UMKM Dapat Berdampak Signifikan Jika Dikelola Lebih Profesional
Jakarta, (4/8): Pada hari terakhir WIEF ke-12, sesi panel diskusi membahas tentang peran UMKM terhadap perekonomian negara. Sesi panel diskusi pertama pada hari terakhir bertemakan “restructuring SME’s and improving credit access” dengan narasumber Thione Niang, Adnan Chilwan, Peniel Uliwa. Sesi diawali dengan keynote address dari Tanri Abeng, Presiden Komisaris, PT. Pertamina.
Dalam sambutannya Tanri mengatakan bahwa wirausaha atau pelaku bisnis memiliki kontribusi cukup besar terhadap kekayaan negara. “Kekayaan negara dihasilkan dari bisnis. Jadi bisnis yang dijalankan mulai dari produksi, distribusi, tenaga kerja, dan pembayaran pajak berkontribusi pada peningkatan kekayaan negara” ujar Tanri. Namun demikian, bisnis juga harus memiliki institusi atau lembaga agar dapat memberikan dampak maksimal pada kekayaan negara. Menurut Tanri, salah satunya adalah institusi untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
UMKM memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi jika UMKM dikelola dengan tepat dengan menerapkan prinsip manajamen usaha yang baik atau yang ia sebut BUMRA (Badan Usaha Milik Rakyat). Ia melanjutkan, jika UMKM dibentuk menjadi lembaga yang lebih professional baik dari sisi manajamen, proses bisnis, dan tenaga kerjanya maka UMKM tersebut akan dapat bersaing dengan usaha lain dan tentunya lebih “bankable”. Pada akhirnya UMKM dapat berdampak signifikan pada peningkatan kekayaan negara.
Setelah sesi diskusi pertama, acara dilanjutkan dengan panel diskusi kedua yang bertema “SMEs in a world of digitized trade” dengan moderator Elias Schulze dan narasumber Eddy Lee, Ridzki Kramadibrata, serta Philip Glickman. Panel diskusi terakhir membahas tentang “upgrading Indonesian micro-business in market access and funding” dengan dipandu oleh Hermawan Kertajaya dengan narasumber James Digby, Atef Elshabrawy, dan Sandiaga Uno. (is/pg/as)


