Seminar Crisis Management Protocol
Jakarta (30/01): Dalam menghadapi situasi perekonomian global yang penuh tantangan, kinerja ekonomi Indonesia selama tahun 2012 berjalan cukup baik dan sesuai ekspektasi. Hingga saat ini ekonomi nasional masih berjalan dengan robust dan resiliensi yang cukup tinggi, dimana salah satu indikasinya ekonomi nasional diperkirakan mampu berekspansi sebesar 6,2%-6,3% di triwulan IV-2012, sehingga selama tahun 2012 pertumbuhan ekonomi dapat mencapai sekitar 6,3%. Dengan pencapaian ini artinya dalam tiga tahun terakhir, ekonomi Indonesia selalu tumbuh di atas 6%, dan performa ini masih jauh lebih baik dibandingkan negara lain, khususnya negara-negara di kawasan Eropa atau negara-negara dengan kategori negara maju. Konsumsi domestik dan investasi menjadi fondasi utama ekonomi nasional saat ini dan mampu menjadi penyeimbang yang baik bagi pertumbuhan ekonomi ketika sisi eksternal mengalami pelemahan.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas, stabilitas ekonomi Indonesia dalam periode Januari 2012 hingga kini juga relatif terjaga yang terindikasikan dari laju inflasi kumulatif dari Januari hingga Desember 2012 masih berada dalam kisaran target yang ditetapkan. Selain itu, dapat juga kita lihat dari kinerja positif perekonomian nasional seperti: kontribusi dari pertumbuhan di sektor perbankan dan kebijakan-kebijakan yang dapat menjaga stabilitas sistem keuangan, perkembangan positif di pasar SBN dan perkembangan di Industri lembaga keuangan.
Namun demikian, disamping beberapa kemajuan, terdapat juga beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh Sistem Keuangan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, antara lain: pertama, peran asing didalam sistem keuangan Indonesia. Besarnya kepemilikan asing di pasar SBN dan pasar saham dapat meningkatkan terjadinya sudden reversal jika pasar keuangan global maupun domestik mengalami goncangan. Kedua, potensi pelebaran defisit neraca perdagangan. Ketiga, defisit APBN dan keempat adalah peningkatan utang luar negeri swasta.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, tetap optimis bahwa sistem keuangan yang sehat dan kuat serta kerangka Crisis Management Protocol yang ada dapat menjadi penopang dan instrumen mitigasi risiko bagi perekonomian nasional, sebagaimana dijelaskan oleh Bambang P.S. Brodjonegoro, Kepala Badan Kebijakan Fiskal mewakili Menteri Keuangan dalam penyampaian keynote speech pada Seminar “Protokol Manajemen Krisis: Tameng Ketahanan Lembaga Keuangan Nasional Terhadap Ancaman Krisis Ekonomi”, bertempat di Hotel Crowne Plaza yang diselenggarakan oleh Warta Ekonomi.
Dalam Keynote speech tersebut, dipaparkan juga pembentukan Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS. Terkait dengan Crisis Management Protocol (CMP), dijelaskan bahwa Protokol dalam mencegah dan menangani krisis juga telah disusun dalam suatu CMP Nasional dan sebagai pedoman dalam koordinasi pengambilan kebijakan dan tindak lanjut serta pertukaran data dan informasi dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan dan untuk menyusun CMP Nasional berdasarkan tugas dan wewenang masing-masing lembaga.
FKSSK telah melakukan berbagai langkah koordinasi dalam upaya menjaga stabilitas sistem keuangan, diantaranya: pertama, melakukan pertukaran data dan informasi baik yang dilakukan secara reguler maupun untuk kebutuhan khusus. Kedua, Pelaksanaan evaluasi, analisis umum, penyususnan rekomendasi kebijakan dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan (SSK) serta monitorning tindak lanjut yang telah ditetapkan. Ketiga, Pelaksanaan simulasi dan evaluasi serta pengembangan CMP Nasional, yang salah satunya adalah melaksanakan minisimulasi pada akhir Desember 2012. Keempat, Pengembangan kapasitas SDM bekerja sama dengan beberapa lembaga internasional untuk beberapa area pengetahuan/keahlian terkait dengan SSK yang diantaranya, pengembangan CMP dan crisis preparedness, serta sistem peringatan dini. (aam/mi)