Presiden: Jangan Panik Hadapi Gejolak Rupiah
Kompas, MINGGU - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan masyarakat tidak perlu panik dan terpengaruh yang negatif dalam menyikapi melemahnya rupiah terhadap dollar AS terkait dengan krisis keuangan global yang saat ini sedang terjadi."Masyarakat tidak perlu terpengaruh yang tidak-tidak, tidak perlu panik dan tidak perlu memborong barang yang justru membuat susah perekonomian nasional," kata Presiden saat konferensi pers ketika menyampaikan hasil KTT Pertemuan Asia-Eropa (ASEM) ke-7, di Beijing, Sabtu (25/10).
Hadir dalam jumpa pers tersebut Menkopolhukam Widodo AS, Sekab Sudi Silalahi, Menlu Hassan Wirajuda, Mendag Mari Elka Pangestu, Menkes Siti Fadilla Supari, Meneg LH Rachmat Witoelar, serta Meneg BUMN Sofyan Djalil.
Menurut Presiden, masyarakat hendaknya bersikap realistis dan berkepala dingin dalam menyikapi melemahnya nila tukar rupiah terhadap dollar AS, mengingat pemerintah selalu mengikuti situasi kondisi perekonomian dan keuangan nasional serta dunia.
"Mari kita kelola secara bersama-sama. Kalau masyarakat kurang jelas silahkan tanya pada Bank Indonesia dan pihak terkait lainnya, sehingga masyarakat tahu kondisi sesungguhnya. Pemerintah akan transparan untuk itu," kata Presiden.
Menanggapi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, Presiden menegaskan bahwa dirinya tidak bisa menanggapi gejolak pasar setiap hari. "Saya tidak bisa mengambil keputusan pada hari ini ketika terjadi gejolak pasar uang, kita perhatikan situasi terakhir dalam enam bulan terakhir," kata Presiden.
Meskipun demikian, kata Presiden, dirinya telah berpesan kepada Gubernur Bank Indonesia untuk selalu memantau dan mengambil langkah-langkah seperlunya dalam menghadapi gejolak rupiah terhadap dollar AS.
Pemerintah, katanya, perlu sangat hati-hati dalam menyikapi kondisi pelemahan dan penguatan rupiah terhadap dollar, khususnya jika dikaitkan dengan sektor ekspor dan impor. "Namun yang pasti pemerintah akan melakukan sesuatu sesuai dengan jangkauan yang kita miliki dan masyarakat sekali lagi hendaknya tidak perlu terpengaruh," kata Presiden.