Sosialisasi Kebijakan Fiskal pada Kunjungan Mahasiswa Universitas Tidar

Sosialisasi Kebijakan Fiskal pada Kunjungan Mahasiswa Universitas Tidar

Jakarta (04/05): Dalam rangka mendiseminasikan kebijakan kepada publik, salah satunya dalam bentuk sosialisasi kebijakan fiskal di lingkungan akademisi, pada Senin pagi Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menerima kunjungan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah di Aula Serba Guna, Gedung R.M. Notohamiprodjo Lantai 2.

Sosialisasi yang dihadiri sekitar 120 peserta yang terdiri dari mahasiswa yang didampingi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Tidar dan beberapa dosen pembimbing, dibuka dengan sambutan oleh Luky Alfirman, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) BKF yang mewakili Kepala BKF. Dalam sambutannya, Luky memberikan gambaranprofil BKF dengan menjelaskan kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan oleh BKF dalam melakukan perumusan kebijakan fiskal dan sekilas tentang materi yang akan disampaikan oleh para narasumber. BKF selalu membuka diri untuk saran dan masukan yang disampaikan dari kalangan akademisi. Luky juga menyampaikan bahwa pemerintah saat ini mempunyai fokus dalam menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Tidar, Endang Kartini Panggiarti. Dalam sambutannya, Endang menyampaikan apresiasi kepada BKF yang telah memberikan kesempatan kepada para mahasiswa didiknya untuk mendapatkan pengalaman keilmuan langsung dari ahlinya. Selain itu Endang juga mengharapkan para mahasiswanya dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dalam memperoleh ilmu terkait materi yang disajikan dalam sosialisasi kali ini.

Sosialisasi kali ini menghadirkan 2 (dua) narasumber, yaitu Bhayu Purnomo, Kepala Subbidang Lembaga Rating, PKEM BKF yang menyampaikan materi “Perkembangan Perekonomian dan Peringkat Rating Indonesia”, dan Nugraha Adi, Kepala Subbidang Forum Keuangan ASEAN, Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB) BKF yang menyampaikan materi “Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 Dalam Perspektif Kerja Sama Keuangan ASEAN”, serta dimoderatori oleh Lukas Lantip Ciptadi, Kepala Bagian Umum, Sekretariat BKF.

Narasumber pertama, Bhayu Purnomo mengawali pemaparannya dengan menyampaikan perkembangan perekonomian Indonesia yang relatif stabil dan kondusif. Saat ini risiko utama dalam perkembangan perekonomian Indonesia adalah adanya pelemahan pertumbuhan ekonomi dan volatilitas yang mengakibatkan ketidakpastian dalam perkembangan perekonomian global. Bhayu kemudian melanjutkan dengan perkembangan dan prospek perekonomian global yaitu terdapatnya risiko perbedaan arah kebijakan dan laju pertumbuhan dari berbagai negara. Bhayu juga menjelaskan kondisi di Indonesia antara lain mengenai perkembangan nilai tukar rupiah, pergerakan positif aliran modal yang membantu kenaikan IHSG, kinerja Neraca Perdagangan Indonesia tahun 2014 yang mencatatkan perbaikan, dan peringkat rating Indonesia. Bhayu melanjutkan dengan menjelaskan kebijakan fiskal jangka menengah Indonesia yang berorientasi pada stabilitas makroekonomi, perbaikan struktur anggaran, dan pemberian dukungan kepada sektor riil. Hal tersebut diimplementasikan antara lain dengan melakukan realokasi penghematan dari penghapusan subsidi BBM dan realokasi belanja untuk mencapai produktivitas yang lebih tinggi. 

Narasumber kedua, Nugraha Adi mengawali pemaparannya dengan menyampaikan penjelasan mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA adalah bentuk integrasi Ekonomi ASEAN yang direncanakan akan tercapai pada tahun 2015. Intisari dan karakteristik utama MEA adalah pasar tunggal dan basis produksi; kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi; kawasan dengan pembangunan ekonomi yang setara; dan kawasan yang terintegrasi ke dalam ekonomi global. Nugraha menekankan terkait isu dan tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam menghadapi MEA 2015 yaitu MEA dipandang akan membawa dampak positif bagi peningkatan ekspor dan aliran investasi ke Indonesia; langkah kolektif ASEAN, seperti pengembangan infrastruktur dan Financial Inclusion, sejalan dengan program reformasi ekonomi Indonesia yang selama ini aktif memainkan peran dalam mendorong proses integrasi di tingkat ASEAN; serta masalah kesiapan daya saing nasional. Dalam menghadapi MEA 2014, Pemerintah Indonesia menyiapkan respon kebijakan yang berkaitan dengan Pengembangan Industri Nasional, Pengembangan Infrastruktur, Pengembangan Logistik, Pengembangan Investasi, dan Pengembangan Perdagangan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang merupakan bagian akhir dari sosialisasi ini. Para peserta sangat antusias terhadap acara sosialisasi ini. Hal ini terbukti dengan banyaknya pertanyaan mahasiswa kepada para narasumber antara lain mengenai kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA. Selain itu ada juga pertanyaan mengenai kriteria yang menjadi dasar bagi investor untuk berinvestasi di suatu negara. Sosialisasi akhirnya ditutup dengan tukar-menukar cendera mata antara perwakilan BKF dengan perwakilan Universitas Tidar.(mi/gh/ar)