Growlab Ajak Generasi Muda Memahami Proses Perumusan Kebijakan Publik
Jakarta, (11/07/2026) — Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan berkolaborasi dengan Career Class menyelenggarakan kegiatan Growlab: “Stimulate to Elevate” (11/07) di Gedung R.M. Notohamiprodjo, Kementerian Keuangan. Melalui sesi talk show dan kelas simulasi, peserta diajak mengenal proses penyusunan kebijakan publik serta dampaknya terhadap berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini bertujuan membantu peserta memahami keterkaitan antara kebijakan pemerintah, aktivitas sektoral, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi. Materi yang disampaikan mencakup konsep Produk Domestik Bruto (PDB), PDB sektoral, Tabel Input-Output, efek pengganda output, nilai tambah, kesempatan kerja, serta peran kebijakan fiskal dalam menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan, dan memperluas akses layanan publik.
Direktur Strategi Produktivitas dan Pertumbuhan Ekonomi DJSEF, Andriansyah, menjelaskan bahwa kebijakan publik merupakan keputusan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan dalam rangka menyelesaikan permasalahan dan mencapai tujuan tertentu. Kebijakan tersebut hadir dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi, fiskal, pendidikan, transportasi, hingga perlindungan sosial.
Peserta juga diperkenalkan pada siklus kebijakan yang mencakup identifikasi masalah, perumusan tujuan, pemilihan intervensi dan instrumen, implementasi, monitoring, serta penyesuaian.
“Kebijakan merupakan sebuah siklus. Setelah diimplementasikan, kebijakan perlu dimonitor untuk melihat apakah pelaksanaannya telah sesuai dengan tujuan awal. Apabila terdapat perkembangan atau dampak yang belum diperhitungkan, kebijakan perlu disesuaikan agar tetap efektif,” ujar Andriansyah.
Dalam perumusannya, kebijakan perlu didukung oleh data, analisis, serta pertimbangan terhadap kondisi fiskal dan kepentingan berbagai pihak. Pemerintah juga perlu memperhitungkan dampak langsung maupun tidak langsung dari suatu kebijakan, termasuk potensi munculnya dampak yang tidak direncanakan dan memerlukan langkah mitigasi lebih lanjut.
“Generasi muda jangan hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga perlu menjadi subjek yang aktif. Kritik dan masukan akan lebih berkualitas apabila disampaikan dengan memahami permasalahan, tujuan, serta proses yang melatarbelakangi suatu kebijakan,” tambah Andriansyah.
Melalui Growlab, DJSEF mengajak generasi muda menerapkan semangat learn, relearn, and unlearn, yakni terus belajar, memperbarui pemahaman, serta meninggalkan persepsi yang tidak lagi relevan. Sikap terbuka, rasa ingin tahu, dan kemauan mendengarkan berbagai perspektif diharapkan dapat memperkuat partisipasi generasi muda dalam mendukung proses kebijakan publik yang inklusif dan berkelanjutan. (dr/dhr/mdf/fms)







