Sukuk Ritel Dipastikan Dahului ORI006

Jakarta, Kompas - Penerbitan obligasi pemerintah berbasis syariah, atau sukuk ritel perdana, dipastikan mendahului obligasi negara konvensional atau ORI006. Penerbitan sukuk ritel perdana dijadwalkan akhir semester I-2009.

”Sukuk ritel kami terbitkan di semester I-2009, sedangkan ORI006 di semester II-2009. Bulan penerbitannya akan kami tentukan kemudian,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan (Depkeu) Rahmat Waluyanto, Sabtu (6/9) di Jakarta.

Sukuk ritel kemungkinan diterbitkan persis seperti ORI, yakni, antara lain, dilepas dengan harga per unit relatif rendah, yaitu Rp 1 juta dengan minimal pembelian lima unit atau Rp 5 juta per investor.

Menurut Rahmat, sebagai instrumen investasi baru, sukuk ritel membutuhkan waktu yang cukup untuk disosialisasikan kepada calon investor yang terdiri atas individu atau pemilik dana terbatas. Atas pertimbangan itu, sukuk ritel diterbitkan di semester I-2009 karena di semester I biasanya aktivitas di luar penerbitan obligasi relatif sedikit dibandingkan semester II.

”Dengan demikian, di tahun depan, untuk sementara hanya ada dua penerbitan obligasi ritel, yakni sukuk dan ORI,” tuturnya.

Menurut Direktur Bank Muamalat Indonesia U Saefudin Noer, agar penerbitan sukuk ritel sukses, pemerintah harus melakukan empat hal. Empat itu adalah sosialisasi, edukasi yang insentif kepada masyarakat, memastikan akad sukuk ritel negara itu sesuai syariah atau prinsip Islam, dan memastikan aset yang menjadi basis penerbitan sukuk sudah tersedia.

Selain itu, pemerintah harus mulai mengeksplorasi akad syariah lain yang lebih menguntungkan dan aman. ”Ada banyak akad yang berpotensi menambah kekayaan negara,” kata Saefudin.

Menurut Rahmat, di masa mendatang, tidak menutup kemungkinan pemerintah menerbitkan instrumen lain khusus untuk investor individu atau ritel. Salah satu yang dipertimbangkan adalah saving bond, sejenis obligasi ritel yang tidak diperdagangkan.

Hal lain yang juga sedang dipertimbangkan adalah mengurangi peran agen penjual dalam memasarkan dan mendistribusikan obligasi ritel.

Sebagai penggantinya, pemerintah menggunakan seluruh jaringan kantor wilayah di lingkungan Departemen Keuangan untuk menyosialisasikan, memasarkan, dan mendistribusikan obligasi ritel ke calon investor dengan mengembangkan sistem pembelian obligasi ritel melalui anjungan tunai mandiri (ATM).

Dengan demikian, calon investor bisa membeli ORI atau sukuk ritel selama 24 jam. ”Tetapi, 2009 masih akan menggunakan agen penjual,” ujar Rahmat.