Pandemi Mengakselerasi Adopsi Teknologi di Berbagai Sektor
Jakarta (03/12): Board’s Session dengan tema Attracting Investment on Indonesia’s Hidden Gem, menjadi agenda pembuka pada hari terakhir the 10th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED). Sesi ini bertujuan untuk mendengar pandangan pelaku pasar terhadap perekonomian, terutama dalam kaitannya dengan bagaimana investor melihat perubahan isu dan tren pasca pandemi mempengaruhi perekonomian dan dunia usaha. Board’s session kali ini menghadirkan Roderick Purwana, Managing Partner dari East Ventures, yang merupakan perusahan venture yang berbasis di Indonesia.
“Pandemi menjadi training ground bagi pelaku usaha untuk menghadapi tantangan ketidakpastian. Namun di lain sisi, pandemi juga telah mengakselerasi adopsi teknologi pada berbagai sektor seperti sektor pendidikan, kesehatan, dan juga e-commerce,” ujar Roderick.
Roderick menambahkan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi baru pasca pandemi, e-commerce dan UMKM diperkirakan akan menjadi salah satu kekuatan utama bagi perekonomian Indonesia di masa mendatang. Pemerintah juga dinilai telah cukup suportif dalam mendukung UMKM, salah satunya dengan mendorong transformasi ekonomi terutama dalam masa pemulihan ekonomi. Lebih lanjut, Environmental, Social, Governance (ESG) akan menjadi salah satu faktor penting yang krusial dalam keputusan investasi kedepannya.
Acara dilanjutkan dengan sesi Place 5: Developing Livable and Productive Regions. Sesi ini diawali oleh Srinivas Sampath (ADB) yang memaparkan tentang tantangan yang dihadapi oleh area perkotaan di Asia Pasifik dan isu sustainabilitas.
Srinivas menjelaskan bahwa seiring dengan pertumbuhan populasi, densitas populasi di perkotaan terus meningkat dan menimbulkan berbagai kesempatan sekaligus tantangan. Ada tiga aspek penting agar perkotaan menjadi daerah yang livable dan sustainable terutama dalam hubungannya dengan infrastruktur, yaitu (i) meningkatkan cakupan, kualitas, efisiensi dan keandalan layanan, (ii) memperkuat rancangan perkotaan dan pendanaan yang berkelanjutan, serta (iii) memperbaiki lingkungan, ketahanan iklim, dan manajemen risiko atas bencana.
“Pandemi juga turut berdampak pada isu pemukiman di perkotaan karena Covid-19 memberikan pukulan besar terutama pada area dengan densitas yang tinggi. Untuk itu penting untuk mengembangkan kota yang lebih berdaya tahan di masa mendatang, terutama untuk menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul seperti perubahan iklim,” tutur Srinivas.
Selanjutnya, Henri Blas dari Global Infrastructure Hub (GI Hub) mengawali paparannya dengan menjelaskan mengenai GI Hub dan prioritas infrastruktur dalam forum G20. GI Hub menemukan bahwa berbagai negara mulai melakukan transformasi ke arah perekonomian yang sustainable dan resilience, dan juga mempertimbangan elemen ekonomi sirkular. Dalam hubungannya dengan ekonomi sirkular, perencanaan infrastruktur memegang peranan penting mengingat lebih dari 50% emisi karbon disumbang oleh infrastruktur.
Lebih lanjut pada sesi Place 6: Regional Development in Boosting Aggregate Growth: Indonesia Case, Yogi Vidyattama (Associate Professor, University of Canberra) menyampaikan paparan terkait isu pembangunan daerah, aglomerasi dan tantangan pembangunan di Indonesia. Yogi mengungkapkan bahwa pertumbuhan masih berpusat di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Timur, sementara daerah di sekitarnya masih belum cukup berkembang. Menyadari bahwa setiap daerah memiliki kebutuhan yang berbeda, pemerintah perlu melihat secara komperhensif dalam menciptakan kebijakan.
“Hal paling utama setidaknya adalah meminimalisir dampak negatif dari urbanisasi, peningkatan sumber daya manusia, serta perbaikan infrastruktur dan digitalisasi,” jelas Yogi.
Sementara itu, narasumber lainnya yaitu Prof. Budy P. Resosudarmo (Professor Arndt-Corden Departemen of Economics, Crawford School of Public Policy, ANU), memaparkan unsur utama dalam tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs sebagai sebuah pondasi dalam melaksanakan pembangunan daerah yang berkelanjutan di Indonesia. Terakhir, Andono Mulyo (Director of Spatial Planning and Disaster Management, Bappenas memaparkan tentang apa yang sudah dilakukan atau akan dilakukan pemerintah dalam mengembangkan kebijakan berbasis kawasan dalam mendukung pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Transformasi tidak hanya dilakukan dari sisi ekonomi, namun juga sosial budaya. Jika merujuk pada agenda tersebut, diharapkan Indonesia akan mampu keluar dari middle income trap pada 2036,” tutur Andono. (cs)