sudah ada lebih dari dari 2 juta kasus di seluruh dunia dan perekonomian dunia diperkirakan akan mengalami kontraksi yang sangat dalam pada tahun 2020 ini. Untuk Indonesia, pemerintah menggunakan 2,3% sebagai angka acuan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 yang masih tetap disertai ketidakpastian. Pada tahun 2021, Indonesia diperkirakan akan reboundnamun semua tergantung seberapa dalam krisis yang akan kita hadapi di 2020.

“Kita berharap segala kebijakan dan kolaborasi  pemerintah dengan sektor swasta serta masyarakat dapat mengupayakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tidak lebih rendah dari 2,3% di tahun 2020,” ujar Febrio.

Di sisi lain, Febrio menyampaikan bahwa tekanan di pasar keuangan domestik mulai mereda, antara lain didukung oleh langkah extraordinaryglobal dan Indonesia dalam menangani pandemi. Langkah extraordinarydimaksud adalah seperti dikeluarkannya stimulus ekonomi 1, 2 dan 3. 

 

“Kalau kita hitung, stimulus yang diberikan pemerintah ini besarnya sekitar 2,5% dari PDB, mirip dengan apa yang dilakukan di banyak negara,” pungkas Febrio. 

Sementara itu, David, yang mewakili sektor perbankan, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini memiliki kriteria yang berbeda dengan krisis keuangan dunia tahun 2008. Krisis tahun 2008 merupakan krisis keuangan dan perbankan, sedangkan yang terjadi saat ini disebabkan oleh supply disruptionsertademand and financial shock.David menegaskan bahwa kondisi perbankan Indonesia masih kuat. 

“Kita menjadi salah satu negara yang rasio kecukupan modalnya sangat tinggi dibanding negara-negara emerging market,” kata David.

David juga menghargai upaya pemerintah yang bergerak cepat dalam merespons dampak Covid-19 ini dengan mengeluarkan Perpu no 1 Tahun 2020. 

“Sekarang yang terpenting adalah bagaimana percepatan dalam melakukan implementasi supaya demand shock ini tidak berdampak buruk pada masyarakat secara keseluruhan,” ujar David menegaskan.

Menutup acara, Febrio mengajak otoritas lain selain pemerintah, sektor perbankan serta pengusaha agar siap berbagi bebanuntuk bersama-sama melawan krisis akibat Covid-19. (cs)