BUMN : Sebuah Cerita Kebangkitan
Seputar Indonesia : MINGGU yang lalu saya menulis sebuah cerita tentang Garuda berdasarkan pengalaman langsung yang saya alami.Pengalaman tersebut membuat saya berpikir untuk melihat gambar yang lebih luas mengenai keberadaan BUMN kita.
Meskipun mungkin agak ”bias” oleh optimisme yang senantiasa saya kembangkan,secara objektif memang tampak adanya kebangkitan BUMN tersebut.
Serial Kebangkitan BUMN
Bank Mandiri adalah sebuah bank BUMN yang merupakan hasil merger dari empat buah bank pemerintah sebelumnya, yaitu Bank BDN, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bapindo. Bank yang merupakan merger dari bank-bank bermasalah tersebut pada akhirnya mampu mengatasi problem masa balita (teething problems) dan akhirnya mampu menjadi bank yang sungguh-sungguh disegani.
Bank Mandiri dewasa ini merupakan bank yang terbesar dari sisi aktiva dan terus memperkuat diri dengan teknologi maupun ”delivery channels” lainnya. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia atau BRI juga menunjukkan perkembangan yang luar biasa dengan kekuatan dari bisnis mikro mereka yang ditopang penuh sekitar 4.000-an BRI Unit.
Bank Negara Indonesia 1946 atau Bank BNI, semula merupakan bank terbesar di Tanah Air, dewasa ini berkembang sebagai bank keempat terbesar di Indonesia. Bank Tabungan Negara atau BTN pun juga tumbuh berkembang sebagai bank dengan spesialisasi bidang perumahan. Dengan ditambah Bank Ekspor Indonesia,bank-bank BUMN tersebut mampu menunjukkan keperkasaan mereka di tengah kompetisi bank-bank swasta dan bahkan bank-bank asing. Bankbank tersebut merupakan testimoni dari cerita bangkitnya BUMN di Indonesia.
Selain perbankan,BUMN di Indonesia yang berkembang karena kompetisi asing lainnya adalah Pertamina. Masuknya perusahaan ritel di bidang migas seperti Shell, Petronas, dan perusahaan lainnya pada akhirnya menggugah perusahaan tersebut untuk memperkuat diri mereka. Alih-alih berlindung dalam proteksi yang lebih kuat, Pertamina akhirnya melakukan transformasi bisnis, memperkuat ”branding”mereka dan memunculkan jaringan SPBU yang memiliki nuansa baru melalui apa yang dikenal sebagai Pertamina Way.
Kuatnya budaya baru yang diterapkan perusahaan tersebut mulai terasa di lapangan. Pompa bensin di Ciawi, misalnya, memiliki toilet yang bersih dan disediakan gratis, mampu bersaing dengan toilet ”VIP”(komersial) yang persis berada di halaman yang sama. Prasarana semacam ini mampu membantu membangun citra bagi jaringan SPBU semacam itu di masa-masa mendatang.
Minggu yang lalu, saya menulis tentang keberhasilan Garuda dalam melakukan penetrasi pasar di Australia dengan menjaring penumpang negara tersebut, yang bahkan menjadi mayoritas dalam penerbangan yang saya naiki. (Karena tulisan tersebut, saya mencoba untuk menelusuri ”website” tentang Garuda dan akhirnya menemukan banyak testimoni dari penumpang asing yang memuji penerbangan Garuda yang dikatakan murah, tetapi berkualitas sangat baik.) Perusahaan penerbangan tersebut mampu pula bersaing di dalam negeri,bahkan dengan melakukan ”premium pricing” dengan menempatkan diri sebagai perusahaan penerbangan yang disegani.
Kerja keras dan ketekunan membangun citra semacam ini akhirnya berbuah dalam bentuk keuangan yang lebih baik. Perusahaan yang semula mengalami kerugian yang akut, akhirnya mulai menunjukkan keberhasilannya dalam mencetak laba. Cerita-cerita semacam ini terus berlanjut. PT Semen Gresik, dengan anak perusahaan Semen Tonasa dan Semen Padang, dewasa ini menunjukkan kinerja yang semakin baik, dan mampu bersaing secara fair dengan perusahaan semen dunia seperti Holcim dan Heidelberger.
Dalam dialog saya dengan komisaris utama dan direksi PT Krakatau Steel beberapa waktu yang lalu, saya meyakini adanya upaya melakukan ”turn around” dalam perusahaan tersebut, sehingga mereka bertekad untuk mengembangkan industri baja tersebut tanpa harus bermitra dengan perusahaan baja dunia. Jasa Marga, misalnya, mampu pula menempatkan diri sebagai perusahaan jalan tol yang disegani.
Kinerja mereka nantinya akan dibandingkan dengan perusahaan tol dari negara tetangga, yaitu PLUS, yang dewasa ini mengembangkan jalan tol Cikampek–Palimanan. Persaingan semacam ini pada akhirnya akan memacu mereka untuk memperbaiki diri sehingga ujung-ujungnya justru akan memperkuat kinerja perusahaan tersebut. PT Aneka Tambang merupakan contoh lain keberhasilan BUMN di sektor pertambangan. Perusahaan tersebut, yang terpacu oleh kenaikan harga nikel, mampu menghasilkan laba yang besar pada 2007.
Membangun BUMN yang Kuat
BUMN yang kuat pada akhirnya merupakan sumbangan yang besar bagi perekonomian Indonesia. Keberadaan perbankan BUMN yang kuat, misalnya, memungkinkan berkembangnya pembiayaan kepada dunia usaha sehingga memungkinkan dilakukannya investasi oleh berbagai perusahaan tersebut.
Inilah yang pada akhirnya menjadikan bank-bank tersebut sebagai ”agen pembangunan” karena mampu menjadikan diri mereka sebagai katalis dalam pembangunan nasional. Berkaca pada hasil ekspor Indonesia yang meningkat tajam tahun-tahun terakhir ini,serta melihat kepada pertumbuhan ekonomi yang mengalami peningkatan, maka peranan berbagai perusahaan BUMN tersebut tidaklah mungkin diabaikan.
Oleh karena itu, pemerintah memang diharapkan dapat melanjutkan misi pengembangan berbagai bisnis yang dimiliki pemerintah tersebut dengan mendorong transparansi yang lebih besar dalam kegiatan bisnis mereka. Niat Pertamina dalam menjadikan diri mereka sebagai ”public company” tanpa melakukan IPO merupakan suatu langkah yang patut dihargai, karena dengan demikian akan diperoleh transparansi yang lebih besar pada perusahaan yang semula dianggap tertutup tersebut.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya,langkah tersebut telah pula didahului transformasi bisnis yang mampu meningkatkan citra mereka (dengan Pertamina Way), sebagaimana tampak secara visual melalui jaringan SPBU mereka, sistem pemesanan bensin yang dilakukan secara online (antara lain BCA membantu dalam sistem tersebut dengan Klik BCAnya).
Dengan demikian, transparansi yang ingin ditampilkan oleh perusahaan tersebut, dilakukan setelah berbagai ”prasyarat awal” dipenuhi. Dalam kaitan ini,Kementerian Negara BUMN layak memperoleh penghargaan dalam pengembangan bisnis perusahaan mereka. Meski demikian, di era persaingan global dewasa ini, upaya untuk terus memperkuat BUMN tersebut perlu terus dilakukan.
Berbagai langkah untuk melakukan IPO perlu dilakukan secara konsisten dan dengan disiplin yang tinggi untuk memberikan kepastian bagi pelaksana di BUMN yang terkait. Oleh karena itu, perencanaan yang matang tentang berbagai tahapan yang diperlukan bagi pengembangan BUMN tersebut harus dilakukan secara dini dan detail, sehingga memberikan gambaran yang jelas BUMN mana yang akan dilikuidasi, akan diprofitisasi dan akan diprivatisasi.
Dengan ”blueprint” semacam itu, masing-masing manajemen BUMN dapat mengembangkan bisnis mereka dalam ”constraint” yang sudah jelas bagi mereka. Semoga tahun 2015, pada saat pasar tunggal ASEAN terbentuk, BUMN Indonesia merupakan tulang punggung yang penting bagi berperannya Indonesia dalam pasar tunggal tersebut.(*)
CYRILLUS HARINOWO
Rektor ABFII Perbanas