Yudhoyono: Bank lambat turunkan bunga kredit

Jakarta (Bisnis.com): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai perbankan terlalu lambat menurunkan suku bunga kredit sebagai respons penurunan suku bunga BI Rate yang sudah turun pada level 7,75%.

Kepala Negara menjanjikan akan membawa masalah itu dalam rapat kabinet terbatas besok dengan para menteri terkait. BI Rate telah diturunkan dalam jumlah yang tepat, perbankan seharusnya bisa mengikuti. "Bank jangan hanya berorientasi ke dalam saja, tetapi juga ke luar sehingga maksud dari kebijakan BI bisa diikuti jajaran bank dan membawa manfaat untuk sesama," katanya saat membuka acara Sidang Dewan Pleno I Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Jakarta, hari ini.

Menurut dia, dalam batas-batas tertentu bisa memahami lambatnya respons perbankan terhadap penurunan BI Rate. Namun, lanjutnya, hal itu tidak boleh berlangsung terlalu lama karena dunia usaha dan sektor riil membutuhkan penurunan bunga kredit.

Ketua Umum BPP Hipmi Erwin Aksa, yang berpidato sebelum presiden, mendesak perbankan untuk cepat menurunkan suku bunga mengikuti kebijakan penurunan BI Rate. Dia menegaskan perbankan harus menciptakan keselarasan antara niat baik dari otoritas moneter dan implementasi di sektor perbankan, untuk membantu menggerakkan sektor riil yang tertimpa tingginya suku bunga kredit.

"Kami, para pengusaha, tidaklah mengharapkan sesuatu yang berlebihan. Perbankan tidak harus menurunkan suku bunga kreditnya di luar batas kemampuannya. Tapi, harus ada keselarasan antara kebijakan moneter dan perbankan untuk meringankan beban kami sebagai pengusaha," ungkapnya.

Selain itu, menurut dia, pengusaha terus berjuang agar tidak melakukan pemecatan terhadap karyawannya di tengah gejolak pasar yang masih belum menentu kapan berakhirnya. Untuk itu, lanjutnya, tidaklah berlebihan bila pemerintah memberikan perlindungan terhadap para pengusaha karena menyangkut nasib sekian banyak pekerja yang menggantungkan hidup dari bisnis mereka.(yn)